[Tidak] Tersesat di Gili Meno..

(Masih) Tiga Belas Januari..Gili Meno, Lombok..Tidak, kami tidak tersesat.. 🙂

Berjalan pelan dan santai, kami mencari penginapan. Pilihan dijatuhkan ke KonTiki. Kami memasukinya.

“Bu, ada tamu..” sahut seorang abang ke seorang ibu yang sedang berada di dapur. Ibu itu keluar dan berseru “Lho mbaknya ini orang Indonesia kok kamu takut. Mbaknya bisa Bahasa Indonesia kok..” Kami bengong. Bingung menangkap maksudnya. Tapi malamnya, kami tau.. 🙂

Melihat kamar yang ditawarkan, akhirnya pilihan jatuh ke sebuah rumah tingkat. Satu lantai satu kamar. Kami memakai satu rumah secara penuh. Onya dan Tamie akan menempati kamar bawah sedangkan saya, Silka, dan Linda akan menempati kamar atas. Di kamar atas, ada dua tempat tidur. Satu berukuran besar dan satunya lagi kecil. Linda langsung menempati tempat tidur yang kecil. Saya dan Silka akan berbulan madu di tempat tidur besar. Kenapa bulan madu? Ya karena tempat tidurnya aja romantis sekali. Dengan kain penutup putih menjuntai. Aha. Saya dan Silka, cengengesan berdua. 😀

Di luar kamar, ada teras. Di teras bawah hanya ada kursi tapi di teras atas ada amben. Apa ya Bahasa Indonesia amben? Ya itulah pokoknya ya, tempat berbaring dr kayu itu. *desperate* Saya menghabiskan sekitar 30menit di amben itu. Mengumpulkan nyawa saya kembali dan meredakan gemetar yang saya rasa sambil melihat pemandangan hijaunya pohon dan birunya pantai. Indah.

Kami sudah tak sabar menunggu esok untuk menikmati pantai. Berganti baju sebentar dan kami langsung keluar. Berjalan kaki pun tak sampai satu menit. Pantai di depan. Sengaja tak memakai sandal, kami merasakan halusnya pasir menyapu kaki. Beberapa kali kami mendekati pantai dan membiarkan air menyapa kami. Tapi lalu berlari cekikikan kayak masih takut kena basah. Hihi. Kampung bener deh. 😛 Lalu melakukan berbagai macam gaya gila bersama. Dari mulai loncat2, lalu berpegangan tangan dan berlari, lalu menyilangkan tangan dan berjalan spt Mr. Bean, lalu bergaya ala voto model. Hahaha. It was hilarious. Tawa membahana. Bersukacita.

Malam, kami makan di restoran yang menjadi satu dengan penginapan. Seorang bapak mendekati dan bertanya “Apa boleh saya bergabung di sini?” Bapak itu suami dr Ibu yang td pagi menyapa kami. Sang empunya penginapan ternyata. Kami mempersilahkan, dan obrolan mengalir panjang lebar.

Bapak bilang kami tersesat. Kami adalah wisatawan domestik pertama sejak yang terakhir di Mei 2008. Gili Meno bukan tempat yang terkenal bagi wisatawan domestik. Biasanya, kata Bapak, wisatawan domestik dan yang seumur kami, memilih Gili Trawangan karena lebih ramai. Lanjutnya, wisatawan asing yang ke Gili Meno pun jarang sekali yang anak muda, kebanyakan adalah orang2 tua. Saya tersenyum saja, dengan tegas saya menjawab “Yang salah adalah bahasanya Pak, kami tidak tersesat. Kami memang ingin ke Meno. Tidak ke Trawangan. Meno memang tujuan kami” Bapak tersenyum, sedikit kaget, tapi lalu obrolan hangat ditemani makan malam lezat pun terus bersambung..

Ya, kami tidak tersesat..
Kami adalah lima anak muda berusia dua puluh limaan yang tidak terlalu suka keramaian.. Karena apa??? 
Karena kami kece..
Hehehehe.. 
*bletak!!! disambil daun kelapa sama Silka*

Senyum dulu ah..

Advertisements