Sehari di Bali..

Minggu lalu, saya kembali tersenyum, berbahagia, sepenuh hati, sepenuh jiwa raga. Hehehe. *drama*

Dua belas Januari. Saya berangkat. Bali. 🙂

Perjalanan dimulai dengan tawa saya, “Tam, you bring suitcase???”, wajah saya pias melihat bawaan Tamie, salah satu teman seperjalanan saya kali ini. Ini anak gimana, harus menyebrang pulau naik kapal kecil kok ya dia nekat amat bawa koper beroda. Hahaha. “Ga cukup Le..”, jawabnya. Oh baiklah. Kami pun melenggang masuk.

Pesawat terlambat berangkat sekitar 10menit. Saya tertidur cukup pulas. Sekitar pukul 9 kami sampai. Ngurah Rai. Tersenyum. Hai Bali. Saya menyambangimu (lagi). 🙂

Perjalanan saya kali ini sesungguhnya tidak hanya berdua dengan Tamie. Ada Silka, Onya, Linda, dan juga Thera. Tapi mereka sudah berangkat terlebih dahulu tanggal Tujuh Januari, sementara saya dan Tamie menyusul. Saat pertemuan membicarakan akan kemana saja, saya tdk bisa hadir. Saya memenuhi konsekuensi dengan berkata, saya akan patuh pd itinerary yang mereka buat. Dan ya, saya patuh kok. 🙂 Menurut itinerary, saya hanya satu hari satu malam di Bali. Rabu saya sampai, Kamis kami akan menyeberang ke Lombok. Saya sempat bengong. SATU HARI? Hahaha. Pasrah. Hihihi.

Tak berapa lama menunggu, teman2 saya menjemput. Berenam kami berbagi kehangatan di dalam sebuah mobil Suzuki Karimun. Pasar Ubud adalah tujuan utama. Beberapa ingin membeli oleh2. Saya sendiri bukan tipe pembeli oleh2 (maaf), tapi kalau ada yang minta dibawakan sesuatu, saya pasti mengusahakannya. Saya berniat membeli oleh2 utk sebagian besar teman dan keluarga di sini, lalu mengirimkannya via kurir ke Jakarta. Pinter ya saya. Hehehe. Daripada ransel saya berat, marilah menggunakan TIKI saja. Hehehe.

Selesai berbelanja, kami bergerak menuju Sari Organik. Sebuah restoran yang menyajikan makanan dengan bahan baku organik dan berada di tengah sawah. Sang Karimun diparkir di bawah, dan kami berjalan kaki 800meter melalui jalan kecil menuju ke Sari Organik ini. Bali panas. Tapi terbayarkan. Makanan enak. Pramuniaga ramah. Mau berlama-lama pun tak apa. Bahkan Jagawa, sang Kintamani, ikut menemani kami. 🙂

Kami menghabiskan siang-sore kami di restoran ini. Setelah itu kami kembali ke Ubud Kota arah ke hutan kera untuk mencari travel yang dapat mengangkut kami menyeberang ke Lombok keesokan harinya. Pilihan dijatuhkan ke travel Perama. Dan kami semua puas dengan pilihan ini. 🙂

Malamnya, kami makan bersama di Bebek Bengil. Gratis. Dijamu oleh papa mamanya Thera yang ditodong Thera untuk menraktir kami berlima + Mas Yoko (kakak kelas kami yang tinggal di Bali) + Cia (adek kelas kami yang ternyata jg sdg di Bali), dan + Kaka (teman dari jurusan Sastra Indonesia yang sdg bersama Cia). Hahaha.

Malam itu, teman2 saya kembali ke kosan Iin (teman saya juga, alasan utama sesungguhnya kenapa kami ke Bali) di Renon. Sementara saya diculik Mas Yoko. Hehehe.

Malam ini indah
Penuh dengan rasa
Yang slalu menghiasi sudut kota
 
Malam ini indah
Penuh dengan warna
Yang slalu menghiasi sudut kota
 
*kayaknya kutipannya salah, tapi yasudalahyaaaaa..lagu lama juga, uda agak lupa..hehehe
Senyum dulu ah.. 🙂
Advertisements