Chez Ali – Marrakech – Maroko..

Ke Maroko tdk lengkap (katanya) kalau ngga ke Marrakech (baca: Marakesh). Semua teman sibuk menanyakan apa saya ke Marrakech. Saya jawab, ya, saya ke Marrakech. Tapi sejujurnya, saya tdk begitu suka Marrakech. Rabat lebih mengasyikkan untuk saya. Mungkin kalau saya pergi dengan teman2, backpacking lalu lanjut ke Sahara, Marrakech akan menjadi tempat yang menggugah hati. Hehehe.

Di Marrakech kami sempat ke Chez Ali. Seperti namanya ‘rumah/tempat Ali’, Chez Ali memang dibangun oleh Ali, meliputi restoran, tempat hiburan (bukan bar, tapi kayak wahana pertunjukkan gt), dan hotel. Kami datang karena ingin melihat pertunjukkan, kata Madhan ada pertunjukkan kuda dan belly dance. Ahoy!! Hihihi. Lokasi Chez Ali sendiri cukup jauh dari dalam kota Marrakechnya, agak kepinggir menuju autorute yang menghubungkan Marrakech-Casablanca. Tempatnya mblusuk2 ke dalam, cukup jauh, tapi ketika masuk, jreng!! Terlihat bus2 dan mobil pribadi parkir. Saya jadi penasaran.

Gerbangnya bagus. Yakin akan banyak yang foto2 di situ. Hehe. Dengan harga tiket 100 dirham kami pun masuk. Ada dua perempuan berpakaian Maroko (sebenarnya  bukan Maroko si, ya pakaiannya costumy aja gt lah) menunggu di gerbang dalam. Pengunjung bs berfoto dengan mereka, nanti ada fotografernya. Lah saya kan bawa kamera, ngapain donk pake fotografer dr sana? Akal2annya sama aja kayak di Indonesia. Saat saya dan mamah mendekati perempuan itu dan adek Zahra yang akan memotret kami, cekrek!! Fotografer sana ikut memotret dan ketika fotografer sana selesai memotret, dua perempuan itu cepat bergerak menjauh dr kami. Adek Zahra yang ga tau akan spt ini bingung krn jd ga dapet foto kami (krn set kamera saya masih tanpa flash, diafragma kecil, tutupan lensa pun lama) gambar jd tdk terekam dgn cepat dan terekamnya ketika dua perempuan itu sudah bergerak menjauh dr kami, jadi gambarnya blur. Abis itu gantian saya yang memotret Madhan dan Adek yang berfoto sama mereka. Saya ubah set kamera dan cekrek!! Dapet deh!! Hehehe.

Kemudian kami masuk. Ada dua tiket memang yang ditawarkan, 100 dirham yang hanya melihat pertunjukkan (plus dapat jus d’orange atau teh niknak gratuit), atau 400 dirham yang mendapat makan malam istimewa di restoran yang berada di sekitar area pertunjukkan. Saya sempat melihat ke dalam restonya, suasananya memang Maroko banget. Tapi saya ga gt suka, terlalu riuh, berisik. Belum lagi grup lenong berisi penari dan beberapa pemain rebana yang bisa dua puluh menit sekali datang (dan kita harus memberi uang), agak ga nyaman. Lebih ga nyamannya lagi adlh, semua org harus menunggu yang bayar 400 dirham selesai makan baru bisa lihat pertunjukkan. Kata Pak Hassan pertunjukkan pukul 21.30, tapi ternyata orang2 itu blm pada selesai makan, jadilah pertunjukkan molor jd pukul 22.30 kalau ga salah. Lama aja pokoknya nunggunya. Hehehe. Nasip orang yang membayar 100 dirham, bengong2 dl nunggu org yg bayar 400 dirham selesai makan. Hehehe.

Akhirnya pertunjukkan dimulai lah. JRENG!!

Lhaaaaaaaaaaa kok cerita pengantar pertunjukkannya dalam Bahasa Araaaab????? Mana saya pahaaaaaaaaam??? *dubrak!!* Ya baiklah, liat pertunjukkannya saja kl gt..

Penari2 lalu datang, berjalan (yang sepertinya sudah cukup cepat tapi masih terhitung lama menunggu mereka masuk dalam arena). Lalu kirab bersama. Setelah itu mereka ngumpul di ujung kanan . Lalu keluarlah mobil berbentuk kubah. Lalu ada perempuan memakai jubah naik. Melepas jubahnya dan jreng, dia belly dance di atas mobil kubah. Lumayan lama juga tu belly dancenya. Lalu mobil kembali dan ksatria berkuda memulai pertunjukannya. Pertunjukkan mereka dimulai dengan berlarinya sekitar enam atau tujuh ksatria, memutar senapan anginnya, dan BDULLLL!!!, (ini suara senapan angin versi saya ya, kalau norak ya maafin aja), suara senapan yang ditembakkan membahana. Mulailah satu demi satu ksatria itu mengitari setengah arena dan jumpalitan di atas kuda. Mungkin ada sekitar dua puluh versi jumpalitan dipertontonkan. Semua mengundang “woooaaa.. woaaaa..” dr penonton. Selesai pertunjukkan, semua pendukung acara berkumpul lalu kirab lagi.

Lalu musik house berdetak, mengajak semua orang berjoget. Ini musik house Amerika ya, bukan Maroko. Saya lupa judulnya apa, lagu lama. Saya ikut berjoget dari tempat duduk saya. Acara selesai, dan kami pun pulang.

Dalam perjalanan keluar (dan dari tengah pertunjukkan tadi sebenarnya), saya menyadari kalau pertunjukkan 100 dirham ini sesungguhnya ngga ada apa2nya dibanding pertunjukkan kebudayaan dari Indonesia. Entah itu tarian, wayang, nyanyian, atau pertunjukkan budaya lainnya. Ksatria berkuda itu tentu (bagi saya) kalah dari sendratari Ramayana di Prambanan atau bahkan yang di Purawisata. Belly dance itu tentu kalah jauh dibanding pertunjukkan tari pendet atau kecak di Bali. Dan penabuh rebana itu tentu kalah dari permainan angklung atraktif di Saung Mang Udjo. Dan fakta bahwa seluruh pertunjukkan kebudayaan Indonesia yang pernah saya tonton selalu menyiapkan fotokopi cerita dibalik pertunjukkannya dalam setidaknya tiga bahasa (Inggris, Prancis, Jerman) semakin membuat pertunjukkan budaya Indonesia jauh lebih baik dari ksatria jumpalitan ini. Lah trus, kenapa ini bisa seterkenal ini ya???? Jreng!!

Saya jadi bilang ke Pahad dan Madhan dan mamah, “Yuk bikin kayak gini yuk di Indonesia pah mah. Ga akan kalaaaah. Kita lebih kaya..” Yang langsung diamini semuanya. Amin amin, semoga tercapai amin.

Gila, semakin saya sering melihat negara lain, saya semakin sadar. Semakin sadar kalau negara saya sendiri sungguh kaya dan memesona. Cuma kurang digenjot untuk membuat orang terpana aja. Hehehe. Yuk genjot bareng2 Indonesianaaaaa!! :)))

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements