Masak?? Overrated..

Iyaaaa, judulnya sinis gelllaaaaa.. Hahaha..

Beberapa waktu lalu seseorang ngetweet “The ONLY way to get to a man’s heart is by cooking him meals!! It won’t fail!!”, saya bengong, baca sekali lagi, bengong lagi, trus unfollow sambil kesel. Hahaha. Entah kenapa lama-lama saya jadi sensitif banget sama yang namanya masak memasak ini. Padahal kalau kalian tau dulunya saya, duuuuh, pasti gada yang percaya!! Jadi mari saya ceritakan…. *mekso*

Saya dulu SUKA masak!! Setiap weekend, saat saya SMA, saya bangun pagi untuk nonton acara demo masak di TV. Trus nyatet resepnya di selembar kertas. Acaranya selesai, tukang sayur datang. Saya belanja dan Mbak Parni yang bayar but hey, itu uang dari mamah kok.. sayur-mayur segala rupa. Trus saya masak deh. Mbak Parni berbaik hati ninggalin saya sendiri di dapur karena kalau ditemenin saya malah khrohi masaknya. Hihihi. Masak apa Lan? SUMPE bukan masak air doank. Udang Masak Merah, Schotel, Telor Santan are just to name a few. Popsky (papah saya that is) suka tingkat tinggi sama masakan saya!! He’s my cooking number one fan.. (eh gmn deh? Cooking number one fan teh naon?)

Kemudian papah meninggal dan saya kehilangan fans, jadi males masak. Hahaha. Pas coba masak lagi, saya uda kehilangan minat. Khususon kalau kena hawa panas kompor, yak, langsung mundur teratur menuju kamar bujendral dan popsky aja, ngadem. Hihihi. Sejak itu saya ga pernah masak dan menghindari dapur.

With Aldi, saya sudah bilang dari awal pacaran kalau saya tidak mau masak. But I did cook for him once in a while sampai kemudian dia bilang (pas berantem, yaaaaa, namanya juga rumahtangga..*tsah*) kalau dia sudah sangat memiliki toleransi sama saya karena saya ga bisa masak. OH HATIKU HANCUR!! Hancur lebur berkeping-keping.. *lebay* I was givin him my “what the heck” look, but apparently, he doesn’t know how hurtful it was. :p Saya, dibilangin begitu, malah jadi semakin GA MAU masak. Hihihi. *nesu*

Beberapa hari terakhir ini, saya berdamai dengan masak memasak. My mom has the best way to get me into her kitchen. 😀 She’s a great cook. Bumbunya minimal, rasanya maksimal. Ga usa ngarepin santan2 ya, mamah memang minta kami menghindari sering makan masakan bersantan. How can she get me? She was actually not asking me to help her. Tapi ya masa mamah masak dan saya nonton CSI?? Pegimana banget dah. Saya bilang ‘Beli aja mah..’ sebagai dalih ga mau masak, eh mamah bilang, ‘Adek ga mau coba? Enak banget lho masakan mamah..’ JRENG!! Ndak mungkin toh saya bilang ‘Sudah tidak usah!! Aku tak percayah!!’. Ga mungkin kaaaan. Jadi ya saya nyeret diri sendiri ikut ke dapur. Hihihi.

I helped her preparing all the ingredients. Iris2 ini, potong2 itu, aduk2. Yaaa begitulah. Jatohnya bukan saya yang masak sebenarnya karena saya cuma bantu nyiapin aja. But my mom, once again, proudly said to everybody that I cook the food. Maybe it’s her way to make me liking the process. :)))) *diterima buuu, diterimaaa*

Sekarang saya ga anti2 amat masak sih. Lumayan, bisa berdamai. Tetapi kembali ke kalimat awal yang ditweet sama orang yang akhirnya saya unfollow itu (ribet), to me, it’s overrated to say that the ONLY way to get to a man’s heart is by cooking him meals. Apakah kita sebagai perempuan harus memaksakan diri kita untuk bisa memasak hanya demi mendapatkan hati seorang pria karena itu adalah cara satu2nya? Jadi kalau kita ga masak, kita kehilangan hati pria itu gitu? Gimana kalau kita lagi capek? Gimana kalau kita juga kerja dan pulang sudah malam? Gimana kalau kerjaan kita itu juga berkontribusi pada keuangan keluarga? Ga ada credits untuk itu gitu? Kita harus tetep masak gitu? Kalau ga masak dosa gitu?? *teeettt mengulang kata ‘gitu’*

Dan apakah pria mau dianggap pikiran dan perasaannya hanya sebatas urusan perut saja? Sebatas dihidangkan masakan buatan perempuannya dan udah cukup? Apa kabar sama berbagi cerita, pikiran, dan pendapat? Ga perlu kah?

Saya pribadi sudah merencanakan… *pasang muka kriminal* Kalau nanti ada yang minta saya masak, saya akan menyorongkan daftar ini sebagai syarat (Eh, intermezo, syarat dan prasyarat apa bedanya sih? Prasyarat itu syarat sebelum syarat gitu? Kok ribet amat?)

1. Sediakan saya dapur berventilasi bagus, ga panas, ga sempit, ga gelap.
2. Kompornya kompor listrik datar yang tidak mengeluarkan hawa panas. (uda browsing kok, sok eta tah kompor listrik induksi ada warna item, harganya 14juta)
3. Ada microwave dan oven (hey, I love baking cakes!!), dishwasher (as much as I love cleaning the dishes manually, I just want to make the list longer, so whatever.. :))) )
4. HappyCall bolakbalik sama HappyCall teflon (kompetitif sama emak sendiri)
5. Tampilan luar semua peralatan harus fashionable dan stylish..
6. Juicer and Blender jangan lupa.. Warna putih ya, yang warnawarni ga keliatan kece.. *penting*

Demikian. Manja ya? Nah, situ bisa beli makan pake minta dimasakkin, kurang manja apa coba?? Sama2 donk ah yuk kita manja2an.. *soundswrong* :)))) Tapi tenang, semua list itu bisa dikurangi (dikurangi yaaaa, bukan dihilangkan), kalau yang meminta memenuhi daftar ketujuh..

7. Ucapan terimakasih serta ucapan dan perbuatan menghargai (nah pikirin sendiri deh tu gimana ucapan dan perbuatan menghargai) dari yang meminta dimasakkin. 🙂

Sekian dan terima saya apa adanya… *kibasponi*

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements