Mom..

Malam itu saya sedang menghabiskan waktu bersama teman-teman di sebuah ladang gaul di Jakarta Selatan (deilah Lamandau aja dibilang ladang gaul deh.. :))) ), when I overheard satu anak di belakang saya mengucap “Iyeeeee, cerewet banget sih. Ya orang juga nanti pulang!!”. Saya menengok sekilas, ia sedang  berbicara di telepon. Telepon dimatikan, digantikan dengan ucapan “Nyokap gue cerewet banget deh!! Berisik!! Rempong!!” Lalu disambut gelak tawa kecil temannya. Dan saya tertegun.

How can we define a good mother than a bad one then?
A good mother is the one who will always there beside us while a bad one not?
A good mother is the one who accept us for the way we are?
A bad mother is the one who always demand us to be like what they want?
A bad mother is the one who never trust us and check on us every minute every day?

Well, motherhood has never been easy. It’s a constant bond that one can never realize until they become a mother on their own. That is what I know.

Mine? Oh, mamah saya selalu menjadi teman, sahabat, pendukung, sekaligus ‘musuh’ saya. Hell yeah, semua itu ada di mamah saya. Dalam usia saya yang dua puluh enam tahun ini, yang berarti sudah dua puluh enam tahun sembilan bulan saya hidup bersamanya, saya masih belajar untuk terus memiliki hubungan dua arah yang baik dengan mamah. Ya, ada masa saya sangat sebal dengan beliau. Ya ada masa saya ingin teriak “Aaaaaah, kenapa siiiih???” pada Tuhan bertanya kenapa mamah saya begini dan begitu. Ya ada masa saya mendehem dan berpikir “Yea right, like she knows!!” yang ingin saya acukan bahwa mamah tidak mengerti posisi saya selain hanya ingin saya bergerak sesuai dengan yang beliau inginkan. Tapi, ya, ada masa saya menyadari bahwa dengan segala kekurangan saya, dengan segala kebodohan saya, dengan segala keanehan saya, mungkin beliau lah satu-satunya orang yang dengan tulus tetap menyayangi saya.

Saya jadi ingat pembicaraan saya dan Mas Yurie tentang ibu. More or less, he said “Tidak ada yang salah dalam hubungan anak dengan ibunya yang kadang kurang baik. Semua kembali ke adanya senjang waktu di antara mereka berdua yang membuat cara berpikir mereka berbeda. Apa yang dilakukan seorang ibu adalah karena ia ingin menunjukkan rasa sayang, dan kadang, hal ini diterima anaknya sebagai sebuah keribetan. Ibu nelpon itu karena dia ingin tau kabar anaknya, memastikan anaknya baik-baik saja, hal yang membuat dia tenang. Sementara anaknya mungkin menganggap itu ribet, anaknya lagi ada kegiatan sama temannya pake ditelpon terus-terusan. See? Beda cara pemikiran dan beda penerimaan. Ya itu wajar. Tinggal bagaimana kita sebagai anak berkompromi dengan itu semua.”

Saya tersenyum melihat kebenaran dari apa yang dia katakan. Tidak berapa lama Mas Yurie mengatakan itu, saya melihat contoh nyata. Seorang ibu di depan kami menelpon anaknya “Loe dimana? Yeeee, cepet datang kesini, mamah uda beliin makan. Iiiih, uda beliin makan banyak, jangan main-main ya, cepet kesini!!” Tidak berapa lama anaknya datang, ibunya bertanya lagi “Sama siapa? Kok sendirian? Mamah udah beliin makan banyak, temen-temennya mana?”

Anak itu keluar dan memanggil teman-temannya, dua orang. Lalu mereka duduk bersama dengan makanan terhidang banyak sekali di depan mereka. Tapi saya menangkap air muka anaknya yang sepertinya kesal. Sebal. Bete. Saya bilang ke Mas Yurie, “Ini ya mas yang namanya gap itu. Ibunya maksudnya baik, mau nraktir anaknya dan teman-temannya, tapi anaknya kesel karena waktu main dia dan teman-temannya jadi keganggu. Pikiran ibunya, anak-anak ini ditraktir makan enak dan melimpah pasti seneng. Tapi pemikiran anaknya, dia ga perlu makanan enak dan melimpah karena yang penting kumpul sama teman-temannya dan ga ribet pake ada ibunya di situ.”

He smiled and said “Pinteeeerr…” *btw, saya jadi ngerasa oon banget deh kalo di”pinteeerrr”in orang..hahaha*

Maka saya berpikir, untuk hubungan yang sehat, saya harus bisa lebih berkompromi sama mamah, saya akan menikmati waktu bersama mamah, dibawa santai, ngga usah terlalu sensitif, dibawa senyum. Kalau mamah sedang menyebalkan (bagi saya), yasudah diterima saja. She’s just being a mom. Kalau mamah sedang ribet atur-atur saya, yasudah diterima saja. She’s just being a mom. Dan kalau mamah lah yang pada akhirnya memeluk saya dalam kasih, mencium kepala saya, mencium pipi saya, dan mengatakan sayalah pelita hatinya, so true that she’s a mom. Hehehe.

Selamat Hari Ibu ya mamahku dan semua mamah-mamah di dunia.
Yang pake flats atau yang pake heels.
Yang pake celana panjang atau yang pake rok mini.
Yang merokok atau yang tidak.
Yang minum atau yang tidak.
Yang membuatkan bekal anaknya di pagi hari atau yang tidak.
Yang mengurus baju sekolah anaknya atau yang tidak.
Yang membaca agenda sekolah anaknya atau yang tidak.

Karena sesungguhnya, tidak pernah ada satu orang pun yang bisa mendefinisikan ibu yang baik itu seperti apa bagi semua orang. Bagi saya, terlepas dari segala kekurangannya sebagai manusia, mamah saya tetap yang terbaik. Aaaaa love uuu mucho mucho bujendraaaal.. Aaaaa love uuu mucho muchooo.. *monyong2in bibir ke mamah* Hahaha..

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements