Negeri di atas awan Bromo..

Itu hal pertama yang ada di  pikiran saya ketika akhirnya melihat keindahan tak terkatakan dari Bromo. Negeri di atas awan.

Ketika saya pertama kali lihat foto Bromo beberapa tahun lalu, saya terpikir yang bisa mendapatkan foto bagus begitu pasti pakai lensa yang keren dan kamera yang mumpuni, tetapi ketika kemudian saya datang sendiri, tadaaaaaa, kamera standar Nikon D40 Lensa 18-55 sudah bisa menangkapnya. It was breath-taking.

Dari hotel, kami dijemput dengan jeep untuk menuju Pananjakan Viewpoint. Kami (saya, Yuki, Philipp, dan Mike) memilih Pananjakan 1 karena lebih tinggi. Jeep menderu membawa kami dalam obrolan seru. It was pitch dark outside.

Sekitar 20 menit kemudian akhirnya jeep berhenti, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dan saya baru sadar, adalah susah berjalan kaki dengan posisi menanjak, tekanan udara tinggi, dan saya baru bangun tidur (alasan macam apa ini?? :))) ). Langkah tu rasanya berat banget. Mau nyerah dan minta gendong juga saya malu. Selain itu, ya siapa juga yang mau nggendong gitu? Hihihi.

Sampai di atas, keadaan sudah agak ramai tetapi masih ada beberapa spot kosong. Kami mulai memanjat dan bersiap. Udara?? Beeeeuh, dinginnya.  Saya pake t-shirt, scarf tebal, jaket, dan jaket bulu tambahan – nyewa sepuwuh wibu sajaaaa, works well. ;). Dinginnya menusuk tapi tidak sampai membuat saya menggigil. Dingin-dingin asyik lah.

Suasana masih gelap, tidak terlihat apa-apa. Tetapi tidak berapa lama, sambil ngobrol, kami melihat kabut berjalan dengan cepat ke arah kanan meninggalkan kami sebuah pemandangan menakjubkan yang membuat saya menganga dan langsung berucap syukur. Di sana, di ujung sana, menyembul sebuah ujung gunung kemudian di tengahnya masih ditutup awan dan di bawahnya terlihat lanjutan ujung gunung tadi. Ya mungkin kata-kata tidak mampu menjelaskan betapa luarbiasanya pemandangan yang ada di depan saya kala itu. It’s just aaaaahhh. Saya stunned. Negeri di atas awan.

Auranya romantis dan menakjubkan. Kalau kalian akan menikmati hal yang sama dengan apa yang saya nikmati, coba untuk diam ketika puncak Bromo terbuka. Diam dan nikmati. Foto-fotonya sekali dua kali saja tapi lalu langsung diam dan nikmati. Rasanya aaaaah, indah. Berkali-kali saya ucap syukur diperbolehkan melihat berkat Tuhan itu. Iiiiih, ini saya ngetik aja masih merinding.

Di depan kami ada pemandangan yang menakjubkan tadi, di sebelah kiri, orang-orang dimanjakan pemandangan lazuardi dengan semburat jingga terang memanjang. Saya sempat minta-minta permisi untuk nelusup mengambil foto. ‘One minute, one minute.’ kata saya. Yang sebenarnya tidak akan menjadi masalah untuk mereka, karena badan saya kecil *uhuk* untuk ukuran mereka (mereka di sini adalah bule yaaaa..) sehingga saya nelusup juga kayaknya ga ngaruh banyak sama perubahan posisi berdirinya. Hihihi. Abis mereka kayak cuma mundur gada lima belas senti gitu untuk kasi saya jalan masuk.  -___-“

Kami bertahan di Pananjakan sampai pukul 6.15 kemudian berjalan turun menuju jeep yang menunggu di bawah. Meninggalkan Bromo dengan puncak, awan, lazuardi, dan matahari terbit yang tertinggal membekas di hati. It was truly amazing. Puji Tuhan saya dikasih kesempatan melihatnya. Aaaaaa.. Pengen balik lagiiiii.. :’)

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements