Lombok Daratan..2

Lima Belas Januari..Masih di daratan Lombok..Perjalanan dilanjutkan.. ๐Ÿ™‚

Selesai dari Desa Sukarara, kami beranjak menuju Desa Banyumulek. Desa pengrajin Gerabah. Tidak seperti di Sukarara yang diberikan pengetahuan tentang kain tenun, di Banyumulek, kami yang harus aktif bertanya tentang gerabah. Mereka masih dalam tahap menjawab saja, belum menerangkan. Hehehe. Karena saya tdk terlalu suka ย gerabah (dan merasa pasti berat membawanya ke Jakarta), jadi saya hanya melihat2 saja. Setelah beberapa dari kami membeli gerabah, kami dipersilahkan ke belakang, bisa membuat hiasan gerabah sendiri. Linda dan Tamie yang kali ini ikut serta. Linda membuat gerabah penyu, Tamie membuat gerabah bebek dan tokek. ๐Ÿ™‚

Oh, saya lupa menceritakan. Sebelum kami tadi ke Desa Sukarara, kami menyempatkan diri makan dulu. Belum ke Lombok namanya kl belum makan Ayam Taliwang toh. Hehehe. Maka kami menyambangi Resto Dua Em. Nama daerahnya saya lupa, tp itu resto ayam taliwang yang terkenal. Karena kami melihat deretan mobil2 dengan nama2 hotel terkenal ikut parkir, dan kata Pak Salim, kalau sore sedikit, sudah susah cari parkir karena banyak wisatawan datang dgn bus. Saya makan ayam pelecingan. Yang katanya pedasnya sedang. Onya (sbg urang Minang penyuka cabe), memesan ayam julat dengan tikat kepedasan yang paling pedas. Haha. Saat ayam datang, saya sempat mencoba ayam julatnya Onya, hehehe, cukup satu kali saja. Tidak berniat menambah minta punya Onya. Hihih. Pedaaasss. Onya aja sampe keringetan. Ayam pelecingan saya??? ENYAAAAKKKK!!! Puas sekali saya makannya. Hehehe.

dan ketika melihat ini, saya jd laper lagi

Lanjut sehabis dari Desa Banyumulek, kami bergerak menuju Tanjung Aan. Jauh ternyata. Hehehe. Seperti tak sampai-sampai. Dan hari sudah petang. Ketika ahirnya kami sampai di Tanjung Aan, matahari sudah hampir hilang, tapi saya bersyukur. Tuhan memang baik. Dua hari di Meno, berniat bangun pagi dan melihat sunrise, tidak jadi2 karena kami terlalu malas bangun subuh. Hehehe. Nah di Tanjung Aan ini kami melihat sunset yang begitu indahnya. Pak Salim mengatakan jangan lama2 di Tanjung Aan, karena kalau hari mulai gelap, jalan yang akan kami lalui untuk kembali agak rawan. Kami pun tak berlama2.

Pulang dari Tanjung Aan, kami makan lagi. Kali ini di RM Dirgahayu, di belakang Mataram Mall. Eh lucunya, saat siang hari kami melewati Mataram Mall, Pak Salim dengan bahagianya bilang “Ini non, ini mallnya..” dan kami cuma bengong dan menjawab “Oooo..” tanpa ketertarikan. Hihihi. Tidak satu pun dr kami anak mall dan jika dibandingkan dengan mall di Jakarta yang pake seri (Mall Kelapa Gading 1, 2, 3, sampai 5), Mataram Mall ini si tdk ada apa2nya. Hahaha.

Malam itu malam Minggu. Pak Salim bilang, di Jalan Raya Senggigi (tempat penginapan kami berada), akan ramai sampai jam 2-3pagi. Ramai apa? Ramai klub dan karaoke. Hehehe. Dan ternyata benar adanya. Penginapan kami bersebelahan dengan sebuah klub. Dan dari kamar kami (yg di lantai paling atas dan paling ujung) pun, suara jedag jedug itu terdengar. Plus, dr arah jalanan, suara patroli polisi nguing2 terus terdengar. Kebanyakan nonton CSI New York, saya bilang ke Onya “Ni kita lg di New York ni Nya..Bentar lagi ada yg gerebek kamar ini dan kita diselamatkan..” Onya memandang aneh ke saya. Hihihi. Keramaian malam itu hanya dinikmati Tamie seorang diri. Turun ke klub dan minum bir sampai pagi. Selain Tamie, kami semua tidur lelap. Hehehe.

Di satu sisi ada Sukarara dan Banyumulek yang masih menjaga tradisi adat dan budaya, di sisi lain ada Jalan Raya Senggigi yang penuh modernisasi. Saya selalu suka kota seperti ini. Langit dan bumi, namun bersinergi. ๐Ÿ™‚

Senyum dulu ah..

Advertisements