Cavetubing Goa Pindul..

Oke, lanjut cavetubing yaaaa.. Cave = Goa. Tubing = Tubing. Jadi cavetubing = tubing di goa. Penjelasan yang sangat super sekali, bukan. :))))

Setelah balik ke starting point, kami trus lanjut menanjak menuju ke Goa Pindul, jalan kaki sambil tetep dadah dadah ke warga sekitar. Sebelum masuk goa, ada briefing dulu. Kenapa perlu briefing? Karena ini goa. Ya walaupun kalian ga percaya ada sesuatu di dalamnya, berdoa dan berhati-hati kan gada salahnya. Akur??? Akuuurrr.. Okesip. Lanjut!

Inti briefingnya adalah, jangan teriak-teriak dan ketawa ngakak *ehem – bapak saya pasti setuju sekali dengan aturan ini. :D*. Dan nanti di dalam goa, di zona gelap abadi, akan diminta berdoa (pada Yang Maha Kuasa, bukan pada demit dan memedi yaaaaa) dan senter akan dimatikan. Jadi beneran pitch dark.

Liat muka saya deh. Antara nyureng kepanasan sama nyureng sebel nggak boleh ketawa keras-keras.. :)))

Kami masuk dengan saling memegang ban teman di sebelahnya. Karena saya sombong, jadi saya ga pegang ban siapa-siapa, saya hanya berpegangan kuat penuh hasrat pada bapak instruktur. *doenk!* Ga denk, saya ga pegangan, wong saya paling depan. Kekeke. Lalala. Yeyeye. *joged2 pantat*

Sambil masuk sambil diterangin tentang bebatuan yang ada di dalam goa. Favorit saya?? BATU KRISTAL!! Yeuk marih. Itu batu keren amat deh berkilau krincing krincing gituuuu. Tsakep!! Ada juga batu gong, stalaktit, stalakmit, dan kemudian satu batu yang bisa dipegang oleh para lalaki (yang dipercaya bisa membuat jadi perkasah..). Caelaaaah. MasIyo sama Dion langsung megang. Hahaha. Trus ada juga satu batu yang katanya kalau dipegang sama perempuan dan diusapkan (ada air dari stalaktit itu – eh wait, yang dari atas teh stalaktit? Apa stalakmit?) ke wajah, nanti wajahnya halus. KATANYAAAA. Karena saya uda usap dengan sepenuh hati jiwa raga kok tetep aja ni sekarang wajah saya menggerung di bagian T minta difacial. Hihihi.

Nah yang saya suka, momen renungannya. I was about to cry (yayaya, cengeng dah) pas bapak instruktur bilang harus bersyukur untuk segala yang sudah diberikan Tuhan. Segala kesempurnaan raga. Segala pengalaman hidup. Huaaaaaaa.. Menye menye langsung. :’) Lalu senter dimatikan dan blep. HITAM!! Tak terlihat apa-apa sama sekali. Semua diminta diam dan merenung dan berdoa pada Tuhan. Saya, seperti biasa, bingung mau doa minta apa. Yang ada cuma ucap syukur aja. Sayang waktu di momen ini cuma dikasi sebentar. Kalau lamaan dikit, akan lebih pas lagi. πŸ™‚

Selesai momen renungan perjalanan dilanjutkan. Goanya sendiri sebenarnya pendek. Di ujung perjalanan, ada dome-nya. Bisa berenang-renang dan luncat-luncat cantik. Sayang kamera saya metong, abis batrenya pas baru beberapa meter masuk goa, jadi ngga ada dokumentasinya deh. Hehehe. Keluar gua, ada kolam lagi. Bisa main-main lagi di sana. Bisa perang air juga kalau ada anak sekitar yang lagi mandi di situ. Juga bisa lihat mereka lumpat dari ujung batang pohon. GILOLE!! Saya nganga liat mereka lumpat. Gee!! Talk about gejolak jiwa muda. Hihihi. *tepokjidat*

Selesai main-main lalu memanjat bendungan dengan tali. Kalau ga berani, ya bisa melipir ke ujung dan naik dengan mudah lewat undakan. Hahaha. Lalu balik dan mandi. Mau makan di sana juga bisa, ada warung-warung yang jual makanan. Kami yang belum lapar saat itu memilih untuk ke sawah aja. Kasian, di Jakarta jarang sawah paaak, buuuu. Hihihi.

Cavetubing ini 40ribu harganya. Kalau mau minta dokumentasi dari pihak sana, bisa. Cukup bayar 30ribu saja dapat ratusan foto. πŸ™‚ Karena saya bawa kamera sendiri, maka kamera tinggal dititipkan pada salah satu instruktur dan GRATIS. Huhuw!! Baik amat ya. Hehehe.

Kegiatan satunya lagi adalah caving. Masuk gua. Berjalan merangkak. Itu yang tidak kami ikuti kemarin. Hehehe. Jadi belum bisa cerita tentang itu. πŸ˜‰

Menyenangkan lah ke Goa Pindul ini. Parkir santai, ga ada calo rese. Harga ga dimark up. Ga semua dihitung dengan uang. Dan yang lebih menyenangkan, saya merasa team Dewa Bejo (penyedia jasa di sana) ini ikut mengedukasi dan mengajak warga untuk menjadikan Goa Pindul sebagai objek wisata. Di mana-mana warganya tersenyum ramah dan menyapa. Bahkan selesai kami rivertubing dan kami menyapa ibu dan bapak yang lagi di kebon, mereka dengan senyum mengajak kami mengobrol lalu memberikan pisang dari kebonnya. Lalu pas kami rivertubing di bawah, ada bapak-bapak lewat di atas jembatan ikut menyapa kami dengan ramah. Keramahan desa yang tulus. Bukan yang dibuat-buat. Dan saya pribadi sangat menghargai itu. Team Dewa Bejo sudah begitu luarbiasa membangun desa ini, mempersiapkannya jadi desa wisata. Oya, selain team Dewa Bejo, juga ada anak-anak UGM yang ikut andil dalam menjadikan Goa Pindul sebagai objek wisata, kayaknya. Ada tulisannya di bawah panel nama GOA PINDUL tapi saya lupa fakultas atau jurusan apa. πŸ™‚ Terimakasih ya.. πŸ™‚

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Untuk kontaknya masih dengan kontak yang sama, Mas Ariff, 0857.4197.3511 atau pin BB 22ED27A3. Kalau kalian bingung kesananya gimana kalau dari Jogja, coba tanya Mas Ariff ya apa ada tur yang bisa dikontak di Jogja.

Advertisements