Anak (Indonesia) Manja di Singapura..1

Pernah males ketemu orang-orang senegara (yang sedang jalan-jalan juga) ketika sedang berjalan-jalan ke luar negeri? Saya, agak sering. Hahaha. Bukan, bukan sombong, karena toh saya ketemu Mas Adi di Macau dan bisa nyambung dan jalan-jalan bareng. Ketemu juga sama Mas Taufik di KL dan ngobrol juga. Ketemu juga sama sepasang ibu dan bapak di Turki dan ngobrol juga. Ketemu juga sama ibu-ibu di Jeddah dan ditanya berapa biaya umrohnya, lalu beliau memberikan wajah “tanya saya, tanya saya!!” pengen ngasitau kalau biaya umrohnya lebih mahal dari biaya umroh saya (yang gratis.. HA!! Eat that!!). Hahaha. Cuma pengalaman kali ini one in a million. Saya sampai masih ingat wajah si Barbie ini. :)))

Saat di Singapore, kami tinggal di sebuah dorm berisi tujuh belas ranjang. Hari pertama, saya sudah ngobrol sama penghuni dari Filipina, yang kemudian saya tahu, ini kali pertama mereka keluar negeri, jadi mereka HIP banget gitu. Bolak balik dari satu gedung ke gedung lainnya (hostel tempat saya menginap punya dua bangunan), nanya saya mau kemana, pokoknya heitz banget. Tapi masih bisa dimaklumi dan mereka ga genggeus. Hehehe.

Di hari kedua, siang, saya dan Silka lagi membereskan ransel kami, datanglah tiga orang perempuan, satu orang laki-laki, dengan ditemani satu host. Masuk ke kamar kayak linglung, lalu host menjelaskan ini itu kemudian mau beranjak pergi. Saya masih sibuk dengan ransel saya ketika kemudian saya mendengar, “OH MY GOD!! We have to do this ourself???” Saya langsung nengok, lalu menahan tawa saya setengah mati. Beruntung saya membelakangi si empunya suara, jadi saya bisa santai kulum-kulum senyum saya. Silka yang susah karena dia menghadap ke empunya suara. Hihihi.

Sang empunya suara adalah seorang perempuan dengan rambut panjang lurus dan poni lurus sealis. Apa pasal dia meng-oh-my-god tadi adalah karena di hostel tempat saya tinggal ini, sprei dan sarung bantal kami pasang sendiri. Host tidak memasangkan. Nah dia meng-oh-my-god-kan keharusannya memasang sprei dan sarung bantal itu. Buahahahahha.. Barbie!!

Pas host keluar, satu dari tiga perempuan itu nanya (dari jauh), “Dari Indonesia juga mbak?” Saya jawab iya, lalu dia nanya dari mana? Saya jawab Jakarta, lalu dia jawab “Oh, sama-sama, idem..” Ya saya kira orang Jakarta donk, tapi kok logatnya masih kental?? Pas saya keluar menuju kamar mandi, saya papasan dengan perempuan yang lainnya (bukan Barbie dan bukan yang nanya tadi), yang ini lebih ramah (dan lebih normal.. :p), saya nanya “Asalnya dari mana? :)” lalu dijawab “Batam mbak..” Jeng!! Yauda si kalau dari Batam bilang aja, pake idem-idemin Jakarta. Masih oke ga dari Mbrosot atau Sumpiuh. Ha!! *ada yang tau Mbrosot n Sumpiuh?*

Sampe situ aja?? Otentu tidaaaak. Malam harinya, it was already pass 1 AM. Pitch dark, lampu sudah dimatikan semua. Saya sudah menuju tidur, Silka sudah tidur, teman-teman Filipina sudah tidur. Di ujung, sepasang bule sudah tidur berpelukan. Lalu terdengarlah suara gedubrak gedubruk, Barbie dan asisten-asistennya pulang. Tick tick, lampu dinyalain aja looooooh!! For Lord’s sake, ni anak belom pernah tinggal di dorm apa ya?? Tenggang rasanya ga ada sama sekali. Saya keganggu?? Jelas!! Langsung kaget gitu karena sudah mau tidur tiba-tiba ada cahaya menyilaukan. Saya bangun dan bilang “Lampunya dimatiin ya..” dan jawaban dia apa?? “Yaudah, tapi yang sana ajaaaa, yang sini tetep dinyalain..” dengan nada super manja. Jiaaaaah. Perasaan anak umur tiga tahun ga boleh tinggal di dorm deh.. *sigh*

Saya matikan satu lampu lalu, tning..tning. JAH!! Si Barbie lihat-lihat foto di kamera dan kameranya mengeluarkan suara tning tning itu tiap kali foto digeser. Hadooooh!! Kalau dia bule, beneran saya lempar bantal deh. Cuma karena dia Indonesia aja (dan manja), saya tahu pasti bakal ribut kalau saya lempar bantal. *sigh*

Lanjut di post selanjutnya ya..

Advertisements