Lewat Djam Malam..Sebuah Film Psikologi..

Hai pemirsah.. Sudah pada nonton Lewat Djam Malam?

‘Lewat Djam Malam’ adalah sebuah film karya Umar Ismail produksi tahun 1954. Bukan hanya ceritanya yang menarik, namun proses restrorasinya juga menarik. Film ini adalah film koleksi Sinematek Indonesia tapi lalu film ini sudah tidak bisa ditayangkan lagi (mungkin karena persoalan perbedaan jenis film yang bisa diputar atau karena justru filmnya sudah usang dimakan usia, saya kurang paham). Sampai kemudian direstorasi dengan andil National Museum of Singapore. Sedih karena yang merestrorasi pihak Singapore? Saya sih engga. Bagus lah seengganya ada yang peduli sama so-called film jadul kita dan mengangkatnya supaya bisa kita nikmati kembali. Hehehe.

Filmnya hitamputih. Setting di Bandung. Subtitle: English. Hehehe. Have to admit, menonton film ini membangun suasana kayak nonton film di jaman dahulu. Di beberapa bagian film, warna dan kontras filmnya berubah. Kadang rasio jadi lebih tinggi, kadang lebih rendah. Tapi tidak mengurangi baiknya pesan yang disampaikan. Saya ga akan menceritakan ceritanya di sini. Go watch the movie yourself. It’s an amazing experience for me so I want you to have it also. πŸ˜‰

Apa yang menjadi poin bagi saya ada beberapa:

1. Walaupun dapat penghargaan sebagai pemeran utama terbaik, tetapi bagi saya, AN Alcaff (Iskandar) bermainnya biasa saja. Agak annoying malah melihat wajahnya yang kayak bule gitu. Hahahaha. Favorit saya, tentu Laila. Lucu dan menggemaskan. *uyel2 pipi Mbak Laila*

2. Saya ga tau apa memang mimik merendahkan dan ngenyek sedang sangat in saat itu (seperti halnya mata melotot jadi in di sinetron kita sekarang), atau dibuat begitu karena film ini berhasrat satir, tetapi sebagian besar aktor dan aktrisnya berbicara dengan wajah tengil ngenyek nyebelin gitu. Gunawan, Puja, Iskandar, bahkan sampe pacarnya Adlin setting wajahnya begitu. Saya sampe pengen graut muka pacarnya Adlin deh. Yasalam itu pere ya, sinis amaaaaat!!! HIH!! *graut!!*

3. Film ini sarat pesan psikologis. Iskandar sebagai mantan pejuang ternyata tidak mudah untuk kembali ke kehidupan sipil. Sebegitu berat trauma peperangan menghantuinya. Di satu sisi ia terbiasa memiliki kegiatan yang membuat ia merasa berarti, tetapi saat itu, ia tidak punya kegiatan apa-apa. Ia ingin merasa punya arti tetapi juga belum tau maunya apa. Nah pusing kan. Ia terbiasa diarahkan melakukan satu pekerjaan jadi dia sendiri kalau sekarang disuruh mikir mau kerja apa ya ngga bisa. Maka ketika ia mencoba bekerja di kantor gubernur dan direndahkan oleh teman kantornya, ia berontak dengan keras dan langsung memukul. Biasa dipandang dan punya arti kok direndahkan. >.< Yang juga melambatkannya adalah bahwa ia punya rasa bersalah telah mengiyakan perintah atasannya untuk membunuh satu keluarga. Ia terkatung-katung berpikir apakah keluarga itu memang bersalah sehingga harus dibunuh? Maka ketika kemudian ia mengetahui bahwa itu hanya akal-akalan Gunawan (mantan atasannya itu) yang ingin mendapatkan harta keluarga yang dibunuh, ia jadi murka (cieh bahasa saya murkaaaa.. :))) ). Belum lagi kesadarannya bahwa sekarang, teman-temannya tidak mau lagi membantunya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Yang teguh ada untuknya hanya Norma, tunangannya. Caelaaaah. Apipiuuuuwww.. *lalu joget maju mundur*

Laila juga, secara psikologis, ia tertekan karena suaminya pergi meninggalkannya, tetapi ia tetap harus bekerja, tetap merayu dan menggoda, dan tetap memupuk harapan dan impian. Di satu bagian, kita akan melihat bahwa pekerjaannya sebagai perempuan nakal membuatnya tampil dewasa dan erotis, di bagian lain, kita bisa melihat sisi kekanakkannya muncul saat ia melihat kliping barang-barang yang diinginkannya.


Laila: Dulu, laki saya bertanya, saya mau apa? Saya tidak bisa jawab, karena saya tidak punya keinginan apa-apa. Sekarang, kalau ada lelaki yang bertanya saya mau apa, saya jadi sudah tahu jawabannya. Ini barang-barang yang saya inginkan. Bung mau belikan saya? *sambil menunjukkan kliping yang baru saja diguntingnya, gambarnya: satu set sendok*. πŸ™‚ Antara lucu kasian sama miris dengernya. :’)

Norma digambarkan sebagai perempuan kaya yang sangat mencintai Iskandar. Terus mencari Iskandar kemana-mana, dan terus menunggu Iskandar. Berbinar mendengar cerita Iskandar yang sederhanya. Harusnya indah, tapi ngga tahu ya, sosok Norma ini kayak kosong aja gitu saya ngeliatnya. Hehehe.

4. Keseluruhan film ini hanya menggambarkan cerita dalam satu hari satu malam, 24jam. Film dibuka dengan Iskandar yang menyoroti peraturan jam malam yang diberlakukan. Kemudian ia dikejar-kejar petugas sampai kemudian bisa berlindung di rumah Norma. Film diakhiri dengan Iskandar (yang lagi-lagi) dikejar petugas karena melewati peraturan jam malam (ga belajar banget dah Mas Is inih!!), dan kali ini, ia tidak bisa ngumpet karena sebuah peluru dari petugas sudah ditembakkan dan bercokol di kaki kanannya. Jadi, dari lewat jam sepuluh malam hari A sampai lewat jam sepuluh malam hari B. 24jam sahaja. Hehehe.

5. Alur film terasa sangat lambat. Saya sempat bosan banget tu sepertiga film, but when I look within, ternyata ada pesan yang coba disampaikan dengan begitu tebalnya. πŸ™‚

6. Bajunya Zuraida bagus ya.. Anggun!! *okesip, abaikan poin no 6 ini* -____-

7. Walaupun banyak yang bilang bahwa sesungguhnya pesan film ini adalah tentang perjuangan, saya lebih melihatnya sebagai penyampai pesan psikologis. Bagaimana pun juga kalian melihat film ini, secara estetik, nostalgia, dan pengetahuan, film ini bagus dan sangat layak tonton. πŸ™‚

Jadi, nonton giiiih. Saya ga tau ya masih diputar atau engga, moga-moga masih. Film Lewat Djam Malam hanya diputar di 21 (eh atau Blitz ya itu) Plaza Senayan. πŸ™‚ Coba perhatikan, apakah kalian menonton dengan banyak orang tua yang ingin bernostalgia? Dan apa kah hampir semua penonton tidak berdiri tepat ketika film telah usai? Saya kemarin, YA. Banyak orang tua dan tidak ada yang berdiri ketika film telah usai. Semua duduk, diam, jadi kayak merenung. Film ini indah, and we’re cravin for more.. πŸ™‚

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements