Praha dan Cerita Lainnya..

Ya beginilah kalau mood sedang terjun bebas.. Seharian cuma berselancar, baca buku, berselancar, jait, berselancar, nonton, dan tidur sambil kesel aja.. Tapi tadi abis mandi lumayan naik sih moodnya. Jadi intinya memang saya seharusnya cepet mandi tadi.. Hihihi..

Anyway, hanya ingin berbagi sejumlah gambar. Enjoy enjoy. 🙂

Yang pertama, gambar Praha. Pertama kali saya melihat Praha ketika saya menonton weekend getaway di TLC. Langsung jatuh cinta. Saya tahu saya akan kesana suatu saat nanti. Sayang ketika membuat deal dengan Tuhan, Praha tidak termasuk di list saya. Saat itu saya belum tergugah mendengar kata Praha. Hehehe. (Kalau ada yang mau baca deal saya dengan Tuhan, monggo diklik di sini.) Jadi saya bingung sekarang harus memasukkan Praha ke timespan mana. Hehehe. Tapi pasti saya mau (dan akan, insyaallah, ke sana). Amin.

 

Yang kedua, gambar tempat jenius untuk menaruh sepatu. Hihihi. Oh well, di studio saya di Bekasi, sepatu itu memang tak beraturan tempatnya. Kapan2 lah saya foto. Ada yang masih di kotak, ada yang dimasukkan ke cubic, ada yang di atas lantai. Melas. Hahaha. Dan sampai sekarang saya masih bingung dimana koleksi Indira Soetrisno kedua saya berada. Lupa menaruhnya. Hiks. Balada rumah dan studio dan workshop berada di tiga tempat berbeda ya beginilah. Hiks. Back to the picture, jadi ini frame edge lhooo. Bisa dibeli dmn saja, tinggal dicat (kalau mau) lalu dipaku di dinding dan voila..Jadi deh shoe hanger. Hihi. Will do so di studio deh, biar bs melihat deretan sepatu koleksi dan menggenjot sisi kreatifitas. Tsah!!

Ketiga ini gambar workspace saya kemarin malam. Loh sayanya dmn? Sayanya di kamar, lagi makan. Hahaha.

Dan keempat adalah foto permainan yang sibuk saya mainkan (dan masuk ke pikiran saya). Farmerama. Hehehe. Aldi yang mengenalkan permainan ini. He’s a game freak. Too freak sometime he asks whether he can play thru my account just to add some points to his account. Hihihi.

Nah lalu ingin cerita ya. This been bugging me. Ketika hari apa itu ya saya ke workshop, Silka mengingatkan saya untuk menggunting bahan sepatu untuknya. Ia ingin buat passport cover dari bahan itu. Saya yang biasanya datang langsung duduk di ruang kerja dan hanya berbicara sama mandor jadi masuk ke dalam untuk memilihkan bahan. Dan di situlah saya terhenyak (terhenyaaak??). Huaaaaa. Sedih deh. Jadi kan bbrp bulan terakhir ini saya sibuk dengan batik. Banyak sepatu Moonaddict yang dibuat dari batik. Jadi saat saya masuk ke rak bahan (kulit sintetis), saya sedih banget. Kok bahan sepatu saya cuma 10 senti tingginya. Dulu2 bahan sepatu saya bisa mencapai tinggi setengah meter saking penuhnya (ditumpuk ke atas btw, bukan diberdirikan). Saya sempat diam tercengang 10menit di ruang kerja saking shocknya. Entah kenapa ada perasaan sedih. Kayak workshop saya ga jalan gitu. Kayak sepi aja. Hiks. Dan ketidakberadaan si bahan beranekawarna dan tekstur itu membuat sisi kreaifitas saya mundur. Huaaaa. Sedih. 😦 *nulis ini aja jd inget lagi dan jadi sedih.. 😦 Jadi harus cepat recover dan bergaul lagi di Mangga Dua ni. Hihihi. Ayo ayo semangaaat!!! *ambil pom2, jumplak2

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements