Tertula di Kuala Lumpur

Pertama saya membeli tiket Jkt-KL, satu yang ada di pikiran saya. Andre. Hahaha.

Andre teman mengajar dulu di Regina Pacis, we were pretty close dan pernah membahas soal KL ini. Saya (yang dulu) tidak begitu respect dengan Malaysia (karena kasus so-called pencurian kesenian Indonesia dan bla bla bla itu) mengatakan bahwa saya tidak mau lagi menyentuh negara ini, tapi lalu saya ralat, oke mungkin akan menyentuh tapi di bandaranya aja untuk transit ke negara lain (karena helloooo, Air Asia basenya di Malaysia bukaaaan, jadi kalau ke negara-negara di luar Asia pasti transit di Malaysia dulu bukaaan..). Andre cuma senyum-senyum nyebelin saat itu dan mengatakan “Ati-ati, ntar kualat lho Buy..”

Time flies dan JRENG!! Di sinilah saya. At the heart of Malaysia, Kuala Lumpur. Hahahaha.

Apa saya sudah respect dengan Malaysia? Well, tidak bisa dikatakan respect juga, tapi saya sudah menghilangkan rasa tidak respect saya. Itu aja. Membaca blogpostnya Marcel beberapa saat lalu membuka mata saya akan bagaimana mencoba melihat permasalahan Indonesia Malaysia dengan pandangan yang berbeda. So I’m dealin with all of those dan lebih cuek sekarang. πŸ˜€

KL, I must admit, kinda like this city. Walaupun panas luar biasa (oke, pembandingnya salah ya karena Jakarta juga panas tapi saya sama Opie terus.. Hehehe) tapi jiwanya seperti terus berdetam. Seakan tidak tidur, mengajak saya untuk terus keluar, melihat, mengalami.

Tiga hari di KL saya belum puas, masih pengen balik dan explore lagi. Maybe next time. πŸ™‚

So, Andre, if you read this post, yes, surely gue kualat. Hahaha. Ketawa aja yang lebaaaaar, yang puaaasss. Gue terima deh duuulll.. :)))

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements