Vintagenya Belitong..

Hari pertama di Belitong, kami tidak ke pantai. Eh ke pantai denk, satu doank, pantai Burong Mandi, cukup bagus tapi ngga bisa dikatakan spesial, apalagi pake telor. *krik krik krik*

Kami menempuh perjalanan darat lebikurang 240km sepanjang hari pertama itu. Harus saya katakan, untuk daratannya, Belitong tidak begitu bagus, cenderung membosankan malah. Saya, karena baru pertama kali kesana, cukup asik melihat rumah-rumah yang berada di kiri kanan jalan, terpisah cukup jauh satu dengan yang lainnya, rumah-rumah ini sungguh berbeda-beda. Yang saya suka rumah panggung kayu dengan posisi kayu horizontal, menurut saya itu keren ajah. Vintage gimanaaaa gitu. Ternyata pas nanya sama Bang Dodi yang mengurus Galeri Laskar Pelangi, yang rumah asli justru kayunya berposisi vertikal. Hahaha. Analisa saya kenapa sekarang ada rumah kayu dengan posisi kayu horizontal adalah karena sudah sangat sedikit kayu yang dibiarkan tumbuh sampai tinggi sehingga bisa disusun secara vertikal. Kayu-kayu sekarang pendek-pendek jadi ngga cukup untuk disusun menyamping. Ya ngga sih? Hehehe. Yang saya paling sebel lihatnya itu rumah dengan keramik di dindingnya sampai ke atas. What the iiiihhh?? Penyimpangan terhadap fashion banget. :))))

Lucunya lagi, walaupun siang hari, rumah-rumah ini sepi seperti tak berpenghuni. Ada juga rumah yang kaca jendelanya kotor dan sudah pecah dan dibiarkan saja gordinnya keluar sedikit. Saya sempat berpikir apa rumah-rumah ini rumah lama yang sudah ditinggalkan pemiliknya karena kok kayaknya kosong gitu, tapi ternyata masih ada pemiliknya, most of them adalah orangtua. Hmm. Jadi kasian, kalau terjadi sesuatu sama mereka gimana ya? Rumah berjauh-jauhan gitu. šŸ˜¦

Ada juga satu hal yang tidak biasa di rumah-rumah orang Belitong. Beberapa rumah ini dihiasi karton bertulisan di dekat pintu masuknya. Ada yang ditaruh di pinggir pintu, ada yang di pintunya, ada yang di atas jendela depan. Tulisan yang paling jamak saya lihat adalah “Selamat Datang” atau “Silahkan masuk” atau gabungan keduanya “Selamat datang. Silahkan masuk.” ada juga “Ucapkan salam.” dan “Welcome”. Atau juga “Ketua RT 06 Desa Perawas.” <– Oke, yang terakhir saya cuma becanda kok, itu mah penanda ajah. Hihihi.

Rumah Belitong yang lama adalah rumah panggung, dan rumah panggung ini bisa di pindah-pindah lho. Ibu-ibu yang saya ajak ngobrol bercerita kalau tadinya rumahnya tidak berada di tempatnya sekarang. Rumahnya lalu diangkat oleh seratusan orang dan dipindahkan ke tempat sekarang. Keren!! Nanti kalau rumah panggung ini sudah mau dibikin permanen, maka di bawahnya disemen lalu rumah panggung ini diturunkan biar menempel ke semennya, jadi permanen. Huwaaaa. Keceeeeee.

Berjalan-jalan di Belitong itu seperti kembali ke masa lalu. Semua terasa vintage, klasik. Saya seperti tengah berada di jaman anak muda pake celana cutbray mengendarai vespa dengan kacamata menutupi muka. Cool!! Untung ga jadi bawa ipodnya Budi, kalau bawa, ditemani musik-musik orkes, wuih, semakin dalam aja rasanya. Hihihi.

Senyum dulu ah.. šŸ™‚

Advertisements