DI Timur Matahari.. Beauty within.. A MUST WATCH!!

Saya penggemar film-film Alenia Pictures yang selalu hadir saat libur sekolah tiba. Pesan yang disampaikan di tiap film sangat bagus, anak-anak yang bermain benar-benar terpilih walau kadang aktingnya tidak bisa dikatakan bagus banget. Di Timur Matahari salah satu yang terbaik. Pesan kasihnya tersampaikan dengan baik, penggambaran setting luar biasa bagus, adat istiadat dan tingkah laku warga Papuanya tercapture dengan bagus, dan pemain anak-anak di film Alenia Pictures yang ini, bagi saya, adalah yang terbaik. Semua berlaku natural. Film ini benar-benar masuk dan bertahan di hati saya. A MUST WATCH!!


Dari film ini, banyak hal yang bisa didapat. Bisa melihat bagaimana keseharian warga di pulau paling timur Indonesia, Papua. Lihat sisi lain, bahwa ya, memang orang sana hidupnya keras. Kematian adalah hal yang sering terjadi (karena perang antar kampung) walaupun kematian tetap meninggalkan duka yang mendalam pada orang-orang yang ditinggalkan. Bisa lihat juga bagaimana perempuan Papua memotong jarinya untuk menunjukkan dukanya. Bagaimana harga-harga di sana luar biasa di luar bayangan (minyak goreng 350ribu..okesip besok makan rebus-rebusan aja semuanya, etapi minyak tanah juga mahal, okesip besok makanannya pada dibakar aja, etapi errrrr, bisa ga bakar makanan ga pake minyak?).

Bisa lihat juga bagaimana hukum adat terus ingin ditegakkan walaupun itu memberikan resiko akan hilangnya satu suku karena banyak yang meninggal di perang antar kampung tersebut. Belum lagi bagaimana mereka dibodohi untuk menerima uang palsu dan dirusak dengan ditawarkan hape yang sudah tidak bisa dipake seharga 2juta yang isinya gambar tidak baik. 😦 Sedih liatnya.

I almost burst into tears. Kenapa ga jadi nangis? Karena saya tahan. Saya ga mau pandangan ke film terhalang air mata karena gambar yang ditampilkan bagus sekali. Momen breakdown pertama saya adalah ketika Pak Yakob berkata “Anak-anak, guru pengganti belum datang. Jadi kalian …” (lupa akhirannya ‘pulang saja’ atau ‘nyanyi saja’ gitu) dan kemudian kamera zoom out memperlihatkan bahwa Pak Yakob mengatakan itu di kelas pada sejumplak meja dan kursi yang kosong. 😦 Jlessss momennya dapet banget. *terbayang-bayang lagi* *sedihlagi* 😦

Di awal film, saat Bapa Ucok menabrak (atau dia keukeuh dia yang ditabrak :p) sama Mazmur, ia harus membayar 50juta sebagai pengganti denda adat, walaupun Mazmur tidak kenapa-kenapa dan pengobatan sudah dibayar semua oleh Bapa Ucok. Sam lalu cerita, kalau di Papua, kalau kita nabrak babi warga yang berkeliaran lincah kayak gada dosa sampe ke tengah jalan itu, kita juga harus bayar denda adat. Satu babi berapa? 5juta? Eits, jangan sedih… Babi itu dihitung putingnya. Satu puting babi seharga 2juta. Jadi kalau ada 6puting maka yang harus diganti adalah 12juta. Udah itu aja? Oh belom. Kalau babinya lagi bunting, maka akan dibelek (oke, bahasa apa ini dibelek?!) perutnya dan dikeluarkan anaknya. Untuk apa? Untuk dihitung lagi putingnyaaaaa!! Dan dikalikan lagiiii.. Mati ga loe… *pengsan denger harga puting*

Lalu kemarin Sam dan mamah juga cerita (bujendral pernah ke Papua btw..), di sana, kalau melewati jalan yang cuma cukup satu mobil dan dibatasi hutan atau jurang di kanan kirinya, itu kalau malam hari nakutinnya banget-banget. Jangankan malam hari, siang juga. Bukan masalah jalannya yang menakutkan, tapi bisa tiba-tiba ada panah melayang dari arah hutan, mobil dihadang dan diserang salah satu suku. Saya bengong. Ga percaya. Eh pas liat film ini, bener loooohhhh!! Njiiirrr saya sampe remas tangan kenceng banget dan tangan saya dingin saking takutnya. 😦 Kalau saya di posisi itu bagemana ya? Pengsan kali ya.. 😦

Pemainnya gimana? By far, justru pemain anak-anak di film ini yang menurut saya paling anak-anak, paling natural, paling lucu, dan paling dapet emosinya. Mazmur mainnya luar biasa bagus. Saya selalu ingin tersenyum kalau lihat dia tersenyum. Teman-temannya, Agnes Suryani Thomas Yokim juga. Pak Yakob mainnya luarbiasa, he’s my fave also, minim dialog tapi sarat pesan simbolik. Hampir seluruh warga Papuanya mainnya bagus walaupun minor mistake kayak ga sengaja lirik ke kamera masih terjadi. Bu dokter, Mama Vina (Laura Basuki cantik banget dan aktingnya bagus..), Pak Pendeta, Michael (yang dibaca Mekel btw dengan huruf ‘e’ senada saat mengucap ember) juga bagus. Even, Ringgo Agus as Bapa Ucok dan asistennya, Jolex, yang warga Papua mainnya bagus. Semuanya bersinergi dengan baik. Emosinya dapet, penyampaian pesan dapet.

Eh uda berapa kali di post ini saya bilang ‘bagus’ ya? Hahaha. Tapi emang  bagus bangeeeeeeeeeeeet!!! Bener-bener luar biasa dan a must watch film!! Musiknya juga bagus. Tuh kan ‘bagus’ lagi. -____-. Ada CDnya ga ya itu? Saya mau kalau ada. Dan baru sadar, lagu Papua itu memiliki esensi nada dan emosi yang sama dengan lagu-lagu dari Hawaii ya. Hihihi. Silabel bahasanya juga mirip, silabel gantung gitu.

Yak oke, udah ah post kali ini. Words are not enough in describing how amazing this film is. Please please ayo pada nonton. Saya tahu gempuran film luar juga lagi banyak di masa libur sekolah ini, but this one is exceptionally a must watch. Madagascar masih akan lama diputarnya di bioskop karena permintaan masih banyak. Brave juga begitu. Tapi film ini, dengan penonton yang tidak pernah banyak, akan cepat diturunkan dari bagian ‘Now Showing’-nya XXI atau 21. Jadi ayo sekarang pada nonton!! Lihat keindahan Papua, lihat betapa keras hidup di sana, lihat betapa masyarakat yang terlupakan ini bekerja untuk bisa berbahagia, dan lihat bagaimana anak-anak ini menyampaikan pesan damai dan tidak memupuk kebencian dan dendam (bapaknya Mazmur dibunuh oleh bapaknya Suryani, kemudian bapaknya Suryani ganti dibunuh oleh omnya Mazmur (bapaknya Thomas), dan bapaknya Thomas juga dibunuh oleh entah siapa di perang antar kampung itu, tapi Mazmur Agnes Suryani Thomas dan Yokim tetap bersahabat baik, tanpa dendam).

Lihat. And you’ll see the beauty within. You might crack into tears also.. :’)

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements