Pantai dan Air Meleleh di Tanjung Balai Karimun..

Saya pernah beberapa kali mendengar nama Palawan Beach disebutkan. Maka ketika saya google dan menemukan Palawan Beach di Tanjung Balai Karimun, saya langsung semangat. Tapi langsung memudar lagi ketika menyadari kayaknya saya ga bs ngapa2in jg gt di sana secara dr awal berangkat mamah sudah berpesan utk saya tdk memakai “baju seksi”. Hihihi. Dan celana pendek saya agaknya masuk ke kategori “baju seksi” yang diberikan mamah. :p

Jadi bayangkan saya, datang ke pantai dengan celana panjang. Yap, that’s how weird I was. Hahaha. Dan ketika sampai, JRENG!! Ini pantai sepi beneeerrrr… Sungguh keberadaan manusia bisa dihitung dengan jari tangan. Hihihi. Saya melepas sendal sepatu saya, melinting celana panjang, dan mulai menyusur pinggir pantai. Pasirnya lembuuuut banget. Airnya aneh, pas di bibir pantai terasa dingin, tapi sekitar 10cm masuk ke dalam sdh hangat. Gubuk2 tinggi berdiri di sepanjang pantai. Kalau melihat jumlah gubuk tingginya, harusnya pantai ini cukup rame ya, tp ini kok sepi?! Dan saya melihat jam tangan saya, JRENG!!, ya iyalah sepi, mana ada org ke pantai jam sebelas siang?! Hihihi. Ya kecuali bule ya, saya rasa jarang ada penduduk lokal yang mau ke pantai siang2 panas gt. Hehehe.

Saya sempat minum es kelapa dl dan bercengkrama dengan dua anak kecil yang lucu2. Alam dan Kajesh. Mereka ramah dan cerewet. Minta difoto lagi lagi dan lagi. Tiap abis foto langsung bilang “Tengok kak tengok kak tengok kak..” Hihihi. Saya tanya ke Kajesh, apa sudah sekolah, dia blg sudah tapi Alam, kakaknya, bilang belum. Alam yang sudah sekolah katanya, TK A. Pdhl badannya tinggi lhoooo, saya kira dia sudah TK B. Hehehe. Saya tanya, sekolahnya di mana? Dijawab di TK A. Jiaaah. *pengsan*

Lalu saya tanya ke Kajesh, mamahnya lagi apa? Dijawab lagi masak Indomie. Saya tanya, bapaknya kerja apa? Dijawab, masak sayur. Lhaaaaa. Iki piye thooo. Satu masak Indomie satu masak sayuuur, mbok ya kl yang satu uda masak, yang lain bikin minum kek gt.

Sekitar satu jam kemudian saya pamit utk jalan lagi, kali ini ke Pongkar Beach. Nah ini lebih aneh lg. Hehehe. Pantainya tdk bs disebut pantai ni, krg hiburan, ini mah pinggir laut doank deh. Hehehe. Sayang lho, padahal potensinya bagus, pantainya luas dan walaupun airnya hijau dan tenang, tp kalau ada olahraga air macam banana boat atau flying fish atau apalah, pasti bs lebih ramai. Tapi kata Bang Dion, ada bbrp batu karang yang dangkal, hmmm, bahaya jg ya kl gt kl ada olahraga air di situ. Hihihi. *plinplan

Nah saat di Pongkar, Bang Dion bertanya mau kemana lagi? Saya jawab ke waterfall. Bang Dion bilang oke tapi lalu melanjutkan, “Yaaaa, bukan waterfall sih itu, itu air meleleh lah..” Dan saya ngakak. Air meleleeeh?? Hihihi. Maka berjalanlah kami menuju air meleleh itu. :p

Sebelum masuk dan berjalan di tengah hutan (lebay) menuju air meleleh itu, kami sempatkan makan dl. Makan nasi pake sotong cabe dan sayur daun ubi, Bang Dion menawari saya opak-opak. Saya melihat sekilas dan menolak karena saya ngga suka opak. Eh ternyata e ternyata, opak disana teh bedaaa. Makannya pake saus pedas manis. Saya mencoba satu dan ketagihan. Hahaha. Enak bangeeeet, opaknya lbh tipis dari yang dijual di Jkt (atau Bogor) dan saus pedas manisnya enaaaak.

Selesai makan kami mulai berjalan menuju ke air meleleh itu. Bayar seribu, hutannya sepi dan agak sedikit kotor. Tdk berapa lama Bang Dion berkata “Tu air terjunnya..” Dan saya bingung. Mana? Kok ngga terdengar suara gemuruh air terjun gt? Lalu berjalan lima langkah dan EAAAAA!! Iya, ini mah bener air meleleh. Hihihi. *tepokjidat*

Lumayan lama saya di sana, melihat sebuah keluarga besar yang sedang main air di kolam di bawah air terjun itu. Dengan ramahnya mereka menyapa saya dan mengajak berbicara. 🙂 Udaranya memang segar di sana, sayang saya ngga bawa baju ganti, kalau bawa, pasti saya nyebur deh. Hehehe.

Mungkin sampai dua jam saya di sana, senyam senyum sama adek2 yang lagi main air. Memotret kehebohan dan kegembiraan mereka akan sesuatu yang sangat sederhana. (Sekali lagi) merasakan keramahan Melayu. Menyenangkan.

Dan selesai dari Pongkar, saya membeli opak2 lagi lalu kami masuk mbl lagi. Bang Dion bertanya, mau kemana lagi? Deretan catatan yang saya bawa sdh dikunjungi semua, kecuali bbrp vihara yang Bang Dion ngga tahu dmn. Ya sudah lah, kami pulang saja. Saya menghitung waktu yang sudah kami habiskan. Enam jam. Cukup enam jam saja bagi kami mengelilingi Kabupaten Karimun ini. Hahahaha.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements