Vesak Hitam dan Lampion Terbang

Ini adalah alasan utama saya ke Jogja kali ini. Untuk ikut dalam hening raya Waisak – hari suci bagi umat Buddha. Tetapi seperti yang sudah sudah, saya kesulitan mendapatkan informasi tentang perayaan ini. Seperti halnya sampai sekarang saya belum menemukan tempat atau orang yang bisa mengajarkan saya tentang ajaran Buddha. Tapi saya berpikiran positif saja, nanti pasti ada informasinya.

Di pagi hari satu hari sebelumnya, akhirnya saya dapat yang saya cari. Rundown kasar dari acara. Hehehe. Saya sebarkan di Twitter untuk teman Waisakkan saya yaitu KaMadja, Mas Eca, dan Mas Edi. Dari rundown itu, karena hari Minggu itu hari saya ketemu Mas Eca dan Mas Edi dan mereka hanya di Jogja sehari, maka saya hanya akan mengikuti prosesi sore. Pagi dan siangnya, kami akan berjalan-jalan di seputaran Jogja dulu.

Daaaan, karena jalan sama dua cowok riwil, yang ada waktu kami ke Borobudur jadi molor. Itu pun sudah dengan mandi bebek di hotel. Saya dan KaMadja sudah selesai mandi, tu cowok dua belom balik hotel, belum selesai belanja.. Yasalam.. *lempar menyan ke Mas Edi n Mas Eca*

Akhirnya kami berangkat malam sekitar jam delapan. Deg-degan sepanjang jalan takut jalan ditutup seperti yang diberitakan secara heboh melalui Twitter dan deg-degan kelewatan momennya. Hihihi. *tung!!*

Kami sampai di Borobudur jam setengah sembilan. Jalan, Puji Tuhan, ga ditutup. Mobil parkir di luar, kami lalu jalan kaki masuk. Ini kali pertama Mas Edi ke Borobudur, jadi sepanjang jalan dia deg-deg-plas gitu. I could feel his excitement. Just like me kalau melihat foto gereja di dataran Eropah, deilah deg-degannya uda dari Indonesia. Hahaha.

Ketika kami datang, semua masih dalam perenungan. Tak berapa lama ada pemberian pesan kehidupan. Intinya tentang kasih – Meta dan Karuna. Kemudian Pradaksina – mengelilingi pelataran Borobudur 3kali dan pelepasan lentera. Pas Pradaksina, antrian penuh sekali dan kami tidak membawa lilin, jadilah kami dimundurkan. Hihihi. Akhirnya karena ga jelas juga bisa ikut Pradaksina atau engga, saya ajak Mas Eca dan Mas Edi untuk balik ke depan panggung dan menunggu pelepasan lentera aja di sana. Tak berapa lama, rombongan Pradaksina sudah kembali dan lentera-lentera mulai dinyalakan.

Kemudian lentera pertama dilepaskan dari arah panggung. Semua ber’whoaaa…whoooaaa..’. Lalu lentera kedua dan ketiga dan seterusnya. I have to admit, lentera warna bias kuning jingga yang terbang kontras dengan hitam pekatnya malam dan supermoon di ujung sana menerbitkan perasaan yang aaaahh romantis. Saya, Mas Eca, dan Mas Edi tidak ada yang berbicara walaupun berdekatan. Semua hanyut dalam diam menikmati malam dan lentera terbang. That was the most romantic holy day celebration I’ve ever attended. Indah.

Selesai acara, kami berpegangan tangan berdua-dua dan berjalan. Takut tersirap penuhnya jalan oleh manusia yang ingin keluar dari Borobudur. Tahun depan mau datang lagi? Kalau ada berkat, mauuuuu. Moga-moga tahun depan juga pelaksanaan perayaan Tri Suci Waisaknya lebih teratur lagi (dan ngga hujan). Hehehe. Sadhu sadhu sadhu.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements