Cu Chi Tunnels – Viet Nam

Perjalanan dari Saigon menuju Cu Chi Tunnels dikatakan akan menempuh lebih kurang dua setengah jam. Saya yang sudah kelelahan akhirnya tidur di bis. Dan adalah susah tidur di bis dengan sabuk pengaman mengitari perut (saja). Lebih enak sabuk pengaman yang memalang badan, masih bisa menaruh kepala dan bergantung ke sabu pengaman itu. Nah ini hanya di perut, bergerak susah, nggak bergerak duduknya nggak enak. Serba salah. Hihihi.Sepanjang jalan ke Cu Chi Tunnels, kanan kirinya sawah. Saya terkikik membayangkan bule-bule itu pasti sangat menikmati perjalanan ini, sedangkan saya malah merasa kembali ke masa saya pulang kampung ke Jogja menggunakan mobil bersama abang dan mamah saya. Persis sama suasananya. Hehehe.

Kami berhenti di sebuah bangunan tua di pinggir sawah. Pemandu wisata mempersilakan kami turun. Katanya sih untuk ke toilet, tapi kami – Indonesian – sudah mampu membaca gelagatnya. Dia mempersilakan kami memakai toilet di sebuah bangunan yang menjual kerajinan kulit telur, mau cari komisi dari pembelian yang *siapa tahu* kami lakukan. Hehehe. Saya yang masih sangat mengantuk sama sekali tidak ingin beranjak dari kursi. Untung teman2 yang lain jg tdk. Maka kami tetap berada di bis sementara penumpang lain memasuki bangunan itu. Bis parkir, kami pun keluar. Hanya ingin meluruskan kaki, bergoyang-goyang, dan berfoto saja.

Sudah hampir makan siang ketika kami tiba di Cu Chi Tunnels. Ketidaksiapan penyelenggara tur membuat kami harus membeli tiket sendiri-sendiri dan menunggu lagi. Tak berapa lama, kami pun memasuki terowongan panjang untuk mencapai medan perang yang dipakai Viet Cong ketika mereka mati-matian melawan gempuran Amerika. Here are some wow-ness they did..

1. Viet Cong menggunakan medan perang itu untuk melawan gempuran tentara Amerika di malam hari. Siang harinya mereka ke mana? Mereka kembali ke daerah pinggir untuk berkumpul bersama keluarga.

2. Mereka menggali terowongan tiga tingkat dengan serokan sampah. Yap. You read it right; serokan sampah! Dan yap, tiga tingkat! Tingkat pertama masih berupa terowongan yang menghubungkan ruangan-ruangan besar, turun lagi ada terowongan persembunyian, turun lagi, terowongan pelarian. Terowongan pelarian ini tersambung ke laut. Jadi mereka kalau kabur ke laut, bagaimana caranya? Mereka memakai stik bambu yang dimasukkan ke mulut dan diarahkan ke atas untuk bernapas. Saya jadi ingat saya pernah menonton salah satu film yang menunjukkan kejadian serupa, dan menurut saya itu menakutkan sekali. 😦

3. Viet Cong mempersiapkan beberapa jebakan. Dan beberapa jebakan itu sungguh mengiris hati ketika dipertunjukkan. Dari mulai jungkat jungkit yang jika tentara AS masuk ke dalamnya akan langsung menancap ke deretan paku-paku besi tajam setinggi lebih kurang 40 cm. Paku besi itu langsung menancap ke kepala dan ke badan. Aduh. Bikin miris sangat melihatnya. 😦

4. Viet Cong memasukki terowongan melalui sebuah pintu kecil sekali yang hanya muat satu tubuh kecil. Untuk memertahankan tubuh yang kecil sehingga bisa memasuki terowongan, gerilyawan Viet Cong hanya makan olahan tepung tapioka. Duer!! *elus-elus perut, saya terlalu memanjakannya* :’)

5. Viet Cong sungguh sangat pintar! Mereka membangun lubang ventilasi udara menyerupai rumah rayap sehingga tentara Amerika tidak tahu bahwa itu adalah lubang ventilasi yang tertuju ke sebuah labirin terowongan dahsyat di bawahnya.

6. Viet Cong memasak di salah satu ruangan besar di terowongan tingkat satu. Tapi mereka menyimpan asap dari masakannya dulu ketika memasaknya di malam hari. Asap itu dilepaskan sedikit demi sedikit di jam dua atau tiga dini hari supaya menyerupai kabut. Aih pinternyaaaa..

Beberapa wow ini membuat saya sungguh membayangkan, apa rasanya kala itu ya? Bagaimana mereka bisa punya semangat hidup tinggi padahal menyambung hari saja kok kayaknya susah sekali. Dan bagaimana mereka bisa tega membangun perangkap dengan paku besi? Apa nggak kasihan saat paku itu makan korban? Saya langsung bersyukur bahwa saya tidak perlu mengalami perang separah itu dalam hidup saya. Kalau saya mengalaminya, mungkin saya memilih mati saja deh. Mundur sebelum berperang. Hehehe.

Di akhir wisata, kami memasuki labirin terowongan. Saya yang sudah tidak enak badan sesungguhnya malas, tapi diyakinkan oleh sorang bule bahwa itu akan mengasyikkan, akhirnya saya pun masuk. Untung tubuh saya masih terhitung kecil (ahey!!) jadi masih muat bergerak, tidak terlalu mepet. Terowongan itu gelap, lembab, dan beberapa bagian tanpa penerangan sama sekali. Berjalan harus terus merunduk, kadang kalau depannya macet (oleh sebuah keluarga bule yang dengan niatnya foto-foto terus di dalam), saya memutuskan untuk jongkok saja. Yang lucu Mbak Eva. Di tengah jalan beliau bilang “Ah aku nggak kuat nih, udah deh aku balik aja..” Lha kami yang mendengarnya bingung. Bagaimana cara baliknya? Nengok ke belakang saja susah, terowongannya mepet pun. Mana bisa puter balik?? Hihihi.

Dengan berkeringat dan kekurangan oksigen, kami akhirnya keluar dari terowongan di ujung satunya. Huff. Dengan diiringi teriakkan kecil seorang anak kecil “We’re ALIVE!!!”, kami pun menarik napas panjang. Yes baby, we’re alive!! Haleluya!!

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements