Dear Tante D..

Saya melihatnya pertama kali ketika sedang turun eskalator menuju ke ATM. Sedikit tercengang melihat alisnya yang mencelat naik dan kakinya yang kurus kecil ditopang dengan sepatu berhak tinggi. Gaun mini yang dipakainya tidak menjadi masalah bagi saya. Ia memiliki tubuh ramping dan sejuta alasan untuk memakai gaun mini seperti itu. Ia berjalan santai dan kemudian saya berlalu.

Kali kedua saya bertemu dengannya ketika sedang jalan dengan Sam di depan sebuah toko donat berinisial D. Saya berjalan sedikit di depan Sam ketika kemudian saya lihat ia, Tante D, sedang duduk sambil menghisap asap Marlb*ro-nya, menaikkan alisnya dua kali dengan ceria ke arah saya. Saya bingung. Kemudian menengok ke arah Sam, yang langsung cepat menyamai jalan saya. Ketika kami sudah melewatinya, Sam, sambil bergidik geli, mengatakan tante tadi menggodanya. Saya tertawa. Ternyata Sam yang digoda, bukan saya. Hihihi. Saya terlalu GR rupanya. *tepokjidat*

Beberapa kali setelahnya, ketika saya berbelok melewati toko donat berinisial D itu, saya sibuk mencari dia. Dan dia selalu ada. Atau tidak ada, beberapa kali, tapi seringnya ada. Kadang dengan lelaki berjas hitam berperut buncit. Kadang dengan anak muda berpolo shirt dan sepatu keds.Β Ia masih sama, dengan gaun mini dan rokoknya. Duduk di tempat yang sama juga.

Ketika kemudian saya menceritakan di kelas, ternyata Pak Irwan memiliki mata yang sama. Mata yang juga sering memerhatikannya. Tinggal Winsky dan Anggun saja yang belum pernah melihatnya. Sayang sungguh sayang. Keberuntungan belum ada di pihak mereka. Hihihi. *peace*

Siapa Tante D (let’s just call her that)? Apa pekerjaannya? Ia tidak pernah terlihat membawa berkas-berkas. Tidak pun terlihat sedang meeting dengan lawan bicaranya. Terlihatnya malah ia sedang ‘meeting’ dengan teman lelakinya itu. Pandangan matanya menggoda, gerak tubuhnya menggeliat. Lawan bicaranya selalu laki-laki. Tak pernah sekali pun saya lihat ia bersama perempuan.

Kemarin adalah hitsnya. Saya turun dari parkiran menuju elevator ketika kemudian elevator terbuka dan ia keluar bersama seorang laki-laki bercelana kedodoran, berjaket kebesaran, berkacamata, dan bertingkah grogi. Saya stunned. Mulut saya terbuka. Memerhatikan mereka berjalan bersama dengan santai memasuki sebuah tempat karaoke di lantai 6 gedung tempat kampus saya berada. Saya stunned. Berdiam. Ia terlihat santai melenggang. Apa yang (akan) dilakukannya? Sekali lagi, saya stunned. Terdiam. Lalu tertawa geli, menggelengkan kepala, dan berlalu.

Kemarin malam sebenarnya saya sudah ingin menulis tentangnya. Tapi kemudian saya lupa. Tapi jika post ini saya tulis kemarin malam, mungkin bahasa saya berbeda. Mungkin saya akan penuh gelak tawa menceritakannya. Tapi tidak hari ini. Sore ini saya melihatnya lagi. Di pojok yang sama, di bagian teras sebuah toko donat berinisial D. Dengan dua laki-laki di hadapannya. Satu dengan kaos abu-abu dan satu dengan polo shirt salur kuning abu. Apa yang berbeda kali ini adalah wajah dan tatapannya. Ia tidak centil penuh semangat. Matanya tidak liar melihat ke segala penjuru. Ia diam dengan tatapan menerawang. Hati saya sedikit tercabik jadinya. Apa yang ada di pikirannya ya?

Tadi saya bercerita pada Sam. Sam takut setengah hidup sama Tante D. Seperti halnya Sam takut sama semua teman gay saya. Hahaha. Ia bergidik lagi. Saya, kali ini, diam. Seperti ingin menghibur diri. Bahwa mungkin, dibalik sikap genitnya, sikap menggodanya, alisnya yang mencelat segaris tipis, kakinya yang kurus dengan topangan sepatu berhak tinggi, dan gaunnya yang mini; mungkin ia menyimpan sebuah beban hidup yang luar biasa ya. Beban yang mungkin tidak saya (dan orang lain) mengerti. Mungkin, ia terpaksa menjadi seperti sekarang. Saya tidak pernah tahu.

Dan dalam terawang matanya yang memandang jauh tadi siang, saya cuma berdoa supaya Tuhan menguatkannya. Semoga ia tetap menjadi baik ketika melakukan hal baik. Dan itu saja yang akan dihitung oleh Tuhan. Semoga saja. πŸ™‚

Maaf ya Tante D kalau selama ini saya sering iseng tengak tengok cari Anda. Maaf juga kalau saya sering memasukkan Anda dalam bahan kicauan saya. Maaf kalau saya sering membuat Anda jadi bahan obrolan saya Anggun dan Winsky. Maaf ya. πŸ™‚ Semoga tante kuat dalam apapun yang sedang ada dalam hidup tante ya. Ah saya jadi sedih jadinya. 😦 Ya begitulah ya. -___-“

Harusnya kalau saya menceritakan tentang dia tu bisa lucu, tapi tatapan menerawangnya sore tadi mengubah segala persepsi saya tentang dia. Aduuuuh. *gelosor gelosor di aspal* Hiks..

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

PS: Untuk Anggun dan Winsky yang masih penasaran dan bilang no pic = hoax, sayang sungguh sayang, beneran gw ga berani motret orang secara candid. Pernah nyoba sekali motret cowo ganteng di Anomali dan yang ada tu cowo nyadar gw poto dan senyum cengengesan ke gw. Gw kan jadi malu nyooooong. Kaga mau lagih coba-coba candid jadinya. Hihihi. Lagipula ga sopan ah. Makanya kalau mau liat, dateng cepetan, jangan mepet waktu kuliah!! HA!! :)))

Advertisements