Masuk Rumah Tuhan..

Berapa lama kah waktu yang dibutuhkan untuk mengitari Jakarta? Pasti lebih dari satu hari, belum macetnya. Hihihi. Dan berapa lama kah waktu yang dibutuhkan untuk mengitari Kabupaten Tanjung Balai Karimun ini? SETENGAH HARI sajaaaaa.. Hihihi. Itu sudah mencapai bagian2 luar macam Pongkar dan Palawan lhoo. Hihihi. Saya jadi bengong pas dibilang seperti itu.

“Kemana pertama ni?” tanya Bang Dion. Saya melihat catatan saya dan menjawab “Masjid Baitul Karim.” Dan meluncur lah kami kesana. Baru mengobrol bbrp saat tb2 Bang Dion meminggirkan mobil. “Ni sudah sampai..” Laaaaah, ini mah bahkan lebih dekat dari acara jalan kaki saya ketika di Hongkong. Hahaha. Memotret sebentar, satu kesan yang saya dapat, orang2 Melayu ni ramah2 sekali. Mereka tdk segan menyapa saya dengan sopan dan malah meminta saya memotret mereka. Saya jadi sering senyam senyum unggah ungguh di sana. Ini mungkin yang dinamakan keramahan Melayu, pikir saya, keramahan yang saya bingung ketika orang mengacukan pada orang Indonesia, karena orang2 Jakarta sih tdk seramah itu. Hehehe.

Selesai berfoto di Masjid Baitul Karim, kami menuju ke vihara. Ada bbrp vihara yang saya catat, tapi ternyata Bang Dion tdk tahu bbrp diantaranya (SEE?!). Kami menuju ke komplek Vihara Buddha Diepa. Kompleks ini besar sekali. Viharanya besar, halaman depannya besar, di sebelah kiri ada kantor yayasan yang juga besar, di depan kantor yayasan ada taman yang luas, dan di bagian belakang ada satu bangunan lagi untuk berdoa bagi arwah yang sudah meninggal. Apa itu ya namanya? Yang pake papan2 nama itu lho. Ya itulah. Hehehe. Dan di sini lah saya betah berlama-lama.

Bang Dion ragu ketika mau masuk, bertanya, apa memang boleh masuk? Oh kalo masuk si memang boleh. Bagi saya, masuk rumah Tuhan mana saja ya boleh2 saja. Tapi yang saya belum yakin adalah apakah di vihara ini boleh memotret. Krn saya pribadi tdk lancar belajar agama Buddha (saya hanya belajar dr makalah yang dikumpulkan oleh seorang anak kelas VI SD di Regina Pacis, makalah itu dipinjamkan Andre – guru agama di Recis – karena dia tahu saya sangat suka memelajari pandangan keTuhanan) dan takutnya ada bbrp bagian dari vihara yang sakral sehingga tdk boleh dipotret.

Ketika mau masuk, saya bertemu seorang kakek, sepertinya *maaf* kurang berada karena pakaiannya compang camping. Saya menyapa “Pagi bapaaaak, apa kabar.. Mau permisi masuk, apa boleh memotret di dalam pak?” Dan saya kaget mendengar jawabannya…

Boleh boleh, tentu saja boleh. Ini rumah Tuhan ya. 
Tuhan saya Tuhan kamu sama saja. Siapapun boleh masuk rumah Tuhan.

JLEG!! Tb2 saya kembali teringat Andre. Teringat pembicaraan asik kami bahwa sesungguhnya siapapun boleh berdiam di rumah Tuhan. Di kapel di masjid di pura di vihara, di rumah Tuhan mana saja. Rumah Tuhan “seharusnya” terbuka bagi siapa saja. Sayang sebagian orang mengeksklusifkan rumah Tuhan hanya bagi mereka yang beragama sama. Ketika Tuhan tdk pernah menghakimi umatnya, malah manusia yang merasa perlu untuk menghakimi. Ah…

Saya speechless dan spontan menangkupkan kedua tangan dan berkata “Terimakasih bapak, Tuhan berkati..” lalu masuk dan menahan emosi. Dia, yang compang camping, mampu berbicara seperti itu. Betapa rasa keTuhanannya melebihi org2 berjubah putih yang menyakiti sesama sambil meneriakkan nama Tuhan ya.. 🙂

Masuk dan memotret, saya melepas sendal sepatu saya. Bang Dion otomatis melakukan hal yang sama tapi bertanya “Harus lepas sepatu ni?” Saya cm meringis sambil menjawab “Ngga tahu si, gada tulisan batas suci, tp ya lepas sepatu kan jg gada salahnya.. Hehehe..” 

Selesai memotret di bagian depan, saya menengok ke bangunan belakang. Wah, ada tempat doa lagi. Tempat doa yang seperti bangunan pemakaman itu, yang banyak papan2 berisi nama dibariskan berdasar saf. Whaaaa, saya ingin kesanaaaa. Saya permisi dengan bapak yang sedang mengepel lantai vihara dan dipersilahkan masuk. Saya masuk, tapi perasaan saya memang mengatakan tempat ini tdk boleh dipotret. Maka saya urung mengangkat kamera saya. Ada seorang kakek tua yang sedang duduk, menulis, dan kemudian menengok ke saya. Saya sapa dan ia menjawab dengan ramah. Ia mengatakan tempat itu memang tdk boleh dipotret, Puji Tuhaaaaan saya ga kegatelan. Hehehe. Kami mengobrol panjaaang lebaaar. Beliau luar biasa, menjelaskan pada saya banyak hal tentang pemahaman Buddha jg tentang kegiatannya. Beliau berusia 82 tahun, saya seumur dengan cucunya. Hihihi. Saya baru tahu ternyata Buddha jg ada aliran2nya, ya saya tahu sih hampir semua agama memang seperti itu tp saya baru tahu ternyata aliran dalam Buddha itu jumlahnya melebihi jari kaki dan tangan saya plus jari kaki dan tangan Bang Dion jika digabungkan. Hihihi. Dan penulisan nama di papan pemakaman itu aturannya adalah suami di tengah, istri di kanannya. Kalau ada istri kedua yang jg meninggal maka namanya ditaruh di sebelah kiri nama sang suami. Kalau ada istri ketiga yg jg meninggal maka namanya ditaruh di sebelah kiri istri kedua. Lalu saya bertanya, “Kalau istrinya ada banyak penuh donk pak papannya..” Dijawab “Tak, tak, tak boleh itu. Istri tiga sudah cukup banyak, tak bisa ada istri lagi, cukup. Sekarang pun tak banyak yang istri lebih dari satu, istri satu saja sudah cukup.” AHOY!!

Lalu, ada bbrp papan yang diselubungi kain berwarna merah. Ketika saya tanyakan artinya, itu adalah karena yang meninggal dalam keluarga inti itu hanya satu, entah suaminya doank atau istrinya doank. Begitu. Lah, saya jadi berpikir, intinya, nisan dalam Buddha itu bisa mencakup sampai empat nama (kalau istrinya tiga) donk ya. Wow. Sungguh efisien. Dan bapak itu mencatat semua nama2 orang yang makamnya di situ krn katanya, akan ada keluarga dari luar kota dan luar negeri yang mencari makam kerabatnya sehingga ia harus bisa mengurut ke atas siapa2 saja keluarganya yang dimakamkan di situ. WOW!!

Saya sempat melihat bapak ini menulis Mandarin. Jadi ingin ketawa mengingat dl saya jg “ikut numpang” belajar menulis Mandarin saat Onya les. Pelan2 bener nulisnya, sdgkn bapak ini cepet bener nulisnya. Hihihi.

Di akhir pertemuan, saya dan Bang Dion pamit, kembali menangkupkan tangan dan berkata “Terimakasih banyak bapak, Tuhan berkati..” dan dijawab dengan doa supaya saya baik2 saja dalam perjalanan selanjutnya. 🙂 Indah.

Maka saya dan Bang Dion kembali masuk ke mobil dan bersiap menuju perhentian berikutnya. Hap!!

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements