There I Finally Meet You..

Untuk yang sering membaca blog dan Twitter saya, pasti sudah aware sama Mas Reza atau Mas Eca  yang sering saya sebut-sebut (atau hashtag #masdokterganteng di Twitter). Banyak yang curiga saya memiliki kedekatan lebih dengannya. Menanggapinya, saya cuma ….. ketawa aja. Hihihi.

Jadi siapa kah Mas Eca ini? He was actually …… MY BUYER!! Bahahaha. Awalnya beli dompet untuk ibunya tapi lalu dari pesan Facebook komunikasi merembet jadi cerita ini itu. Lalu dia pesan ina inu. Jadi terus komunikasi. Sekarang ga pesan pun kami tetap komunikasi. He’s kind walaupun kadang tengil dan nyebelin. Kami sering share segala macam hal. Dari awal saya sudah tahu satu hal darinya yang membuat saya merasa aman. Jadi untuk memiliki hubungan lebih dengannya, saya cuma meringis dan ketiwi saja menanggapinya ya. Kami tidak ada hubungan spesial apa-apa selain saya princess and he’s my mbok emban. :p

Yang juga tidak diketahui banyak orang, saya belum pernah sekali pun bertemu Mas Eca sebelumnya. Mengetahui segala macam hal tentangnya ya dari komunikasi BBM dan Facebook dan (akhirnya) Twitter.

Nah kemarin, pada akhirnya, kami bertemuuuuu. Ambil jalan tengah, di Jogja, karena kami ingin datang ke perayaan Waisak bareng. Saya, sebagai adik manis nan kurangajar, dengan seenak udel minta dijemput ke rumah eyang. Dia dengan Mas Edi dan paksupir berangkat pagi dari Salatiga (tempat kediamannya sekarang). Menjemput saya kemudian ke hotelnya KaMadja di Malioboro, sekalian numpang pipis. *info penting*

Pertama melihatnya, saya berlari kencang dan langsung diterima tangannya yang terbuka. Kami berpelukan lumayan lama, di pinggir jalan. Penting banget deh dramanya. -___- . Rasanya: Seperti bertemu abang yang sedang sekolah di Jerman dan sudah tidak bertemu selama 4.5tahun.

Setelah itu, Mas Edi dengan baik hati pindah duduk di depan sehingga saya dan Mas Eca bisa ngobrol di belakang. Seharian kami (saya, KaMadja, Mas Eca, dan Mas Edi) bersama. Dalam beberapa momen, saya sempatkan memeluknya erat sambil bilang dengan suara nyaring ‘Mas Ecaaaaa..’. Hihihi. Dia si kayaknya malu, cuma mo gimana, pasrah lebih tepatnya. :p

Apakah sesuai dengan bayangan, there you might ask. Sejujurnya, saya tidak punya bayangan apapun tentang Mas Eca. We communicate as if we’re in the same town, jadi hanya seperti bertemu teman lama atau sahabat lama. We accept each other as we are, tidak membayangkan pengharapan lain. He’s my brother (and it’s up to you to mock me on abang-adek relationship, but then I don’t know what term to use to express our relationship) and he will always be, thou we’re Jakarta-Balikpapan far, or now Jakarta-Salatiga far. Even if we didn’t meet yesterday, I don’t mind. We’re still good. 🙂 I’m uberhappy with what we have. 🙂

And funny thing, bahkan saya (dan dia) tidak ada keinginan untuk bertanya bagaimana pendapat satu sama lain untuk pertemuan pertama kami. Semua berjalan biasa. Ia sekarang sudah balik berada di Salatiga. Meninggalkan saya, kemarin dulu, di mulut gang masuk rumah eyang dengan sebuah pelukan hangat dan ucapan…

‘Terimakasih ya Buy.. Kamu hati-hati..”

Hangatnya, masih terasa. 🙂

Terimakasih ya, mas. Kamu, juga, hati-hati.. 🙂

Senyum dulu ah.. 🙂

*wis wis, ojo podo mellow.. Hihihi..*

Advertisements