Warga Jakarta = Survivor!

Saat sampai di KLCC, saya sempat bingung dengan sistem transportasi di KL ini. Ada monorail, ada KTM Komuter, ada Rapid KL atau LRT, ada  Express Train Service. Bengong sendiri pas awal. Lalu saya bilang ke Silka “Ini transportasinya membingungkan ya Sil..” Saya membandingkan dengan Hong Kong sih, hehehe. Dijawab Silka, iya, tapi Indonesia lebih membingungkan lagi. Saya langsung cerah, iya juga ya. Hahaha.

Hampir seluruh negara yang saya kunjungi, menyediakan peta wisata di bandaranya, gratis. Petanya beberapa sangat akomodatif, beberapa engga, but still, dengan adanya peta, lebih memudahkan, lebih nyaman. Nah sekarang coba tengok ke Soetta, berapa kali saya menyambangi Soetta pun saya ngga lihat keberadaan si peta deh. Hihihi. Intinya, kalau ke Indonesia, para wisatawan harus siap dengan peralatan perang sendiri. Harus sering-sering googling dan mencatat.

Bayangkan kalau kita mendarat di Soetta, lalu kalau mau ke arah Pasar Minggu naik apa? Oh oke, dikasitau orang, naik Damri. Nah sampai Pasar Minggu, ini bagian mananya Pasar Minggu deh? Kalau Pejaten di sebelah mananya? Ke arah mana? Naik apa? Waktunya berapa lama? JENGJENG!! Semua harus nanya sama orang karena ngga ada keterangan formal apapun angkutan mana, trayek apa, lewat mana. Waktu juga ngga bisa diprediksi, si angkot ngetem ya nunggu dulu lama. Macet, ya jadi tambah lama. Belum kalau si supir angkot tetiba memindahkan penumpang ke angkot lainnya. Yasalam deh kan tu. So clearly, we have a ‘more complicated and confusing’ transportation system. Ada angkot, kopaja, metromini, mayasari, bis jepang, miniarta, taksi, KRL Ekonomi, KRL Komuter, ojek, banyak  beneeeerrrr. Hihihi.

Lalu jadi terpikir dan sampai di sebuah hipotesa, dibuat oleh Rembulan Indira Soetrisno dan Tyagita Silka Hapsari, bahwa jika seseorang bisa hidup di Indonesia, Jakarta khususnya, untuk jangka waktu tiga bulan. Keluar-keluar (ga ngendon di rumah saja) dengan angkutan umum lebih baik (seperti layaknya turis backpacker/flashpacker), maka seyogyanya, orang itu akan baik-baik saja di negara lain. Hihihi. Keribetan sistem transportasi KL mah lewaaaat. :))))


Maka Jakartan, hayuk atuh jalan-jalan, we’re survivors!! We can survive this Jakarta with its yummy-yummy things and we surely will survive almost everywhere in the world!! Hahaha.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements