Dia (hanya) seorang anak..

Pernah berpikir kehidupan kalian keras dan berat? Pernah ingin teriak pada Tuhan bahwa hidup ini ngga adil? Saya pernah, sering malah. :p Dan saya selalu terpesona akan bagaimana Tuhan “mencolek” saya untuk kembali bersyukur atas apa2 yang sudah Dia berikan. Salah satu caranya adalah dengan melihat mereka yang lebih kurang beruntung dari saya. Kalau ada orang yang lebih kurang beruntung dari kalian, your life suddenly doesn’t look that hard, aite? πŸ™‚

Hari Minggu kemarin saya mengikuti proyek komunitas bersama Shoebox Project. Acara diadakan di sebuah rumah singgah di daerah Bukit Duri Tanjakan. Saya, sebagai bagian dari relawan, diminta untuk menemani anak2 jalanan yang akan diberi pengetahuan akan pentingnya kesehatan gigi.

Dan di sini saya bertemu Yeni. Seorang anak berusia dua belas tahun, sudah kelas tujuh, dan berjualan minuman di perempatan jalan sepulang sekolah. Kali pertama saya “menemukan” Yeni, dia sedang duduk diam, melihat kiri kanan, ketika para relawan mencari anak2 jalanan yang akan dibimbing. Ketika saya menarik tangannya, sesungging senyum mengiringi. Dia lega ada “kakak” yang menginginkannya. πŸ™‚

Kami mengobrol sedikit, ayahnya adalah seorang buruh dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dia punya satu kakak dan satu adik. Kebutuhan hidup sangat banyak sehingga ketika ia umur enam tahun, ia sudah membantu berjualan minuman membantu keluarga. Saya terenyuh. Bagaimana bisa seorang anak berusia enam tahun berjualan di perempatan jalan yang penuh debu bising dan rawan celaka seperti itu? Not to mention badan Yeni terhitung kecil untuk anak seusianya, saya jadi tdk bs membayangkan sekecil apa dia saat berusia enam tahun? Apa tangan2 kecilnya bahkan sudah cukup untuk membawa beberapa minuman yang dijualnya? Ah.. Hidup pasti memberikan dampak yang begitu besar bagi perkembangan emosinya, pikir saya. Dia pasti sangat kesusahan. Dia pasti sedih. Dia pasti selalu menangis. Tapi ternyata saya salah.

Apa terlihat derita yang mendalam di wajahnya? Luar biasanya tidak. Saya melihat Yeni sama seperti anak2 lainnya. Sama seperti murid2 saya. Dia tdk menyimpan beban hidup itu. Dia masih mampu tertawa, tersenyum, berbicara dengan teman2nya dengan asyik. Binar matanya masih ceria. Padahal apa yang perlu dikerjakannya untuk bertahan hidup terhitung sangat berat. Tapi saya masih bs melihat ia tersenyum dan berbahagia.

Melihat itu, saya jadi berpikir. Dan bagaimana bisa kemudian saya mengingkari apa yang sudah Tuhan berikan bagi saya? Yang jumlahnya melebihi apa2 yang pernah saya bayangkan. Bagaimana bisa saya kurang bersyukur untuk hidup saya yang sudah diurusNya dengan baik? Di luar masih banyak orang yang harus berusaha keras memapankan hidupnya bahkan hanya untuk keperluan makan mereka. Bagaimana bisa saya dengan mudahnya menangis ketika apa2 tdk berjalan sesuai rencana dan ekspektasi saya? Ekspektasi apa yang dimiliki Yeni?

Menghabiskan beberapa jam bersama Yeni membuat saya menyadari bahwa Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri. Tuhan tdk akan membiarkan anakNya kelaparan ketika kita sudah berusaha. Tuhan akan mengurus hidup kita. Dan kita harus terus mensyukuri apa2 yang sudah Tuhan sediakan bagi hidup kita. Karena dalam setiap penyediaan itu, terdapat berkat yang luar biasa.

Menghabiskan beberapa jam bersama Yeni mengembalikan arti kata “hidup” dan “tersenyum” untuk saya. Betapa senyum mampu membuat hidup ini mudah. Betapa senyum melepaskan sedikit beban yang menyerang. Betapa senyum mengembalikan kebahagiaan. πŸ™‚

Dan itu saya dapat dari Yeni. Seseorang berusia dua belas tahun dan sudah bekerja selama enam tahun. Seseorang yang (hanya) seorang anak tapi merelakan hidupnya untuk bersama menanggung beban hidup dengan orang dewasa. Seseorang yang luar biasa. Perpanjangan tangan Tuhan bagi saya untuk kembali bersyukur akan hidup. πŸ™‚ Terimakasih ya Yeni. πŸ™‚

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements