Kunjungan ke POLRES..

Weitsah.. Orang berkunjung ke tetangga, ke Kebun Raya Bogor, atau paling banter ke pesantren di Sukabumi, eh jangan sedih, saya berkunjungnya ke POLRES!! Yeuk mari.. Hehehe.. Ga denk, pagi ini saya ke Polres Bekasi karena mau minta surat pengantar untuk saya yang mau mutasi SIM.

Sebenarnya, setelah saya cek cek bebi cek (via internet), persyaratan pengurusan mutasi SIM adalah sebagai berikut:

1. Sehat jasmani rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter
2. Membawa Kartu Induk/Surat Pengantar
3. Membayar formulir di BRI/BII
4. Mengisi formulir permohonan
5. Melampirkan KTP

Menilik dari poin nomor dua, pemakaian tanda garis miring kan berarti ‘atau’ ya, jadi harusnya saya bisa hanya membawa satu; kartu induk (SIM lama saya) saja atau surat pengantar saja. Cuma ya, ini tidak ada yang mengamini pendapat ke’atau’an saya ni, dan saya malas kalau sudah jauh-jauh mengurus di Daan Mogot (SIM saya mutasi dari Bekasi ke Jakarta), taunya disuruh kembali besoknya karena persyaratan belum lengkap. Jadi daripada athu mawah mawah twus cembewut ke bapak poleseh, mending athu uwus aja. *nginyem* 😀

Oya, saya diajarin papah saya untuk urus semua sendiri, dan kalau bisa ga pake calo. Kalau pake calo ya monggo tapi bayar pake duit sendiri. Hiks. Nohok kan tu harga calo dan biro jasa. Huhuhu. Jadi saya kebiasaan urus semua sendiri, tanpa lewat calo. Dan sesungguhnya teman, *sambil pegang bahu teman*, mengurus sendiri adalah tidak susah. Jangan lupa berpikiran baik dan tersenyum. Kalau kata papah saya “Senyum kamu manis, pergunakanlah itu..” Bahahahaha.. SIAP!!! *bedakkan, lipstickkan* *berjalan melenggang ke Polres*

Sampai di Polres, banyak calo menunggu di luar. Kuatkan hati dan jawab dengan santai namun tegas. Sepanjang jalan kenangan itu saya ditanyain “Mbak urus SIM mbak? Mau dibantu mbak?” dan saya senyum  kemudian menjawab “Iya, mutasi Pak. Terimakasih.” kemudian melenggang lagi. Gada yang paksa-paksa kalau mukanya sudah yakin. Yang penting muke yakin dulu, soal bingung ntar aja disimpen pas nanya ke bapak polisinya. Hihihi. Lalu, biar ga bolakbalik, di depan Polres (atau Imigrasi, atau biro apa kek yang urus-urus begituan) selalu ada tempat fotokopi. Melipirlah sebentar dan bilang mau urus apa ke bapak fotokopinya. Bapak itu sudah tau kebutuhan administrasinya. Jadi pas saya bilang “Mau urus mutasi Pak.”, bapak itu langsung minta KTP dan SIM saya kemudian menggandakannya sesuai keperluan dan balikkin ke saya sudah rapi. Dari tempat fotokopi, kita masuk ke Polres. Oh, dan jangan lupa bayar fotokopiannya. Kelalaian dalam membayar membuat kita malu, dan kalau malu biasanya pasti ada yang kelupaan karena grogi. Hihihi. *sumpe bukan curhat*

Bertanyalah ke yang berwenang, kalau di Polres ya nanya ke bapak polisinya, nanti akan diterangin kok harus kemana dan urut-urutannya bagaimana. Masuk (dengan muka yakin), kalau kesasar kayak saya tadi, ya nanya lagi aja sama pak polisi yang lain. Gitu aja kok repot. Hihihi.

Saya kemudian ditunjukkin ruang ‘Arsip’ tapi pas saya kesana lha kok pintunya ditutup. Sebagai anak Indonesia yang sopan, saya akhirnya balik lagi ke depan dan nanya kok pintunya ditutup? Eh kata bapaknya “Buka aja langsung mbak..” LAAAAAH meneketeeeempeeee??? Kan ga sopan tau-tau buka pintu. Akhirnya saya ketok dulu. Tak ada balasan dari dalam. Saya ketok lagi, gada balasan lagi. Baru ngucap kalau sekali lagi ngetok gada balasan, saya mau teriak “Spadaaaaaa…”, eh untung dibukain. *elus-elus dada* *dada mas ganteng* *tetep*

Lalu kasi fotokopi KTP dan SIM tadi ke bapak yang di dalam ruang arsip. Bapak itu bilang “Nanti sejam lagi saya panggil ya mbak..”, kemudian duduklah saya di ruang tunggu itu bersama beberapa orang yang sedang mengerjakan tes tertulis untuk bikin SIM (oh dan bersama beberapa calo juga ada di sana). Kalau ada yang ngajak ngobrol, asal sopan, ya tanggepin aja. Namanya juga ruang tunggu, sama-sama nunggu kan kalau diem-dieman bosen. Siapa tau kalau yang ngajak ngobrol bawa bekal, kalian ditawarin. Gelar tiker, duduk, piknik deh. Oke, salah, skip bagian piknik itu. Ga boleh yaaaaa piknik di ruang tunggu Polreeesss.. *pentung satu2!!*

Pas, hampir sejam kemudian, bapak tadi keluar dan bertanya “Mbak namanya?”, jawab dengan nama kalian sendiri ya, saya jawab “Rembulan Indira, Pak.”. Jangan jawab pake nama samaran “Aku Saras 008!!” atau “Aku Sailormoon!! Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!!” Jangaaaan!!! Bapaknya nanti poseng!!

Masuk dan dikasi buku arsip besar kemudian disuru fotokopi lagi. Keluar lagi cari tempat fotokopi kemudian kembali dan selesai deeeehhh!!! Bapak itu cekrek-cekrekkin berkas saya.

Saya ga tau apa ada biaya resmi untuk minta surat pengantar ini ya. Kalau saya, saya memang bertanya “Ada biayanya, Pak?”, nah bapak itu jawab “Dua puluh lima ribu, Mbak. Tapi yaaa, kalau ngga ada ya ngga usaaaah..” NAH!!! Saya bingung kan. Jadi kalau orang datang ga punya duit ga usa bayar gitu? Hihihi. Saya akhirnya kasi 30ribu dengan maksud minta kembalian 5ribu, eeeeeeeh, sampe akhir masa ga dibalikkin sama bapaknyaaaaa.. PIYE TOH IKIIII??? Lima ribu saya bapaaaak!! Lima ribuuuu!!! *gojeng gojeng badan bapaknya*

Akhirnya ya sudahlah, saya relakan saja 5ribu yang bisa untuk beli rojak di depan Polres itu tak kembali. Yang penting surat pengantar sudah selesai saya buat. Tinggal besok saya urus ke Daan Mogot untuk mutasinya. Semoga besok juga lancar. Amiiiin. 🙂

Jadi, urus begitu-begituan ga lama kok. Dulu saya urus SIM juga sendiri, ga pake calo, urus Paspor juga sendiri, dan ga lama. Cuma harus sabar, banyak senyum, dan santai aja. 🙂 Okesip?? Siiiipppp..

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements