Pensiun SUPER Dini..

Yap.. Benar kok membacanya. Saya akan pensiun super dini. Pensiun dari menjadi guru. Suatu profesi yang sangat saya banggakan saat orang bertanya saya bekerja sebagai apa. Suatu profesi yang sudah melekat di diri saya. Tapi ini sudah keputusan, keputusan ini sudah bulat. Sebulat mata saya. *krik krik krik*. Juli 2011 adalah bulan terakhir saya akan mengajar. Oh apa Juni? Saya juga belum pasti. Yang pasti, tahun ini tahun terakhir saya mengajar. 😦

Berat ngga? BERAT!!
Senang ngga? NGGA TERLALU YAKIN!!
Siap ngga? ERRR…HARUS DIJAWAB YA?

Sejujurnya saya masih belum tahu bagaimana harus menyikapi ini. Tapi karena saya meyakininya, maka saya yakin semesta akan mendukung saya. Mestakung. Semesta mendukung. When u believe in something and want something badly, the universe will conspire to make it happen. Saya percaya itu. 🙂 Sedikit banyak sudah mendapatkannya. 🙂

Banyak yang menanyakan alasan saya untuk pensiun dini. Bbrp saya pending untuk menjawabnya. Selain karena keypad BB rusak (huruf ‘L’nya ngga bisa ya sodara2, jadi kalau kalian melihat tulisan “Ah giIa Ioe..serius dia kaIah di Iapangan?” maka gantilah huruf ‘I’ itu dengan ‘L’..Tenang, lama2 terbiasa kok..hihi) jadi saya malas untuk mengetik panjang lebar, juga adalah karena ini alasan yang amat sangat emosional. Emosional bukan karena saya mengambil keputusan ini secara cepat tanpa berpikir dulu, tidak begitu, karena saya sudah memikirkannya matang2. Emosional lebih ke karena semakin hari, saya semakin sedih memikirkan saya tdk ketemu Dea (partner mengajar dan sahabat saya) lagi di pagi hari, bercerita panjang lebar tentang apapun juga. Sedih karena saya tdk ketemu cici (koordinator saya) dan popo dan mamah Merry yang sudah saya anggap keluarga sendiri. Kami baru menjadi satu team untuk dua tahun ini tetapi ikatan sudah sangat kuat. Semua bisa mengerti tanpa harus berbicara. Semua bisa tersenyum tanpa harus menghakimi atas apa2 yang dilakukan. Semua bisa tertawa untuk suatu hal yang sederhana. Semuanya indah.

Ah jadi sedih.. 😥

Tidak ada alasan yang terutama kenapa saya memutuskan untuk berhenti mengajar. Mungkin lebih ke perasaan jenuh. Ini sudah tahun keempat dan saya sudah mulai menemukan ritme. Saya tahu jika saya bersikap seperti ini, murid akan seperti ini. Dan jika saya bersikap seperti itu, murid akan bersikap seperti itu. Semuanya terbaca. Saya jd tdk menemukan tantangan yang besar lagi. Dan saya senang dengan anak berkebutuhan khusus, nah sudah dua tahun ini saya tdk mendapatkan murid dengan kebutuhan khusus. Jadi ya datar2 saja. Pinter pinter, kurang kurang. Datar.

Alasan selanjutnya adalah karena saya berpikir, sudah waktunya saya fokus di bisnis. Saya orang yang selalu mencoba profesional di segala hal yang saya lakukan. Maka ketika saya harus mengajar dan di saat yang sama saya harus memberi instruksi pola ke pak tukang, saya merasa saya jadi setengah2. And it’s killing me. Waktu 24jam dalam sehari dan 7hari dalam seminggu terasa kurang. Dan kata mamah, kalau sampai seseorang merasa demikian, sesungguhnya ia sudah teramat lelah dengan aktivitasnya, dan itu menjadi tidak seimbang, bekerja jadi bukan beribadah melainkan mencari uang saja. Dan saya ngga mau seperti itu.

Saya mengajar karena saya suka mengajar. Jika kemudian saya mendapatkan rejeki dari situ, maka itu menjadi bonus. Kata papa, lakukan segala sesuatu dengan hati. Jika seseorang melakukan apa yang ia sukai, dengan hati, maka nanti rejeki mengikuti. Saya percaya itu. Karena faktanya, empat tahun saya bekerja sebagai guru, tidak pernah sekalipun Tuhan membiarkan saya kehabisan rejeki. Saya selalu diberi kecukupan. Karena saya melakukan pekerjaan saya dengan senang hati. 🙂

Alasan terakhir, sepertinya saya lelah. Bangun jam empat pagi, langsung mandi dan bersiap. Jam lima kurang sepuluh berangkat ke kantor di Meruya. Jam setengah enam berangkat dari Meruya menuju Bogor. Jam tujuh mengajar sampai setengah dua siang. Waktu istirahat hanya tiga puluh menit dan itu dibagi dalam dua sesi, jadi satu sesi hanya lima belas menit istirahat. Setengah dua siang pulang dan sampai Meruya lagi paling cepat jam setengah empat sore (sebelum proyek Traja yang di pinggir tol dalam kota itu beroperasi, bisa lah sampai Meruya jam tiga). Lalu pulang dan sampai rumah jam setengah lima. Terus begitu. Lama2 badan saya lelah juga. Dan sampai kantor, kalau mau ke workshop harus menempuh perjalanan bbrp jam lagi. Oh sungguh melelahkan. 😦 Ihiks.

Jadi ya begitulah, saya, pada akhirnya akan TIDAK menjadi guru lagi. Saya, pada akhirnya akan bingung menjawab apa ketika orang menanyakan apa pekerjaan saya. Saya, pada akhirnya, semoga, bisa tetap terus berkarya walaupun tidak di bidang pendidikan lagi.

Kesedihan yang teramat sangat, dan karena itu, terkadang saya tidak ingin membicarakannya. Maka saya post di sini saja. Jangan ada yang menanyakan lagi ya. Tolong saya dikuatkan saja, tidak usah ditanya macam2. 🙂

————————————————————————————————————-

Dan ketika saya dan Dea berjalan di lorong TK Regina Pacis Bogor Kamis kemarin, Dea berkata, “Gw sedih deh Bul, ga bisa bayangin gimana nantinya kalau gw jalan di sini, menuju kelas, mau ngajar, dan partner gw bukan elo..Gimana ya?” –> Sesungguhnya saya ingin menangis. Tapi saya tahan. Sampai kapan pun, momen itu akan selalu saya ingat. Sampai kapan pun. *jadi pengen nangis..ah udah ah udah!! Kuat kuat kuat!!!

Senyum dulu ah.. 🙂

PS: Foto yang satu team lengkap akan menyusul ya, flashdisk saya ketinggalan di dalam tempat pensil Adit, salah satu murid saya. Hehe. Meanwhile, saya dan Dea dulu ya.. 🙂

Advertisements