Jadi lokal atau jadi turis?

Saya pernah membaca di salah satu tulisan, kayaknya blogpost tapi saya lupa juga alamatnya. Tulisannya lebih kurang “Nikmatilah suatu tempat seperti orang lokal..”

Saya cuma menganga aja bacanya. Kok saya ngga setuju ya. Beberapa kali saya jalan-jalan dan kalau diminta memilih mau menjalani jalan-jalannya sebagai orang lokal atau turis, saya pasti memilih untuk jadi turis.

Menjadi orang lokal itu berarti menjadi saya di Jakarta. Saya yang sudah rutin berada di tempat ini dan tidak terlalu peduli lagi dengan apa-apa yang ditawarkan kota ini ke saya. Saya yang tidak tahu naik angkutan apa jika mau kemana karena seringnya saya bersama Opie. Saya yang belum pernah mencoba SELURUH permainan di Dufan karena kendala rasa takut atau sesederhana perasaan ‘ya yang ini ga usa naik sekarang kan besok bisa balik lagi’. Saya yang tidak terlalu mengejar “Wah, harus coba resto baru yang HIP!!” karena perasaan ‘besok-besok juga bisa’. Saya yang tidak terlalu peduli untuk melihat apa yang terjadi di sekeliling saya ketika saya naik kereta karena semua terasa rutin dan biasa. Itulah menjadi lokal. Saat semua sudah mejadi rutinitas maka hal-hal kecil akan luput dari pandangan kita.

Beda dengan saat saya menjadi turis. Menjadi turis membuat saya menyerap dan melihat segala sesuatu dengan lebih detil meskipun harus perlahan karena segala sesuatunya baru. Itu bukan rutinitas saya sehingga mungkin ‘tidak ada esok hari di tempat ini’ jadi mari maksimalkan hari ini.

Ketika dalam perjalanan kami mencari jalan masuk ke KL Tower untuk melihat overview kota KL di malam hari, kami yang merasa terlalu jauh berjalan dan sepertinya malah menjauh instead of mendekat memutuskan untuk bertanya pada orang lokal. Yang mana menurut hemat saya, they supposed to know.

Lelaki pertama yang saya tanyakan di jalan dengan polosnya menjawab “Mmm.. I’ve never been to KL Tower..” JRENG!! Ini ada KL Tower yang dielu-elukan pemerintah loe dan dimasukkan ke peta sebagai tujuan wisata berkategori ‘MUST SEE’ dan loe sebagai orang yang tinggal di KL belum pernah naik gitu?? Gimana si??

Tapi lalu saya sadar, ya ini sama aja seperti di Jakarta ya. Kalau ada orang bertanya ke saya di tengah jalan, untuk masuk Monas harus lewat mana, saya kemungkinan besar juga ngga bisa jawab. Karena saya adalah orang lokal, yang tinggal di Jakarta, dan bisa setiap hari lihat Monas and not care enough untuk masuk ke dalam dan menikmati overview kota Jakarta dari atas Monas. Terakhir saya ke Monas sekitar lima tahun lalu gitu. Hihihi. Begitu juga dengan lelaki pinggir jalan tadi, dia mungkin sudah terlalu sibuk bekerja sehingga lupa mengunjungi KL Tower dan melihat pemandangan kotanya sendiri.

Hal-hal kecil seperti ini yang membuat kadang turis lebih mengerti tentang kota kita daripada kita sendiri. Turis lebih mengerti tentang daerah-daerah wisata yang kemudian membuat kita membelalak saat melihat fotonya dan bertanya itu diambil di mana, lalu ketika dijawab di suatu tempat yang sesungguhnya tidak jauh dari tempat tinggal kita, kita cuma bisa melongo heran karena melewatkan sebuah tempat yang menawarkan keindahan semacam itu. We never know it could look that good. That’s us, locals.

Maka ketika berjalan-jalan, saya jujur mengatakan, saya tidak mau menjadi orang lokal. Saya mau jadi turis saja. I ask when I lost, I check the map every now and then, I visit some usual places for locals but it always be unusual for me (cus I’m a tourist), I enjoy my moment when I need to buy tickets through machine, I smile to the ‘beep’ everytime I tap the card to enter a station or a bus, and I feel the soul of a place like I can’t feel it tomorrow. 🙂

Dan sekarang saya jadi pengen mencoba jadi turis di kota saya sendiri, Jakarta. Menikmati setiap detil ketika saya harus naik kendaraan umum. Eh, saya belom pernah naik ojek sepeda lho. Hahaha. Baiklah, mari kita cari buku panduan tempat-tempat wisatanya. Ada yang mau ikut jalan-jalan? 🙂

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements