[Bukan] Tips: Uang Jalan-Jalan..

Hai pembaca..

Post ini saya terbitkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan ke saya,

“Gimana cara jalan-jalan terus? Duitnya darimana? Mahal ya?”.

Maka saya jawab secara rapel aja di sini ya. πŸ™‚

Ada beberapa cara untuk bisa jalan-jalan. Yang pertama dan yang perlu saya garisbawahi di sini, semua tergantung niat. Hehehe. Saya ingat saat lulus SMA, pulang dari Singapore (menang taruhan sama papa) saya mengucap “Maunya nanti kerja keras trus jalan-jalan. Kerja keras lagi trus jalan-jalan lagi.” Gitu. Hihihi. Maka itu yang saya lakukan. Itu masuk dalam prioritas saya. I’m fulfilling my dream(s), insyaallah. Nah back to niat, kalau uda niat ya mestakung, semesta mendukung. Jadi niatkan dulu kalau memang mau jalan-jalan ya. Hehehe.

Yang kedua tentu nabung. Klise? Yes. Work well? YES!! Saya melakukannya? YESSS BANGEEET!!! Hehehe. Ke Bukittinggi saya menabung di Onya. Ke KL-Melacca-Singapore, saya nabung di Silka. Ke Thailand-India, nabung ke Kaka Hanny (yang mana mengetik ini saya jadi nyadar saya belum nabung ke Kaka Hanny deh bulan ini..-__-“). Besar tabungan bisa dihitung dari perkiraan pengeluaran dibagi berapa bulan akan menabungnya sampai masa berangkat. Ke Onya saya nabung dua ratus ribu per bulan, perkiraan akan berangkat Juni, saya sudah ada tabungan dua juta rupiah. Ke Silka saya ngga rutin per bulan, cuma para buyer yang minta nomer rekening Mandiri (yang saya ngga punya itu), saya acu aja ke Mandirinya Silka, trus ngga saya ambil-ambil deh, jadi tabungan deh. Hihihi. *dikemplang Silka*. Ke Kaka Hanny saya nabung lima ratus ribu per bulan, berangkat Agustus akan ada lima juta. Apa itu berat? Bagi saya justru memudahkan, karena ga berasa. Coba aja sisihkan 10-200ribu per bulan untuk nabung, itu ga akan sebegitu terasanya, tapi hasilnya cihuy marihuy. :D. Oya, speaking of mencicil, saya bukan orang yang terbiasa dapet barangnya dulu baru mencicil kemudian, jadi membiayai perjalanan dengan kartukredit adalah bukan pilihan saya, saya kurang nyaman dengan metode itu, tapi kalau ada yang nyaman dengan metode itu, selama bisa stick membayar tiap bulan sehabis jalan-jalan sih monggo aja. πŸ™‚

Yang ketiga, kalau punya orangtua seperti bujendral yang sering dapat tugas ke luar kota, ‘numpang’ ajah. :))) Tapi tunjukkan dedikasi diri ya, jangan beneran numpang semua-muanya. Kalau saya lagi ‘numpang’, tiket perjalanan saya bayar sendiri. Ini lebih fleksibel sih, beberapa kali jalan bareng bujendral, tiketnya saya ngutang dulu. Misalnya tiket sejuta, saya baru punya uang delapan ratus ribu, ya ngutang dulu kekurangannya. Hehehe. *senyum kinyis-kinyis*. Utang tetep utang ya, harus dibayar. Itu namanya dedikasi. Kalau uda diutangin trus ga bayar, dijamin orangtua juga males ‘ditumpangin’ lagi. :p. Dan ‘numpang’ itu jangan nyusahin, kita udah harus tahu mau kemana aja, ngapain aja, bawa apa aja, dan gimana pergi kesananya. Juga, harus bisa mingling. As we know, kalau ‘numpang’ ortu yang lagi kerja, pasti ada momen dimana kita akan ketemu dengan teman-teman beliau. Nah di sini diperlukanlah ilmu komunikasi itu. Tempatkan diri dengan baik, ikut ngobrol, jaga kesopanan, peduli. Jangan lagi kumpul sama teman-teman ortu dan kita sibuk sama Blackberry, ndak sopan lah. Tambahan, ‘numpang’ sama ortu, kita harus siap jadi ‘asisten’ ortu juga. Saya kalau lagi numpang bujendral ya bersiap bantu bawa tas bujendral yang segambreng, bantu beliau set laptop atau set kursi dan bla bla bla sebelum saya pergi jalan-jalan sendiri. Itu ga ribet kok, dibawa santai aja. πŸ™‚ ‘Numpang’ ini bisa save beberapa pengeluaran. Penginapan gratis, makan (kadang) gratis, ketemu banyak teman baru, nambah pengetahuan. Dan acara bekerja ini kadang bisa membawa kita ke tempat-tempat yang sesungguhnya bukan destinasi wisata tapi ga kalah kerennya. Bujendral terakhir kemarin ke Kupang, tapi ga lama di Kupangnya, lamanya di Bajawa. Have u ever heard of Bajawa??? Bukan destinasi wisata toh, tapi apa akan ada bagusnya? Ya pasti laaaah, setiap tempat kan ada keunikannya masing-masing. Pinter-pinter nyari aja. πŸ˜‰

Yang keempat, siapkan persiapan. Kalau kalian tipe get set-go, ini dilewatin aja karena pasti ga bisa. Hahaha. Alasan saya sudah punya tiket jalan-jalan sampe Agustus tahun ini adalah karena persiapan jauh hari menekan biaya. Pembelian tiket ke Singapore untuk besok dan untuk tiga bulan ke depan, pasti beda. Maka belilah tiket jauh-jauh hari (atau jauh-jauh bulan). Hehehe. Gada salahnya juga untuk daftar member di beberapa maskapai favorit (Air Asiaaaa.. *lempar lope-lope di udara*), gratis dan kita akan dikirimkan email pemberitahuan duluan kalau mereka akan ada sale. Yuppy yup kan. Berangkat di bulan-bulan mendatang juga menjaga mood saya “ga sabar nunggu Januari!!” atau “ga sabar nunggu Juli!!”. Hihihi. Jangan lupa cek kalender akademik untuk yang siswa *kasi cermin ke Bulan, kemarin lupa uda ada jadwal kuliah, uda mau klak klik beli tiket ajah* dan kalender cuti bersama untuk yang kerja. πŸ˜‰

Yang kelima, CARI GRATISAN!! Nah yang ini pasti banyak yang mau ni. Hahaha. Saya bisa jalan-jalan gratis kalau kayak kemarin, diminta nemenin jalan-jalan, jadi tour leader. Gratisan juga bisa kalau kita menang kuis atau disponsorin. Menang kuis dan sponsor saya belum pernah, jadi belum bisa cerita detail. Tapi teman ada yang jalan-jalan sebulan tiga kali ke tiga tempat berbeda gratis karena sponsor. Hahaha. Harus aktif sih kalau mau dapet. Saya pribadi cukup pasrah untuk hal ini, wong doorprize memperebutkan piring cantik aja saya ga pernah dapet, rejeki saya memang bukan disitu kayaknya. Hihihi.

Untuk biayanya, kalau saya, uangnya ya dari tabungan. Tabungannya dari hasil usaha yang saya jalani dan hasil beberapa investasi. Mahal atau engganya tergantung tipe jalan-jalan yang kalian lakukan dan tipe pejalan seperti apa kalian ini. Saya flashpacker, backpacking yang ampe kasian-kasian amat terusterang saya ngga bisa, jadi kalau untuk tambah pengeluaran supaya lebih nyaman, saya hayuk. Tapi saya ga suka hotel (I have a weird feeling towards aisle and not really comfortable gettin back to a big cold room), jadi lebih pilih hostel atau dorm, itu lebih murah. Saya lebih suka makan di warung daripada di resto, ini juga tentu lebih murah. Saya jarang beli bagasi, ransel saya 35liter, bisa memuat barang untuk 7-8hari perjalanan, bisa masuk kabin, tiket jadi lebih murah. Dan gong-nya, saya bukan tipe pembelanja, pasti hemat ho-oh dooonk. :)))).

Am not saying that travelling is easy and cheap (nor do automotive and golf, for example), but once you set your mind to it, have faith that the universe will conspire to make it happen. πŸ˜‰ Believe.

Yuk mari kita jalan-jalan!! πŸ˜‰

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements