Makan enak di Melaka..

Perjalanan kali ini memang menaikkan berat badan saya (lagi) sekitar dua kilo. Not to mention kulit yang semakin menghitam sampai-sampai kalau sekarang saya pake baju agak kaget sendiri dengan kontrasnya warna baju ke kulit saya. Dan mineral foundation yang biasa saya pakai membuat wajah saya kayak pake topeng saat memakainya, saking beda levelnya jauh. Hehehe. Tapi gapapa, yang penting happy. Hihihi.

Melaka gudangnya makanan enak. Itu saya akui. Hari pertama di Melaka saya dan Silka makan Chicken Rice di tempat yang direkomendasikan uncle sebagai the best chicken rice in town, yaitu Hoe Kee Chicken Rice. Pelayannya (dan perawat anaknya) orang Indonesia tapi kami tidak ngobrol banyak karena saat kami datang, sesungguhnya tempat ini sudah mau tutup. Dan kayaknya kami diberikan ekstra ayam, sekalian menghabiskan ayam masak mereka. Hihihi.

Rice Balls dan Steamed Chicken di Hoe Kee Chicken Rice

Rasanya, JUARRRA!!

Tempat ini hanya menawarkan steamed chicken karena ternyata, menurut sang auntie,  Hainan Chicken Rice (as we call it) aslinya hanya si steamed chicken itu, tidak ada roasted-nya. Maka Hoe Kee mempertahankan dengan hanya menjual steamed chicken. Beruntungnya kami makan di sana sore itu, karena ternyata besoknya, kami sudah niat makan siang lagi di sana (saking enaknya) tapi TUTUP. Kekekeke. Sudah mau imlekkan auntienya. Hehehe.

Makanan lain yang direkomendasikan uncle di hostel adalah dim sum. Dim sum, seperti seharusnya, dimakan sebagai sarapan. Nama restorannya Low Yong Moh Dim Sum, buka dari jam lima setengah pagi – as uncle said (setengah enam maksudnya..hehehe) dan tutup sekitar jam makan siang. Kami ke sana sekitar jam delapan pagi lalu bingung bagaimana memesannya karena semua menu tertulis dalam Bahasa Mandarin. Kekeke. Suasananya juga cukup hectic, seperti layaknya resto Cina terkenal. Dan pelayannya beberapa tidak bisa Bahasa Melayu maupun Inggris. Selamet deh. :)))

Hmmm.. Nyaho siah!!

Akhirnya saya langsung ke depan dan berbicara Melayu dengan pelayan yang di depan, tak lama auntienya datang dan thank Lord, she can speak English walaupun ga terlalu lancar. Hahaha. Pilihan dim sum diantarkan ke meja dan kami memilih mana yang mau kami pesan. Tidak berapa lama, pilihan dessertnya datang lagi dalam nampan besar dan kami memilih lagi mana yang mau kami makan. Agak bingung juga bagaimana nanti membayarnya karena nenek yang menangani perkasiran ga bisa Bahasa Inggris. Akhirnya kami foto aja yang kami makan, kalau-kalau nanti dia tanya, kami tinggal kasih lihat fotonya. Tapi ternyata tidak, dihitung per piring saja.

Pa!! Sembilan piring yang kami makan, dan satu pot Chinese Tea, plus refill. Hihihi. Semua dim sumnya enak!! Favorit saya yang kayak sushi, dibungkus dengan nori. Enaaaaaakkk!!! Gulp!! *tetiba laper*

Foto bukti apa-apa saja yang kami makan. Hihihi.

Kalau yang ini, direkomendasikan oleh Addy, teman kami di KL. Katanya ini tempat menawarkan rasa asli masakan Melayu. Maka, karena Hoe Kee Chicken Rice tutup di hari kedua, menuju lah kami ke Jonker 88. Saya pesan Baba, Silka pesan Nyonya. Dua-duanya laksa tapi saat dicoba, rasanya beda satu sama lain. Pemakaian mie-nya pun beda. Tempat ini memang sangat penuh, apalagi kalau malam, tapi kalau dari rasa masakan, lidah saya seperti terlalu memberontak. Terlalu asam. Tapi mungkin memang sesungguhnya seperti itulah (seharusnya) rasa masakan Melayu. Hehehe.

Baba

Nyonya

Pineapple tart adalah makanan khas dari Melaka, katanya. Penasaran doooonk. Kami coba pineapple tart di salah satu toko terbesar di pojokan jalan, gigitan pertama, Silka langsung sibuk nanya “Gimana gimana?? Enak ga??” Dan saya sambil cengengesan menjawab “NASTAR!!” Hahahaha. Pineapple tart turns out to be nastar. Dan untuk rasa, bikinan Tante Lik jauh lebih enak. Hehehe.

Pineapple Tart A.K.A Nastar! Hihihi

Es Cendol Duren juga dikatakan adalah khasnya Melaka. Kami mencobanya, satu berdua, kamu udek-udek untuk melihat isinya dan LHAH, durennya manaaa?? Penonton kecewa. Hahaha. Ternyata durennya sudah diolah menjadi esnya, beda dengan es duren yang ada di Bandung yang menaruh buah durennya bulet-bulet ke dalam gelas, ini sama sekali ngga ada penampakan si duren. Dan rasanya pun tidak terlalu wow. Masih kalah sama abang-abang es duren Cihampelas lah. Hehehe.

Es Cendol Duren

Es Cendol Clock Tower. Ini juga rekomendasi uncle. Kami kira si Es Cendol Clock Tower ini di satu gedung yang sama dengan si es cendol duren, ternyata eh ternyata tidak sodara-sodara! Es Cendol Clock Tower ini hanya menempati satu kedai di pinggir jalan, dan makannya di belakangnya, di pinggir sungai Melaka. Kami datang sore, sudah habis. Datang esok paginya, belum ada. Akhirnya muter-muter dulu dan kembali lagi. Kali ini Puji Tuhan, sudah ada. Pilihannya pake pulut atau kacang (merah). Saya pakai pulut, Silka pesan yang pakai kacang.

Ini yampuuuuun, enak bangeeeeeeet!!! Sederhana dan nikmaaaaaaaat!! Gulp!! Rasanya segar, cendolnya halus, dan pulutnya pas, tidak terlalu banyak jadi ga eneg. JUARRA!! Penjualnya juga ramah. Ternyata dia pernah tinggal lama di Bandung dan sempat menyebut Cendol Elisabeth. Saya dan Silka jadi cekikikan berpikir, jangan-jangan resep cendol enak ini asalnya dari Cendol Elisabeth di Bandung. Hihihi.

Cendol Clock Tower. ENAK!!

Portuguese Egg Tart. Sudah lama saya tidak makan makanan dewa ini. Nyari di Jakarta tidak ada yang sesuai, aneh semua gitu rasanya. Hihihi. Nah ternyata, di Melaka banyak yang jual. Kami mencoba beli satu tapi tidak suka karena rasanya aneh. Adonannya beda, bukan pake pastry lapis-lapis tipis (opo iki jenenge??) di sekelilingnya, tapi pake adonan kayak si pineapple tart). Untung cuma beli masing-masing satu, jadi gampang abisinnya. Hehe. Nah di tempat yang sama juga jual dim sum. Kita bisa pilih sendiri dim sum apa aja yang mau kita makan. Nah dim sum-nya cukup enak walaupun ngga seenak yang punya Low Yong Moh. Hehehe. Selesai putar-putar malam itu, kami melihat lagi ada yang jual egg tart dengan tampilan yang lebih mumpuni. Nah ini bener deh pake pastry lapis-lapis tipis itu, tapi ga mau terkecoh, kami beli yang kecil saja lalu memakannya di kafe. Tidak sempat difoto juga, uda keburu masuk perut. Hahaha. Rasanya lebih enak dari egg tart pertama tapi tetap tidak bisa mengalahkan egg tart-nya Margaret e Nata di Macau. Hehehe.

Portuguese Egg Tart Ala-ala.. 😦

Kayaknya sudah deh, itu saja tertuduh utama naiknya berat badan saya. Hihihi. Sampai sekarang, melihat fotonya saja, saya masih pengen tu si Hoe Kee Chicken Rice dan Es Cendol Clock Towernya. Ahahaha.

Yang sudah pernah ke Melaka, ada nggak rekomendasi makanan lain di sana yang belum masuk post ini? Mau coba!! 😀

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements