I Often Remember..

Yak!! Dan baru tanggal empat, saya sudah melewatkan satu hari tanpa mengetik di blog ini. Katanya sehari sekali, Laaaaaan.. 😀 (eh beneran deh, semalam saya sudah dapat ide mau menulis apa, tapi karena saya mahasiswa yang baik, saya menyelesaikan tugas response paper saya dulu. Kekekeke.. *alesan*)

Eh eh, pernah melihat orang yang lagi diam-diam biasa saja terus tetiba senyam senyum atau giggling gitu? Atau kalian pernah begitu? Engga ya? Kok engga sih, saya sering lho. Sering mengingat suatu kejadian yang lucu di masa lalu lalu tertawa sendiri. Hehehe. I know, sounds weird, tapi ya, menjadi gila dan ‘ajaib’ itu suatu hal yang inovatif bukan? *sak karepmu Buuul*

I often remember, waktu ke Belitong kemarin sama abang, kami ke SD Muhammadiyah Gantong yang jadi set film Laskar Pelangi. SDnya di atas bukit berpasir putih gitu. Motor diparkir di bawah lalu kami naik ke atas. Sampai di atas kami berjumpa dengan seorang bapak. Kami senyum-senyum dan menyapa lalu bapak itu bilang dengan datar “Itu motor.” sambil menunjuk ke arah motor kami yang diparkir di bawah. Saya dan abang menjawab santai “Iya..” sambil tersenyum lalu melihat ke arah motor kami, dan HIYAK!! Kami langsung ngakak, di sana lah di bawah bukit berpasir putih itu, motor sewaan kami sudah tergeletak tak berdaya, jatoh aja gitu. Hihihi. Just funny membayangkan kembali bagaimana posisi motor tanpa daya itu dan bagaimana si bapak dengan datarnya cuma ngomong “Itu motor..” Hihihi.

I often remember, saya dan Dea habis makan di kantin sekolah, di jam istirahat kami. Makan somay sambil ngobrol-ngobrol asik. Lalu melihat jam dan sudah dekat waktu kami masuk kelas maka kami beranjak. Tapi masih ada waktu sekitar lima menit jadi kami santai berjalan, tiba-tiba “Mbak mbak..” kami dipanggil mas-mas di belakang. Kami menengok dengan cuek (gaya saya dan Dea banget deh ini). Tapi kecuekkan langsung luntur begitu mas-mas itu berkata “Somaynya belum bayar, mbak..” HIYAK!! *njomplang* Kami cengengesan dan minta maaf dan membayar lalu buru-buru pergi dari kantin itu. Untung bukan jam istirahat anak-anak, jadi ga gitu rame kantinnya. Hahaha. ME MA LU KAN!! *toyor Bulan!! toyor Dea!!*

I often remember, kemarin saat saya dan Silka ke Melaka, kami berkunjung ke Cheng Ho Museum. Guidenya seorang auntie, Chinese, sekitar 30-40tahun, dengan Bahasa Melayu peranakkan medhok. Kami ho-oh ho-oh aja sama apa yang dia katakan walaupun sulit sekali mencerna penjelasannya. Sampai kemudian auntie menjelaskan tentang anjing. “Anjing no ya, tidak boleh. You lihat ada anjing, you pergi, you hindar itu anjing. You lari. Karena apa? Karena kalau you kena sentuh badan anjing ya, you harus cuci bagian yang kena. Pake pasir ya, dan aik hujan. EM PAT PU LUH SEM BI LAN KA LI!! Whaaaaa.. Empat puluh sembilan kali ya..” Sampe situ saya uda kulum-kulum senyum tu, entah Silka gimana, mukanya si serius. Lalu auntie melanjutkan dengan “Jadi kalau you lihat ada anjing di depan ya, you lari. You kena anjing, YOU MATI!!”. Saya uda nahan tawa saya beneran, abis auntienya serius gitu nunjuk-nunjuk saya dan Silka pas bilang “you mati”. Hihihi. Pas pulang, di bis menuju Pasar Minggu, saya dan Silka mengulang-ulang kejadian ini dan kami ngikik-ngikik bersama. Ternyata Silka juga pengen ketawa kemarin, tapi ga enak sama auntienya yang serius gitu. Hihihi. You kena anjing ya, YOU MATI!! :))))

I often remember, saya sekamar dengan miu saat di Hong Kong. Kamarnya kecil, we barely walk, tapi karena saya sama miu cuek jadi ya asik-asik aja. Nah di kamar kami itu ada jendela, saat kami singkap tirainya, gelap sekali. Host kami di sana adalah seorang kulit hitam yang emosian banget sering marah-marah ga jelas. Nah si host ini tinggal di kamar yang berbatasan dengan kamar kami sehingga menurut pemikiran kami, berarti jendela itu mengacu ke kamar si host. Keisengan kami adalah, kami – dengan posisi merangkak- ngintip di jendela itu, cekikikan berpikir si host lagi ngapain di dalam. Wajah kami semakin dekat dengan jendela karena kok gelap banget, ga keliatan apa-apa. Selama lebih kurang tujuh menit kami memertahankan posisi itu untuk mencari secercah intipan ke kamar si host sampai kemudian kami capek sendiri, pengintaian tak membuahkan hasil. Besoknya saat cerita ke teman-teman, Mbak Tari dengan santainya ngomong, “Itu kan jendela boongan, di sebelahnya ya langsung berbatasan sama tembok.” Saya dan miu liat-liatan lalu ngakak sengakak-ngakaknya. Yampun kok kami ga terpikir itu jendela boongan sih?? Pantes gelap bener!! Sampe dua puluh empat jam nangkring ngintip-ngintip di situ juga ya gada hasil, wong batasannya sama tembok. Hahaha. Dodol!!

Sekarang segini dulu aja ‘I often remember’-nya ya. Kapan-kapan dilanjut lagi. Coba deh kalian inget kejadian-kejadian lucu yang pernah terjadi. Yang kalau diingat bisa membuat kalian senyum-senyum sendiri. Ga penting sih, cuma senang aja, life becomes easier when you have something to laugh on, aite, eventhough it’s your own foolishness. :)) Kalau kata Nenek Osano di buku Saga no Gabai Bachan, “Tertawalah saat orang terjatuh. Tertawalah saat diri sendiri terjatuh. Bagaimanapun semua orang memang lucu.” Hihihi..

Senyum dulu ah.. 🙂
-Bulan yang lagi joget goyer-goyer karena response paper sudah selesai dan presentasi untuk Jumat sudah lebih ‘cerah’- 😉

Advertisements