Something is missing in SOEGIJA..

Let’s talk about Soegija. Film besutan Mas Garin Nugroho yang (awalnya saya pikir) bercerita tentang Albertus Soegija, seorang uskup yang memiliki andil besar untuk penyampaian kasih di jaman peperangan Indonesia ini cukup kontroversial pas sebelum tayang. Ribut banget dibilang film ini adalah upaya kristenisasi lah, inilah itulah oleh orang-orang berpikiran sempit nan rempong yang gada kerjaan selain ngatur orang lain. -____-. Sebelum menonton, saya pikir saya akan dapat penggambaran kasih iman di film ini, tapi ternyata setelah menonton, secara jujur saya katakan, saya agak kecewa. This below my expectation. πŸ™‚

1. Jenis film apa yang dipake Mas Garin ya? Saya ndak gitu suka. Kurang vintage. Filmnya jernih dengan warna yang mentereng bagus. Jadi kurang terbangun suasana jadoelnya.

2. Ada satu bagian yang mungkin hilang pas editing atau entah bagaimana tapi yang pasti saya bengong kok tiba-tiba ada scene Hendrick dan Mariyem boncengan bareng dengan Mariyem senyum-senyum kasmaran gitu sedangkan sebelumnya digambarkan Mariyem sama sekali ga mau dideketin Hendrick. Cenderung galak dan ga suka malah. Lah ini kapan mereka mulai cecintaannya deh?!

3. Fokusnya siapa di film ini? Kalau menilik dari judulnya, Soegija, harusnya fokusnya tentang Romo Soegija. Tapi ini, seperti kata popo dan saya sangat setuju, jadi kayak potongan-potongan cerita disatukan. Ada tentang perjuangan. Ada tentang keluarga Cina. Ada tentang pejuang yang ga bisa baca dan akhirnya bisa baca ‘Merdeka’. Ada tentang Pak Besut dan siaran radionya. Ada tentang satu Belanda – temennya Hendrick yang out of sudden teriak-teriak seneng (???), Β dan sedikit cerita tentang Romo Soegija. Sedikit sekali sampe saya ga dapat pesan kasih yang disampaikan romo selain ‘dahulukan rakyat daripada suster bruder dan romo sendiri dalam menerima makanan yang dimasak warga desa’.

4. Yang bagi saya bagus aktingnya cuma Mas Butet Kertaradjasa. Hehehe. *peace*. Akting yang jadi Mariyem malah lebay. Hehehe. *peace lagi*

5. Itu baju-baju tentara napa bersih-bersih bener deh?! Just like baru keluar dari laundry-an!! Hehehe. Cling cling!!

Yak demikianlah. Ada sesuatu yang hilang bagi saya di film Soegija ini. Kasih yang ditunjukkan romo kurang. Perjuangan juga kurang. Dramanya kurang. Rasanya datar. Uda niat padahal nonton pas premier karena takut tiba-tiba hilang dari pasaran kayak dulu film Perempuan Berkalung Sorban. Tapi ndak apa, ndak menyesal nontonnya kok. πŸ™‚

Oya, tambahan, untuk ibu dan bapak yang memiliki anak kecil, kalau mereka belum siap duduk diam menonton, lebih baik ga usa diajak ke bioskop. Jadinya ganggu. Di belakang ada ibu-ibu dengan anak yang ngoceeeeeeh mulu sepanjang film diputar. Blabbering toddler gitu. Belum jelas ngomong apa. Kalau ga lagi nonton si lucu ya, tapi ini lagi nonton gitu. Berisik banget, ganggu. Awalnya saya masih diam, lama-lama saya nengok ke belakang dan ‘Ssssssttt!!!’ karena kok suaranya makin keras. Hehehe. Maaf ya bu. Bukannya jahat niiii. Hehehe.

Uda gitu, di depan saya ada keluarga dengan satu anak ya kira-kira usia 5-6tahun lah. Badannya si uda besar ya. Ini anak sepanjang film ga bisa duduk. Jalaaaan aja mutar muter mutar muter. Dia melewati mas-mas yang duduk dekat alley di row dia berkali-kali. Ibunya memang bilang “Duduk nak, itu kamu nutupin omnya.”, tapi cuma ngomong doaaaank, anaknya ga ditarik duduk!! Plus, tiga perempat film, bapaknya keluar dan ga balik lagi, nah ni anak tiba-tiba berdiri di kursinya (sampe anak di sebelah saya miring karena terhalang layarnya sama badan anak di depannya itu) dan bilang “Bapak kemana mah? Kok bapak ga balik mah? Bapak kemana mah?” Daaaaan, hitsnya adalah: IBUNYA DIEM AJA!! Hih!! Bejek bejek!!

Beda sama dua anak di samping saya yang nonton sama ibunya. Di awal film mereka sempat ngobrol, lalu saya ‘Sssst’ kemudian diam. Dan sepanjang film mereka melihat film dengan intens. Duduk sendiri-sendiri, makan popcorn bareng tu adek kakak, diam, ga berisik. Pinter lah!! *peluk-peluk adek*

Jadi demikian ya ibu-ibu bapak-bapak. Bukan maksud melarang kalian memiliki waktu senang-senang, tapi ya kalau anaknya belum siap, better ditinggal di rumah, dititip sama siapa kek. Kalau anaknya ga mau ditinggal ya kalian yang ngalah lah, beli DVD dan nonton aja di rumah. Jangan genggeus ke orang lain. πŸ™‚ *Bulan Galak* :p

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements