Nostalgia…

Untuk pengamanan aja, saya beritahu di awal, ini akan jadi dua post berturut. Hehehe. Inti ceritanya adalah ‘kali pertama’ saya donor darah hari Jumat kemarin, tapi sebelum masuk kesana, saya mau nostalgia dulu.

Back then, waktu saya masih muda belia kinyis2 memesona, saya adalah penggagas sekaligus panitia acara Blood for Life di kampus. Masih teringat sampai sekarang bagaimana saya dan teman2 seangkatan mengurus segala sesuatunya. Menelpon PMI Pusat, menanyakan harus mengurus kemana. Dijawab ke PMI Depok. Telp PMI Depok, gada yang angkat. Coba beberapa kali, ttp ga diangkat, ahirnya datang langsung ke alamat PMI Depok yang dikasih PMI Pusat. Sampe sana *untungnya* diterima dengan baik, kalau ngga, saya dan Thera (yang kesana) mencak2 kali tu. Hahaha.

Di hari dmn BfL diadakan, kami sudah datang pagi2 sekali, menyiapkan ruangan, lalu saya meminta teman2 (termasuk saya sendiri) untuk menunggu para dokter dan petugas PMI datang di parkiran. They have to be welcomed with smile. Pemikiran saya, mereka harus senang dl kerjasama sama kita, jadi ayo beri senyum manis dan penyambutan yang baik biar mereka mengurus para pendonor nanti jg bisa dengan senyum. ๐Ÿ™‚ *see, dari dulu kayaknya saya terobsesi sama yang namanya senyum ini.. Haha*

Saya ingat dokternya bingung ketika kami mendekat ke mobil PMI, menanyakan apa saja yang perlu dibawa, lalu setelah dokternya memberitahu, kami langsung mengangkat semua bawaan itu bersama-sama. Meninggalkan tiada apa di mobil itu yang bisa dibawa dokter dan petugas PMI lainnya. Hahaha. Terlalu semangat emang kami inih. :)) Dokter sempat berkata “Itu berat lho dek, dek, itu berat lho, ngga ada cowok yang bisa bantu??” dengan nada panik saat saya dan teman (yang semua perempuan) mau mengangkat cooler box besar untuk tempat darah nanti. Saya cuma senyum lalu menjawab “Kami satu angkatan empat puluh lima orang doank dok, cowonya cuma tiga orang, selebihnya perempuan semua, jadi ya sama aja kok. Yang cowo masih ada kelas jg. :)” Dan dokternya bengong. Haha.

BfL-nya sukses banget. Kami sampai harus menolak beberapa pendonor yang jauh2 datang dari fakultas lain (ya ga jauh si, mereka tinggal naik bis kuning gt. :D) karena pihak PMI hanya membawa persediaan tujuh puluh kantong darah dan itu sudah habis terpakai semua. Kenapa begitu?? Karena mereka sudah biasa menangani donor darah yang dilakukan di UI dan biasanya pendonor tidak sampai tujuh puluh. Whaaaaa, kami terlalu bersemangat promo kayaknya. Hahaha. Seandainya saat itu pak dokternya mau mengirim surat referensi untuk kami mengambil kantong darah di PMI Depok, kami akan lakukan deh, cuma pak dokternya sibuk memeriksa pendonor yang ga habis2 jd lupa memberitahu dan ga sempat juga menulis surat referensi. ๐Ÿ˜ฆ

Teman2 yang bertugas di meja penerimaan depan bisa senyum terus dan dengan ramah menyapa dan mengurus satu per satu pendonor yang datang. Ini yang bikin saya bangga. Selelah-lelahnya kami, kami akan terus berusaha tersenyum dan mengantar pendonor ke urutan2 meja yang harus mereka datangi. Kenapa ini menjadi penting? Karena menurut saya, adalah nyaman lho kalau kalian mau berbuat baik mendonorkan darah dan diterima dengan senyum lalu dilayani dengan baik. Maka itu pesen saya ke teman2 panitia, layani semua dengan senyum dan jangan malas utk mengantar mereka ke ruang donor satu per satu. Teman2 yang bertugas memasak Indom** jg terus senyum dan ramah memberikan makan untuk para pendonor yang sudah selesai mendonorkan darahnya. Padahal adalah susah lho jadi ramah saat kalian berada dekat dengan kompor yang mengeluarkan hawa panas terus menerus dan bikin jd gerah dan emosi. Hehehe. Lalu saya ngapain? Saya dan bbrp teman bertugas mendatangi para pendonor, ngajak ngobrol utk mereka yang baru pertama kali mendonorkan darahnya, biar ngga tegang, dan biar ini jadi pengalaman pertama mereka yang baik jadi mau mendonorkan darah lagi lagi dan lagi. ๐Ÿ™‚ Kami jg bertugas menanyakan ke dokter dan petugas PMI kalau2 mrk perlu sesuatu, lalu mencarikan yang mereka perlukan. Anything to make them comfortable di hari yang pasti sangat melelahkan bagi mereka karena pendonor antri. Juga mengucapkan terimakasih secara personal ke semua pendonor dengan dtg ke ranjang mereka satu satu. Ya yang urusan cengengesan itu pasti jd bagian saya lah. Hahaha.

Saya jadi ingat kami menemani uni Nilam yang baru pertama kali mendonorkan darah saat itu. Meminta saya dan teman2 untuk memegang tangannya yang sudah dingin saking tegangnya. Tarik napaaasss dan jresss jarum ditusukkan dan segera saluran menuju kantung darah itu berubah warna menjadi merah pekat. Lalu kami terus mengajak ngobrol uni biar dia santai. Dan kami baru tahu, pendonor yang baru pertama kali mendonorkan darahnya itu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengisi 350/500cc darah ke kantung. Jadi kantungnya uni ga penuh2. Uni makin stress. Sementara kami berusaha melucu aja biar uni senyum2 lagi. Untung dokternya jg ngga terlalu serius, meminta uni mengepal-membuka tangannya sehingga darah bisa lebih terpompa masuk kantung dan goda2in uni dengan santai. Kami uda kayak pom2 girls yang teriak2 “Ayo uni!! Kepal buka kepal buka kepal buka!! Semangat uni!! Kamu bisa!!!”ย dan secara harafiah kami melompat, mengepalkan tangan ke atas, joget2. Yak, berbeda dengan suasana donor darah pada umumnya yang sepi hening dan serius, donor darah yang kami laksanakan ini ramenya minta ampun, suara tawa dan obrolan sana sini terdengar memenuhi ruangan, pendonor bebas mengajak maksimal dua temannya masuk utk menemani, jadi ya memang ramai tapi masih teratur.. Pembelaan kami, ya kalau mau sepi, dondarnya di Fakultas MIP* sana.. Tau cewe Sastra berisik!! :p Oh, dan kami ga mau ribet pake sekat antar satu ranjang dengan ranjang lainnya karena menurut kami ya ga perlu disekat. Ternyata, petugas PMInya cerita, ini kali pertama mereka mengurusi pendonor yang ga ribut minta pemisahan ruang utk pendonor laki dan perempuan, dan para pendonor perempuan yang berhijab tidak ribut minta tangannya ditutupi. Lha kami malah bengong, masa iya ada yang ribet kayak gt? Ya kalau ada pendonor yang lebay gt si ya mungkin kami akan mengacu mereka dondar di Fakultas Tekn** aja sana. Kekekeke.

So yeah, saya bangga sama pelaksanaan BfL ini. Too bad, saya salah perhitungan. Maksud saya, panitia mendonorkan darahnya saat2 ahir, lha mana saya tau ternyata kantung darahnya sudah habis. Hiks. Maafkan ya panitia jd ga bs mendonorkan darah.. ๐Ÿ˜ฆ

Acara ini seyogyanya jadi acara rutin program studi Inggris di kampus. Tapi karena saya sendiri sudah tdk begitu aktif mengurusi adek2 kelas, saya jadi ngga tahu deh skrg masih dijalankan atau tidak acara ini. Hehehe. Ya bagi para adek kelas yang membaca post saya ini, jadi, masih ada ga acara ini deh??? Kl uda ga ada, bikin lg yuk, saya mau bantu2, bantu senyum.. Hihihi. Ahiy!!

Senyum dulu ah.. ๐Ÿ™‚

*Gurls, foto yang bareng2 berbanyak ga ada masaaaa.. Jadi ya uda biar cm Dyah Laila Hanum dan gw aja yang nampang meringis yaaaaaa… But all of u will always be in my heart kok.. Hahahaha.. *peluk!!

Advertisements