Cincin berpulang di Phi Phi Island..

Saya menemukannya beberapa tahun lalu ketika sedang mampir di tempat yang saya sebut lil heaven. Thalbia House di Jogja. Di Jalan Prawirotaman. Jalan kaki saja dari rumah eyang. Dengan cat biru dan lampu remang, dengan bias lampu hias dan wewangian dari incense stick yang dibakar (oke jadi pengen…bentar, nyalain dupa dulu), dan dengan udara sejuk mesin pendingin yang terus dinyalakan, Thalbia selalu menarik saya. Untuk masuk dan menghirup. Setiap saya ke Jogja, selalu ke Thalbia. Pulang dengan adaaaaa aja barang bawaan. Ya gelang, ya kalung, ya ikat pinggang. -____-. Tapi ga usah sibuk mencarinya sekarang ya. Terakhir saya ke Jogja (bulan lalu ya?), ‘rumah’ Thalbia sudah dihancurkan. Kosong. Tak berisi. 😦

Anyhoo, penemuan yang kemudian menjadi bagian hidup saya juga datang dari Thalbia. Kalau kalian sering memerhatikan foto saya (oke sip, GR banget siBulan dikira orang merhatiin fotonya terus.. :))) ), you must know what the thing is. Yup, it’s a ring. Ga peduli pake baju formal, casual, tu cincin nangkring terus aja gitu loh di jari. Yaaaa kalau lagi pake dress formal ya ditambah cincin lainnya lah yang lebih gemerlap, atau kadang saya lepas sebentar dan (selalu) langsung pake lagi setelah acara selesai.

Walaupun saya temukan di Thalbia, di Jogja, tapi saya memercayai cincin ini datang dari ranah Thailand. Kenapa?? Karena ada bentuk gajahnya. Hahahaha. Ya mungkin juga si dari Way Kambas – Lampung, etapi kan Way Kambas ga terkenal memproduksi cincin perak bukan? Jadi pasti dari Thailand!! PASTI!! *mekso* :p

Kemarin ke Thailand, pasti saya pake donk ituh cincino kesayangano. Nah saya sempat terhenyak sebentar pas selesai berenang di Phi Phi Leh. Bukan bukan, tu cincin bukan hilang dengan misteriusnya, hihihi, but it was just funny. Cincin itu pas di jari tengah saya yang berukuran 14 ini *uhuk..kode..uhuk!!* dan biasanya tidak pernah slipping (apa tu Bahasa Indonesianya?), ya nyelip lepas gitu. Ga pernah. Nah ini kok pas saya naik ke kapal, itu cincin tetiba lepas. Saya sempat langsung melepaskan pegangan tangan saya demi menadah cincin itu dan cincin itu kelihatan jelas. JELAS. Tapi tidak tertadah ke tangan saya. Tangan saya ke bawah-bawah lagi berusaha menadahnya, and it’s exactly under the ring!! Jadi harusnya jatuh ke tangan saya. Etapi engga loh. Saya menadah kehampaan. TSAH!! *kibas selendang*

Jadi dia lepas. Jatuh ke bawah. Ke dasar ceruk Phi Phi Leh.

Itu cincin kesayangan. Sampai sekarang belum menemukan cincin dengan kriteria sama. Penampang besar dan tipis. Jadi kehilangan itu cincin (harusnya) menyedihkan. Tapi ini ya rasanya biasa aja gitu. Ada yang hilang tapi ya kayak saya rela2 aja gitu. Kayak memang sudah seharusnya tu cincin lepas dari tangan saya dan kembali ke tanah yang memproduksinya dulu, Thailand *tetep keukeuh* (ya pan saya ga ke Way Kambas pan.. – dibahas).

Dia berpulang.
Saya tidak apa. πŸ™‚
Anggap saja itu doa, bahwa saya akan kembali ke tanah yang sama karena cincin saya tertinggal di sana. πŸ™‚
(Oh ya emang bakal balik lagi si, bulan depan juga ke Thailand lagi.. Hihihi.. *tepokjidat*)

Feels empty, my middle finger..
Nanti pesan deh. Moga2 dengan modal foto doank bisa mirip jadinya. Hehehe.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements