Kolkatta Varanasi Agra Delhi..

Hai hai.. Saya kembaaaaliiii… Kembali insomnia (eh masa barusan saya butuh waktu beberapa detik untuk mengingat kata ‘insomnia’, ingetnya ‘amnesia’ sama ‘amoniak’.. -____-“)Barusan akhirnya sudah memindahkan foto-foto perjalanan India ke laptop. Tepoktangaaaan… (Eh, btw, saya agak stress deh tadi UTS ga bisa.. -___- Blank banget gitu.. Saking stressnya, pulang kuliah saya shopping.. Menghibur hati yang luka dan kecewa.. Hiks.. *oke, abaikan..maap yah malah curhat..saliiim*).Saya akhirnya memiliki waktu (dan tenaga dan semangat) untuk menulis juga. Looking at the photos had helped me somehow to reminisce the memories.. 🙂

Jadi, akhirnya, awal September ini saya menyentuhkan kaki di India.. Woohoo!!*goler-goler di pelataran bandara*

Perjalanan India saya dimulai dari Kolkatta (pesawat dari Bangkok) kemudian dilanjutkan dengan 14jam perjalanan kereta ke Varanasi (iya, 14jam..kelas sleeper, tanpa AC..hihihi..), menginap dan kemudian lanjut dengan kereta lagi (another 14hours) ke Agra (kali ini pake AC tapi kok saya malah lebih suka yang ekonomi ga pake AC ya..hihihi..), tektok, tidak menginap, dan tiga jam lagi dengan kereta ke New Delhi (AC juga tapi sekali lagi, enakkan yang ekonomi deh beneran!! :)) ). Saya bagi ceritanya berdasarkan kota ya (sebentar, bingung, kota apa state si itu Kolkatta Varanasi Delhi Agra??).

– Kolkatta
I’m in between mixed feeling with Kolkatta. Di satu sisi, Kolkatta bagi saya termasuk kota yang besar yang sudah lebih urban. Tapi keurbanan Kolkatta njomplang banget sama keadaan penduduknya. Banyak sekali ditemui penduduk yang mandi massal di pinggir jalan karena air bersih tak masuk ke rumah-rumah mereka. And yes, mereka mandi lengkap pake saree. Gimana caranya? Ya meneketeheeee.. Jebar jebur aja gitu yang penting basah. Hehehe. Di Kolkatta juga saya (ehm, ‘kami’ sih lebih tepatnya) harus adu mulut dan logika sama orang hotel yang yampun dodolnya ga ketulungan (extra bed hanya dikasih pas uda mau tidur yaaaa, kalau siang enggaaaa, itu katanyaaa, cateeeet!!! -___-), juga sama supir hotel yang Englishnya minim. Hiks. Lelah akuuuu, lelaaah… *jambak-jambak rambut*. Oh, belum lagi bentakkan ga penting army India yang ga bolehin kami masuk Fort William. Yauda sik bilang aja itu bukan untuk turis ga usa pake bentak-bentak napaaaa. Mana dese juga sebenarnya ga bisa Bahasa Inggris, jadi ribet pan ngejelasinnya. HIH!! *bejek*. Untuk saya pribadi, warna yang pas menggambarkan Kolkatta: Abu-abu.. (surem makjaaaan).

– Varanasi
This Holy City sudah merenggut hati saya sejak pertama kali membaca artikel tentangnya. Di sini saya banyak belajar tentang arti ‘believe’ yang sesungguhnya. Makin belajar untuk bisa respect dengan setiap keunikkan di dunia. Di Varanasi, air kotor warna coklat? Ada!! (nunjuk Gangga). Sapi ndusel-ndusel di gang-gang sempit, adaaaa.. Kotoran sapi dimana-mana, adaaaa… (Btw, saya jadi agak kurang selera makan gegara setiap keluar hostel menuju tempat makan selalu melewati cow dung berserakan di jalan..Hihihi). Orang ngantri untuk masuk temple, adaaaaa.. Orang mandi di Gangga, adaaa.. Nyuci di Gangga, adaaaaa.. Sikat gigi di Gangga, adaaaa.. Mayat dicemplungin ke Gangga dengan kaki diikat batu besar biar bertahan tenggelam, adaaaaa.. Pembuangan abu dari mayat yang dibakar ke dalam Gangga, adaaaa.. Polisi bersenapan duduk-duduk depan temple dan ga ngapa-ngapain plus ga bantu saya juga pas saya bingung ga bisa jalan karena gang terhalang oleh sapi yang lagi asik berdiri pose aja gitu, adaaaaaaaaaaaaa!!! Semua cerita deh ada di Varanasi. People say Varanasi is filthy. But to me, it’s just holy. 🙂 Warna yang pas menggambarkan Varanasi: terakota (if not green according to the color of the cow dung ya.. ewwwww!! *masi kebayang* Hiiii.. *bergidik sendiri*)

– Agra
Agra, yang terkenal dengan Taj Mahal-nya memang tidak saya inapi. Cuma tektok aja karena selain Taj Mahal dan Agra Fort, tidak banyak yang bisa dilihat di Agra sebenarnya (eh ralat, sebenarnya si banyak ya.. Orang-orang seliweran juga bisa diliatin kan..). Tapi  menghabiskan satu hari di Agra, seengganya saya bisa ngecas energi. Di Agra, saya merasa orangnya lebih kalem. Ditandai dengan agak minimnya suara klakson. Hahaha. Standarnya klakson!! Etapi bener deh, Kolkatta apalagi Varanasi itu gilelebo banget pemakaian suara klaksonnya. Maksimal beneeer. Even gada apa-apa depan mereka pun ya mereka nglakson aja gitu, for the sake of the sound. Hihihihi. *sumpel kuping*. Supir di setiap kota di India juga nyetirnya luar biasaaaa.. Luar biasa gila maksudnya. Hahaha. Beneran bisa sampe mepet banget sama mobil depan baru dia melengos ke kiri atau kanan. Kalau kata supir di Delhi, nyetir di India itu butuh empat ‘good’: Good Horn, Good Eye, Good Brake, aaaand Good Luck!! Hahahaha. Nah di Agra ini lebih kalem lah suara klaksonnya, nyetirnya juga berasanya jadi lebih santai, ga kemrungsung. Juga banyak taman-taman hijau jadi lebih adem walaupun burung yang beterbangan tetap aja gagak. Entah deh di seluruh India kok burung yang beterbangan (macam burung gereja kalau di Indonesia) tu burung gagak. ???. Warna untuk Agra: merah.

– New Delhi
Ini juga satu kota (jadi, kota apa state niii??) yang meninggalkan kesan tidak begitu menyenangkan bagi saya. Pemuda (dan mungkin pemudi?) Delhi itu yampuuuun gayanya selangit beneeer. Dan mungkin karena kota besar ya, jadi mereka lebih pandang rendah sesama orang India dari daerah lain. Oh, dan sekali lagi di sini kami bermasalah sama hotel. Ebusek masa orangnya ngangkat kaki ke atas kaunter resepsionis pas kami jelas-jelas lagi di lobby?? Trus AC dimatiin sepihak. Trus kalau mau nunggu di lobby ditanya berapa lama. Trus KaJerzy dibilang lebih cocok jadi sekuriti instead of sekretaris karena ndut. Trus trus trus.. Rauwis-uwis. Sikampret lah. Ga betah di Delhi. Tapi kami kemudian beruntung, dengan memesan mobil sewaan sendiri (instead of dari hotel), kami jadi dapat supir yang baiknya minta ampyuuuun. Lucu lagi, mau ngakak-ngakak aja gitu ngikutin kegilaan kami. Hihihi. Next, kalau mendarat di Delhi lagi, langsung aja minta jemput sama pak supir ini dah. Biar dia aja yang nyariin hotel. HIH!! *masih emosi*. Warna untuk Delhi: putih yang menyilaukan.

Demikianlah sekelebatan tentang empat (bla bla bla) yang sudah saya sambangi di India. Kalimat yang selalu saya ungkapkan untuk menggambarkan India: Sweet Salty in a Mysterious Way. India may be filthy and dirty but it offers a magnificent living, a generous value of God, and a unique way of self concept. 🙂 Me likey.. Will be back next year, taking different trail.. 🙂 Amen..

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements