Tambahan ‘Tentang Memaafkan’..

Habis baca blog saya, Kaka Jerzy mengingatkan, katanya kalau sudah bilang memaafkan maka harus melupakan, biar ga ungkit-ungkit lagi. Well here’s the thing.

Kalau sayaaaa, kalau saya lho ya, cenderung tidak bisa melupakan. Hahaha. Yeaaaa, call me shallow.
Tidak bisa melupakan berarti tidak benar-benar memaafkan? Mmmm, ya ngga gitu juga.
Saya memaafkan. Tapi melupakan itu hal lain. Mengingat, ya pasti. Mengungkit, tergantung.
NAH LHO!! *jeng jeng jeng jeeeeeng… zoom in zoom out zoom in zoom out*

Kenapa harus dilupakan ya? Sesederhana biar ngga ungkit lagi?
Oh well, saya mengingat karena itu jadi pembelajaran untuk saya; untuk tidak melakukan kesalahan yang sama yang menyakiti orang lain (atau diri sendiri). Dan apa saya mau mempermudah orang yang menyakiti saya dengan memaafkan lalu melupakan (dengan cepat habis tuntas)? Sejujurnya, tidak.

Perasaan, kepercayaan, penghormatan itu harus diperjuangkan dan dijaga. Sudah diperjuangkan tapi tidak dijaga? You’ll lose’em. Tidak diperjuangkan dan tidak dijaga? Ke laut aja. You’re not worth my time. Hihihi. Itu yang saya, miu, dan Mbak Wulan sebut dengan ‘relasi’. Relasi itu harus dijaga. Kalau tidak bisa jaga relasi ya tidak usah berelasi. Bisa? 🙂

Jadi saat orang menyakiti saya (sampai sebegitu dalam), pilihannya dua, saya yang menyelamatkan diri dengan diam dan tidak berhubungan lagi (believe me, I’m good in this. :p) atau saya memberitahu orangnya kalau dia sudah menyakiti saya. Nah kalau sudah dikasihtahu dan tetap tidak merasa salah ya sudah, tinggalkan. Orang itu seperti awan, kadang beberapa harus disingkirkan untuk bisa membuat sinar matahari masuk dan hari jadi cerah. Maka kalau memang mereka ga pantas, saya tidak pernah takut untuk melepaskan. Baik untuk mereka, baik untuk saya, baik untuk dunia. MERDEKA!! *iki opoooo??* -___-“

Saya tidak mengungkit? Bisa saja. Kalau orangnya tidak melakukan kesalahan yang sama, kenapa harus diungkit toh? Tapi kalau orangnya melakukan kesalahan yang sama, saya mengungkit. Itu pengingatan kembali bahwa ‘Hey, kamu dulu pernah giniin aku lhoo..I told you I was hurt..Kenapa sekarang diulangi?’. Bagi saya itu lebih penting, daripada saya menahannya keras-keras dalam hati dan sakit sendiri. Ih enak aja!! Sakit ya bagi-bagi donk. Kalau Coldstone rhum baru dimakan sendiri. *HLAH*

Mengingat perkataan teman SMA saya, Hanna, ada istilah “forgiven not forgotten”. Nah itu istilah yang tepat. Forgiven, not forgotten. Dimaafkan tapi tidak dilupakan. 🙂

Etapi ini pendapat saya lho yaaaa, kalau yang lain bisa memaafkan dan melupakan sehingga ga (ada keinginan untuk) ungkit-ungkit lagi, go on. It’s good. Saya angkat topi dan lemari. You’re half angel!! Kalau saya 333 <– half devil. Hihihi. Dah ah jangan serius-serius. Selamat berhari Sabtu yaaaaa.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.. 🙂
Sadhu sadhu sadhu.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements