Bagi saya, Tuhan itu tempatnya di hati..

Ini hal sensitif yang sebetulnya sangat jarang mau saya bicarakan pada orang lain. Apalagi saya tulis di blog. Cuma karena ini mau melegakan hati saya), maka saya tulis juga. Hehe. *plinplan
————————————————————————————————————

 

Dimana sih Tuhan itu? Apa memang ada?

Bagi saya, ADA. Bagi saya, tempatnya di hati saya. Dan karena di hati saya (bukan di hati kita), maka hanya saya yang dapat merasakannya. Kamu pun bisa. Karena kalau kamu mau, Tuhan jg bs ada di hatimu (sekali lagi, mu, bukan kita). Kenapa begitu? Karena bagi saya, kehadiran Tuhan itu adalah suatu hubungan personal. Manusia dengan penciptanya. Dan karena ini personal, coba lah rasakan kehadirannya secara personal, jangan secara rombongan. 🙂

Secara jujur saya katakan saya bukan umat yang rajin salat lima waktu. Atau rajin ke gereja tiap Minggu. Nah jd agama saya apa? Itulah. Hehe. Mari tidak mengungkapkannya secara spesifik. Karena saya kan misterius. Kikikiki. *dilempar bambu runcing*. Bagi saya, tidak perlu lah orang lain melihat apa yang saya lakukan saat saya merindukanNya. Tidak perlu lah orang lain melihat bagaimana cara saya bersyukur menumpahkan segala cinta untukNya. Tidak perlu lah orang lain melihat saya dari agama saya. Karena sekali lagi, ini personal (dan saya misterius..GLEK!!).

Saya setuju dengan satu kalimat yang ditulis Dewi ‘dee’ Lestari di blognya, agama itu adalah cangkang, esensi dari suatu agama itulah yang penting. Esensi itu yang bagi saya juga penting. Tidak usah bilang kamu beragama kalau kamu masih membicarakan kenapa ada seseorang yang di KTPnya tercatat beragama Islam namun masuk ke kapel untuk berdoa. Hey, kapel itu rumah doa. Sama seperti masjid. Itu rumah doa, rumah Tuhan. Siapapun berhak masuk kesana dan berdoa. Apapun agamanya. Tidak usah bilang kamu beragama kalau kamu masih meneriakkan “Allahu Akbar” sambil melempar batu untuk sesama. Hey, Tuhan pun sedih melihat kamu melakukannya. Itu bukan cinta kasih yang diajarkanNya. Tidak usah lah. Apa yang kamu lakukan itu menyakiti orang lain. Dan menyakiti agamamu.

Jadi mari kembali ke awal, hubungan manusia dengan Tuhan, bagi saya, personal. Urus saja urusan masing2. Jika ingin berdoa, berdoa lah dengan kesungguhan hati. Walaupun kalian berjamaah (yang mana pahalanya bertambah 27x lipat), tapi jangan juga menghadap secara rombongan. Pusatkan pikiran bahwa kamu maju sendiri ke hadapan Tuhan. Dan jika kamu mengikut misa/kebaktian, bersukacitalah secara bersama-sama dan bersyukurlah secara sendiri. Puji nama Tuhanmu secara pribadi. Itu akan berbeda rasanya.

Dan karena hubungan ini personal, apa perlu orang lain melihat saat kamu sedang salat? TIDAK. Apa perlu orang lain melihat saat kamu sedang menghamba di hadapan altar? TIDAK. Apa perlu orang lain melihat saat kamu sedang menyembah di pura? TIDAK. Tidak perlu orang lain melihat. Karena tanpa mereka melihat pun, kamu dapat menemukan Tuhan. Malah secara intim. Malah secara pribadi. Jam pribadi bersama Tuhan itu jam2 yang sangat luar biasa lho. Siapa yang bisa (atau pernah) mendapatkannya, pasti tahu kenapa saya tersenyum bahagia. 🙂

Maka sekali lagi. Tolong tidak usah nyinyir ke saya kalau saya tidak beribadah (seperti yang kamu inginkan). Saat saya beribadah dengan terpaksa, saya merasa bersalah karena sudah munafik terhadap Tuhan. Dan perasaan bersalah itu lbh kuat dibanding perasaan bersalah saya karena kamu menghakimi saya. 🙂 Oh, dan tidak kah kamu sedih saat kamu menyuruh seseorang beribadah dan org itu melaksanakannya dengan terpaksa dan itu, dengan kata lain, menganggap enteng Tuhan yang kamu elu2kan? Seharusnya si kamu sedih. Maka jangan paksa orang untuk beribadah seperti cara kamu beribadah. 🙂 Jika ia bertanya, ajari dengan kesungguhan hati. Jika ia tidak melakukannya, itu urusan ia dengan Tuhan. Bukan urusanmu. 🙂

Hanya Tuhan yang bisa menghakimi manusia, dan bahkan, Tuhan tidak pernah melakukannya.

Sekarang coba tanya pada dirimu sendiri..

Apa aku sudah punya Tuhan dalam hatiku?

 

————————————————————————————————————

Senyum dulu ah..

Advertisements