Dewasa di jalan..

Sekitar tiga hari yang lalu saya mengalami kejadian yang membuat saya shock. Bukan karena perihal fisik, tapi lebih ke perasaan sedih yang menyeruak.

Malam itu hujan deras, macet tak terkira. Mobil semua mepet. Mepetnya benar-benar mepet. Yang dari kiri mau ke kanan, yang kanan menyusruk ke tengah, yang tengah pasrah. Ya, saya dan Bombom di tengah, pasrah. Hehehe. Lagi asik-asiknya dengar radio tiba-tiba braaaakkk… Yaaaaah, si Bombom ditabrak mobil belakang deh. Ditabraknya bukan yang kenceng gitu (ya macet juga kan), tapi itu kan jalan menurun jadi pikir saya, kayaknya ni orangnya uda merasa nginjak rem tapi masih ndlosor, jadi nyundul Bombom. -__-” Tadinya saya mau langsung turun, tapi karena mobil depan saya maju sedikit, maka saya ikut majukan Bombom, lalu turun untuk melihat. Sungguh niat saya hanya untuk melihat Bombom, saya ngga akan perpanjang hal ini. Alhamdulillah Bombom sudah tercover asuransi maka kalau orang (yang nabrak) sudah mengucap maaf, saya legowo saja, biar asuransi yang urus. Itu yang diajarkan bujendral dan Mamah Dhani. Salaman, senyum, selesai. *ya kalo ganteng boleh tukeran pin BB* *LHO?!* 
Tapi betapa kagetnya ketika saya turun (dengan wedges dua belas senti!! CAMKAN!!*) di tengah hujan, alih-alih keluar dan meminta maaf, pengemudi mobil belakang lebih memilih untuk menggas mobilnya, memepet saya (kayak mau nyerempet) sampai saya kaget dan langsung menghindar nempel ke Bombom (dan baju basah kabbeh, makaseeeeh!!), lalu ambil jalur kanan (yang kosong karena untuk masuk tol) dan cuss masuk tol. Meninggalkan saya yang bengong dan shock di tengah jalan. Sungguh, lelaki macam apa itu??? Ga osah tukeran pin BB!! Your lost!! *lho teteup?!* *getokpalaBulan*
Meraba Bombom sebentar, dekok gitu, lalu masuk, berdiam, shock berat. Shock bukan karena saya hampir  diserempet tapi karena pikiran kok yaaaaa ada orang kayak gitu??? Yang bukannya turun secara gentleman dan minta maaf, malah kabur sambil pake hampir nyerempet??? Yampuuuun, itu ga diajarin sopan santun apa ya?? Apa diajarin tapi masuk kuping kiri keluar kuping kanan? Hih!! Gemes!!! *cubit pipi Acil!!*
I was about to cry that night. Tapi saya lagi belajar untuk ga jadi cengeng maka saya atur napas dan menyugesti diri untuk tidak nangis, dan berhasil!! Hehehe. Senangnyah hatikuuuuh… *jumplak2*
Sampai di rumah saya raba dekoknya Bombom lalu tangan masuk ke dalam bumper dan tung!!! Saya dorong dan Bombom kembali sehat. Alhamdulillah ga harus masuk rumahsakit ya Bom.. 🙂 Onya datang menemani malam itu dan saya segar kembali (ya begitulah saya, gampang nangis gampang lupa gampang ketawa, gampangan lah pokoknya..hihihi).
Jalanan Jakarta akhir-akhir ini memang menggila. Ga pagi ga siang ga malam ga supermalam, adaaaaa aja macetnya. Kalau ditambah hujan, wih.. *puk2dirisendiri*. Kalau hari Jumat malam, wih.. *pelukdirisendiri*. Kalau Jumat malam ditambah hujan..Yasalam, mending melipir ke coffee shop, ngupi-ngupi dulu, ntar jam sepuluhan baru jalan pulang. KOSONG??? Ya engga lah, tapi mendingan. Hihihi. Tapi jalanan Jakarta juga somehow membuat kita dewasa dan semakin tepa selira (tepa selira?? ih, uda lama ga dengar itu.. :D). Jadi tergantung kita memilih untuk jadi yang mana. Yang bersikap cuek srobot sana sini ga sabaran atau yang sabar tapi juga ngga pelan-pelan amatan (dim dim lampu dim!! :p). Yang mengalah saat memang diperlukan dan memberi jalan bergantian atau yang ala preman semua jalan punya nenek moyang. Yang mampu bersikap gentle, turun dari mobil dan minta maaf saat menabrak atau yang malah hampir nyerempet lalu kabur. Your choice. 🙂
Yang bisa ‘menaklukkan’ jalanan Jakarta (nyetir ya, bukan jadi penumpang) sesungguhnya mendapat lebih banyak kesempatan untuk bersyukur saat mereka berada di jalanan yang lebih lapang. Saking uda terbiasanya terhuaaa-huaaa di jalanan Jakarta kan jadi senang dan bersyukur kalau berada di jalanan lain yang tidak semacet dan sepenuh ini ya. Hihihi.
Jadi pak tukang, kapan kita pindah Jogja?? *lalu disambit mesin jait* Hihihi..
Senyum dulu ah.. 🙂
*pic taken from Google linked to http://www.rumahnyarenard.wordpress.com.. Terimakasih Mas Renard. Mari kita nikmati kemacetan Jakarta dengan senyum ya.. 🙂
Advertisements