Lombok Daratan..1

Lima Belas Januari..Gili Meno ke Senggigi..Kaya..

Hari ini, terakhir kami di Gili Meno. Pagi ini, kami akan menyeberang kembali ke Senggigi. Puas di Meno? Saya sih puas. Hehehe. Makan di penginapan dan menghitung pengeluaran untuk makan. Ibu dan Bapak (panggilan utk ibu dan bapak empunya penginapan) memberi kami diskon 10% untuk makanan. Huhuy. Baiknya. 🙂 Terimakasih ya Ibu dan Bapak. 🙂

Pukul delapan lewat kami bergegas ke pelabuhan kecil di Meno. Kami akan menumpang perahu nelayan lagi. Tiketnya, sepuluh ribu per orang. 🙂 Perahu cukup penuh. Selain kami, ada bbrp warga lokal dan beberapa wisatawan asing yang juga akan ke daratan. Sekali lagi, sepanjang perjalanan saya hanya diam. Walaupun ombak tidak setinggi saat kami datang dan nahkoda kali ini sangat ciamik memilih rute ombak, saya tetap diam. Kami mampir dulu ke Gili Air, menjemput beberapa orang lagi yang ingin menyeberang. Setelah itu, kapal langsung menuju pelabuhan di Senggigi.

Sesampainya di pelabuhan, kami segera naik cidomo. Cidomo adalah kendaraan khas Lombok. Cidomo sendiri singkatan dari Cikar Dokar Motor. Cikar adalah cidomo yang tanpa atap. Dokar adalah cidomo beratap. Dan motor artinya beroda. Cidomo. Kami berlima cukup berada di satu cidomo. Perjalanan tak jauh, hanya ke tempat berkumpulnya taksi Blu*bird. Turun cidomo, kami pun naik taksi menuju ke Jalan Senggigi. Kami berhenti di sekitar tempat Perama (penyedia jasa transportasi yang kemarin mengantarkan kami ke Gili Meno). Kami bertanya ke satu hotel. Hanya tinggal satu kamar. Hmmm. Berjalan mencari hotel lain dan akhirnya mendapatkan. Ray Hotel. Satu kamar isi tiga tempat tidur 150ribu per malam. Jadi satu orang, 50rb/malam. 🙂 Saya Onya dan Linda di kamar atas, lantai tiga. Silka dan Tamie di kamar bawah, lantai dua.

Selesai beristirahat sebentar dan mengobrol, kami berencana menyewa mobil untuk berjalan-jalan di daratan Lombok ini. Tangan saya sakit, sepertinya tennis elbow saya kambuh. Maka saya sibuk mencari Neur*bion. Hehehe. Ternyata tak ada, adanya Red*xon saja. Yasudah tak apa. Semoga bisa meminimalisir sakit saya. 🙂 Ketika kami berjalan menuju supermarket, seorang polisi menyapa kami.

“Halo mbak2..Mau kemana ini?”
“Mau ke atm dan ke supermarket, Pak.”
“Oh silahkan..Liburan atau sedang ada apa ini di sini?”
“Iya Pak, liburan.. :)”
“O..Sudah berapa lama mbak di Lombok?”
“Di mainland si br hr ini pak, kemarin kami di Meno.”
“Ooo..Ke Trawangan juga mbak?”
“Engga pak, di Meno saja.. :)”
“Bagaimana Lombok mbak? Senang liburan di sini?”
“Bagus paaak, senaaaang.. :)”
“Oh baiklah kl begitu, selamat berjalan-jalan hr ini mbak. Hati2 di jalan..”
“Makasi paaaak..”

Oooooh…Inilah keramahan Indonesia yang sesungguhnya. Saya bahagia sekali. Orang Indonesia yang ramah menyapa orang Indonesia lainnya. Yang tidak hanya berpikir bahwa wisatawan asing adalah satu-satunya wisatawan yang pantas dijamu. Aaaah. Membekas. Indah. 🙂

Saat di supermarket itulah kami bertemu dengan Pak Salim. Ia adalah supir dari mobil yang disewakan. Saya tidak ikut berdiskusi dengannya. Tapi saya dan teman-teman memang sudah positif ingin wisata adat dan budaya di daratan Lombok ini, tidak lagi ke pantai. Saat teman-teman memasuki mobil Kij*ng Pak Salim, saya mengikuti saja.

Pak Salim dapat rekomendasi top dari saya. Menyetirnya halus. Bahasanya sopan. Tidak memaksa kami memasuki tempat-tempat yang tidak kami inginkan (yang biasanya dilakukan oleh supir mobil sewaan supaya mereka mendapat komisi dr tempat-tempat tersebut). Ia mengikuti mau kami. Kami bilang mau kemana, ia akan mengantar. Ia panggil kami Non Artis. Hahahaha. Pak Salim sangat membantu sekali. Kalau ke Lombok lagi akan coba cari kontak biar bisa sama Pak Salim lagi ah. 😀

Hari ini, kami berhenti sebentar di tempat membeli mutiara. Saya yang niatnya membeli untuk mama, berakhir dengan membeli untuk SAYA. Hahahaha. Maaf ya mah, nanti boleh pake barengan kok cincin mutiaranya. :p Onya membeli gelang untuk uni dan mamanya. Silka membeli gelang kaki untuk dirinya sendiri dan Tata, adiknya. Linda dan Tamie, saya ga gitu mencatat mereka membeli untuk siapa. Hihihi.

Selesai dari tempat membeli mutiara, kami beranjak. Kini ke Desa Sukarara. Desa pengrajin tenun. Di luar bayangan kami, kami kira kami hanya akan melihat kain tenun, ternyata kami ditanya apa mau berkeliling desa dulu? Saya langsung semangat, MAU!!! Maka kami diajak berkeliling desa dan diberi pengetahuan tentang kain tenun. Luar biasa. Pelayanannya luar biasa. Setelah berkeliling, kami masuk ke koperasi dan melihat tumpukkan kain tenun beraneka warna. Silka dan Onya sudah menggoda saya, mereka tahu saya paling tak tahan melihat kain tradisional Indonesia. Hehehe. Untungnya, mereka tak punya mesin EDC, jadi kartu kredit dan kartu ATM saya aman tentram. Hahaha. Saya hanya membelikan kemeja untuk bapak saya yang tersayang. Oh, dan mereka bersedia membantu jika saya ingin kain tenun, mereka bs mengirimkan motif yang tersedia via email dan mengirimkannya ke Jakarta. (ini ni yang berat..hahaha)

Di dalam koperasi, kami tak hanya disuguhkan dengan kain-kain tenun. Tapi juga didandani dengan pakaian adat suku Sasak. Kain tenun, baju Lambung, dan anting-anting rudal. Semuanya gratis. Bentuk pelayanan mereka sebagai koperasi desa. Mengagumkan.

Selesai dr Sukarara, kami berjalan lagi..Siap berkelana lagi..Lombok itu ramah. Tradisi dan modernisasi bersinergi. 🙂

Senyum dulu ah..

Advertisements