See within..Traveling in and out..

Semalam dosen saya bicara “Dengan orang yang pikirannya sudah dipantek ke satu hal dan merasa pemikirannya paling benar dan ga mau belajar hal lain, kalian ga usah mendebat. Sama saja bohong. Capek.” — Dengan perkataan itu, saya jadi bisa lebih tersenyum.

Kemarin pagi, ada teman baru yang mengatakan di Twitternya “Jadi, ngapain loe pergi-pergi ke luar negeri kalau alam di Indonesia uda sebagus ini??”, saya tersenyum agak kecut membacanya.

Ini contoh saja. Kalau seorang anak dilahirkan dari keluarga Jawa Muslim, tinggal di Jawa, berteman dengan orang Jawa, bersekolah di sekolah Islam (yang isinya orang Jawa semua), berteman dengan (hanya) sesama Jawa Muslim sampai ia besar, maka bagaimana ia perceive dirinya sendiri? Bagaimana ia perceive orang yang berbeda dengannya? Dia tau ga ada suku dan agama lain selain Jawa dan Muslim? Kemudian jika tahu, bagaimana ia melihat suku dan penganut agama lain itu? Secara pemikiran kasar bisa dilihat, orang yang lahir dan dibesarkan dan berteman dengan hanya sesamanya, pikirannya akan berkembang di situ-situ juga. Bahwa suku dan agamanya lah yang paling baik, mengalahkan semuanya. Kenapa gitu? Ya karena ia gada pengetahuan lain selain suku dan agamanya. Pikirannya jadi kotak. Isi kotaknya adalah Jawa dan Muslim (ya kalau muslim ditambah Arab lah ya, Arab pan terkenal banget di kalangan Muslim. :p).

Back to the tweet, kalau orang baru jalan-jalan di Indonesia dan belum pernah ke luar negeri dan mengatakan hal tersebut, maka kemudian saya pertanyakan, bagaimana bisa mengatakan Indonesia bagus kalau belum pernah melihat ke luar? Saya ga bilang Indonesia ga bagus, that’s not the point. Yang saya tekankan adalah pola pikirnya. How can you say something is best when you don’t have other thing to compare it to? Sama aja kayak contoh di atas yang saya berikan tadi. Yang sudah pernah jalan-jalan sama saya akan tahu betapa saya semangat menceritakan tentang keindahan Indonesia kalau ketemu sesama traveler di luar sana. Dan saya bangga sama alam Indonesia sampai saya bawa-bawa tu foto digitalnya kemana-mana untuk bisa diperlihatkan ke orang-orang. Dan saya suka bandara Soekarno Hatta (di saat orang Indonesia lain mencemoohnya). Ha, eat that!! Jadi, bagi saya pribadi, jalan-jalan ke luar itu tetap perlu. Dengan melihat ke luar, seseorang jadi sesungguhnya bisa melihat ke dalam. Sama aja, dengan melihat orang lain yang berbeda dengan kita secara terbuka dan menerima, kita jadi bisa lebih paham sama diri kita sendiri. Dengan melihat luar negeri, kita jadi bisa bersyukur akan apa yang kita punya di negeri kita sendiri.

Di suatu perdebatan penuh cinta antara saya dan bujendral di Bangkok kemarin (yampun debat aja sampe mesti di Bangkok loh, keren amat sik si Bulan!! :))) ), saya akhirnya dapat mengungkapkan buah pemikiran saya ke beliau. Traveling membuka mata dan pikiran (dan hati) saya, bahwa sesungguhnya, tidak ada benar atau salah di dunia ini, tidak ada baik atau buruk. Yang ada adalah berbeda. Bagaimana kita melihat perbedaan itu, itu adalah bagaimana kita berpikir terhadapnya. Kita mau melihatnya sebagai hal yang buruk, bisa. Kita mau melihatnya sebagai hal baik, ya bisa juga. Monggo mau pilih jadi orang yang berpikiran mana? Dengan kata lain, kalau orang sering jalan-jalan dan di saat yang sama ia berani membuka pikiran dan hatinya untuk melihat dan menyerap hal baru, ia ga akan punya celah untuk mau ngejudge orang lain (atau hal lain) itu benar atau salah. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Yang ada hanya berbeda.

As per se (oke, saya lagi suka pake istilah ini, yang mana saya sendiri ga tau pasti loh artinya apa..hahaha..enlighten me..), menurut saya, jalan ke luar negeri tetap perlu. Sebagus apapun alam Indonesia, kalau orangnya ga bisa bersyukur akan itu (dengan cara melihat ke alam yang berbeda), maka poinnya ga nyampe. Kita melihat ke luar, untuk bisa lebih memahami ke dalam. Semakin banyak melihat dan menerima perbedaan, semakin kita kaya. See within..

Begitulah pemikiran saya. Dan bukan, tulisan ini bukan hasil dari enlightenment dosen yang ngajar sampe jam setengah11 kemarin.. :))))

Senyum dulu ah.. 🙂

PS: Jadi ingat, kalau ada yang bilang ini benar dan itu salah, yakin apa yang kalian bilang benar itu bukan konstruksi sosial umum yang terbangun di tengah masyarakat? Yakin itu yang benar-benar benar? Menurut apa? Kata siapa? Berdasarkan apa? Hati-hati loh, konstruksi sosial itu kadang misleading. Apa yang umum dianggap adalah yang benar. Padahal, yakiiiinnn itu paling benaaarr?? Hihihi.. :p *peace*

Advertisements