Matah Ati.. Kolosal.. Megah.. Mengagumkan..

Itu tiga kata yang langsung ada di pikiran saya saat mengingat kembali sebuah pergelaran langendriyan yang semalam saya tonton. Kolosal. Megah. Mengagumkan.

Mendengar tentang Matah Ati sesungguhnya sudah lama, namun ketika dulu pergelaran pertamanya di Indonesia, saya tidak bisa hadir untuk menyaksikan. Lalu tahun ini Matah Ati kembali hadir, saya niat semangat 45 85 22 56 untuk menyaksikan. Demi Matah Ati ya, saya niat banget ngesot ke Bu Dibjo Cikini untuk pesan tiketnya dan kemudian datang lagi satu hari sebelum acara untuk menukar tanda pembayaran dengan tiket (saya bukan penyuka sistem pembelian tiket seperti ini sebetulnya..lebih suka semua online, tinggal print tiket, selesai..hehehe). Oke, ralat, ga ngesot kok, perginya sama Opie. Dan datang pertama plus saya manicure pedicure di salon sebelahnya, datang kedua plus makan di Texas Chicken di depannya. -_____-“

Pergelaran dimulai pukul 20.00 dan kami sudah sampai di TIM pukul 18.40-an. Makan dulu, kemudian baru masuk.


Pertunjukkannya gimana?
LUAR BIASA!!
Kolosal Megah Mengagumkan.

Semua dipikirkan dengan detil. Tata panggung, tarian, masuk dan keluarnya pemain, sampai musik, semua luar biasa. Bersinergi full. Penuh  perhitungan dan mata ga berhenti dimanjakan bias warna yang penuh emosi juga musik yang tiada henti. Bahkan ketika musik berhenti dan hening, saya merasa seperti ditahan untuk kemudian diputarbalik emosinya dengan detam musik lagi. Aih lah!!

Foto ga jelas? Yauda sik makanya pada nonton. :p

Keseluruhan pergelaran memakai Bahasa Jawa halus. Saya sendiri tidak terlalu menguasainya, Sam apalagi, sebagai seorang Toraja mana lah dia ngerti, yang ngerti lengkap mungkin cuma bujendral. Tapi saya menikmati keseluruhan paketnya. Mengerti jalan ceritanya. Bahasa Jawa campur yang ditampilkan Mbok Limbuk segar sekali menyapa di tengah pergelaran, guyon ning nyentil! Hihihi. Gerak penarinya luar biasa. Pernah tersirap gerakan penari Bali saat nonton di Batu Bulan? NAH, kayak gitu lah. Saya tersirap. Gemulai namun kuat. Dan setiap gerakan memiliki arti. Oh ya, adegan terakhir adalah Raden Mas Said dan Matah Ati mempertunjukkan gerakan menuju tutumetutu, tapi gerakannya itu dibuat dalam bentuk tarian, pakaian dibuka satu per satu, rambut Matah Ati digerai, kemudian ia berbaring, daaaaaaaaaaaan tirai menutup. Hehehe.

Selesai menonton, Bujendral masih belum bisa move on. Ngomongiiiiin terus sampe keesokan harinya (which is hari ini). Hihihi. Tahun depan kalau ada lagi, beliau mau nonton lagi, tapi ngga mau kelas 3. Mungkin ke kelas 2 atau kelas 1 katanya. Hahaha. Pusing ya mah.. Hihihi..

Saya mau nonton lagi? MAU!!

Matah Ati meninggalkan kesan yang mendalam. Yang kuat dan indah. Yang laras dan penuh cinta. Yang damai dan penuh tawa.

TIJI TIBEH!!

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements