Wassrroooong??

Kejadian entah yang keberapa kali..

Tidak sama persis tapi intinya sama..
Semalam kejadian lagi..
Kali ini pelaku adalah dosen saya sendiri.. Hahaha..
Wassrrrroooonggg???
– Kau tinggal di mana?
* Depok
– Ooooo, kantor kau dekat sana?
* Engga Pak, kantor saya di Bekasi.
– Ooooo, kau tinggal sama orangtua di sana?
* Engga Pak, sendiri.
– Lho, orangtua di mana? *ni mulai ni*
* Tanjung Duren.
– Lho, kan lebih dekat ke sini (kampus maksudnya) dari Tanjung Duren daripada dari Depok.
* Iya. Hehehe. (apal mati saya lanjutannya)
– Kenapa kau tidak tinggal sama orangtua?? (bener kaaaan!!)
* Ya ngga papa Pak.
– Kenapa di Depok?
* Masih enak Pak. Bangun tidur masih segar udaranya, air masih bersih, adem, enak lah.
– Kenapa tidak di Tanjung Duren saja? Kan dekat.. (diulang looooh…sia-sia jawaban saya.. -____-)
* Hihihi. Ya ngga papa Paaaak. Malu lah Pak, masa sudah usia segini masih tinggal sama orangtua.
*terjadi perbedaan lanjutan dari sini*
Lanjutan pertama:
– Lho, anak saya usia 28 masih tinggal sama saya.
* (bengong sejenak) (jadi, itu salah saya?) (jadi, saya mesti bilang wooowww gitu??) Oh..
* (kemudian saya mengalihkan topik ke hal lain) (jadi ga enak ati) :))))
Lanjutan kedua:
– Ada ribut dengan orangtua? (ini uda kebaca juga ni pertanyaan ini bakal keluar)
* Engga Pak, baik-baik malah.
– Tapi ga pernah ketemu..
* Lah, kan saya bisa datang ke Tanjung Dureeeen..
– Ya kenapa kau tak tinggal di sana saja? (Oh Lord, please be mercy..)
* Diulang lagi ni, Pak?
Truth is, fellas. Tinggal sendiri adalah pilihan sadar saya. Bukan karena saya ada masalah dengan orangtua, bukan karena saya cari-cari alasan apa-apa.  Ini adalah pilihan sadar. Kalau pilihan sadar berarti ada latar belakangnya? ADA. Logis sekaligus belajar berempati lah saya.
1. Sistem kerja saya dan orangtua saya berbeda. Kalau dulu saya masih jadi guru, mudah bagi saya bersistem juga dalam hidup bersama orangtua. Kalau sekarang, tidak. Pulang kuliah saya justru lagi pumped untuk kerja. Di saat yang sama, orangtua saya ya sudah tidur. Apakah bijak saya masih bekerja, ribut-ribut, lampu menyala, geser ini itu untuk foto produk dan kemudian gambar-gambar dengan suara musik terdengar sementara orangtua saya berjuang untuk tidur di kamar sebelah? Menurut saya, engga.
2. Sistem pergaulan (ajieh, gahul!! *peluk pohon waru*) saya dan orangtua saya berbeda. Beberapa kali ketika bujendral nelpon malam, saya lagi ngapain? Yak, saya masih meeting dengan buyer sodara-sodara. Sedangkan di jam yang sama, orangutua saya sudah mau tidur. Bayangkan kalau tinggal bersama. Saya pulang, mutar kunci – bunyi, jalan ke kamar – bunyi, buka pintu kamar – bunyi, setelah itu sama, nyalain lampu dan bla bla bla. Sekali lagi, saya jadi tidak enak sama orangtua saya, dan ketidakenakkann jadi membuat saya terbatas ruang geraknya, padahaaaal, ruang gerak ini saya perlukan untuk menyokong kehidupan saya sekarang.
3. Sudah tidak dibiayai orangtua dari usia saya 21. Jadi, sekarang, sebenarnya malu kalau tinggal bareng karena bujendral pasti membiayai semua (makan, listik, bla bla bla). Mau saya yang biayain ya belum mampu. Tapi saya juga ga mau dibiayain terus. Yampun uda umur duatuju iniiiih. *maluuuu*
4. Pernah tahu ungkapan ‘Jauh jauh wangi, dekat dekat berbau’? – Eh sebentar, begitu bukan ya ungkapannya?? Hahaha. Ya mirip begitu lah. :)) Saya lebih bahagia hubungan saya dan orangtua saling ngangenin satu sama lain daripada ketemu tiap hari tapi singgungan terus (dan sama-sama ga mau bilang). Kesindir? Ya maaf ya, tapi itu terjadi hampir sama di semua keluarga kok. Tenang aja. Kalian ada temennya. Hihihi. Oh, dan ungkapan itu bukan hanya mungkin terjadi di keluarga ya. Sudah belajar kok saya, di pertemanan juga gitu. Kalau kita deket banget sama orang, pada akhirnya – tanpa sadar – ada bagian diri kita yang menganggap orang itu ‘milik’ kita, jadi kalau tetiba dia berubah menjadi seperti yang tidak kita inginkan, kita berontak. Tapi dalam pemberontakkan, kita ga berani berbuat apa-apa karena takut comfort zone kita hilang. DOENK!! Mendingan ketemu ga sering-sering tapi pas ketemu manis-manis kangen terus. 🙂
Demikian lah. Saya akui, ga mudah memang menerima garis pemikiran saya. Awal-awal saya tinggal sendiri pun bujendral masih ingin saya tinggal dengan beliau. Sebagai ibu, mungkin beliau kawatir saya kenapa-kenapa, but hey, bujendral jadi kuat karena dulu harus belajar mandiri. Kalau saya, paling tidak, mau sekuat beliau, ya saya juga harus belajar mandiri. Itu secara sadar saya jalani. Bujendral suka kasian kali ya ngeliat saya, takut makan saya ga keurus lah, ini lah itu lah. Tapi Puji Tuhan, saya baik-baik aja kan sampai sekarang. Saya belajar bertahan hidup. Belajar mengurus diri sendiri. Belajar mengambil keputusan darurat sendiri. Saya toh ga pernah ribet sama orang lain yang masih tinggal dengan orangtuanya sampai usia entah berapa tahun. (Eh, kecuali, belajar dari pengalaman, saya sekarang jadi lebih selektif sih sama cowok yang masih tinggal sama orangtuanya sampai usia 28tahun…WHATTT? WHAAAT?? Kekekeke *peace*). Jadi, kenapa saya diribetiiiinnn?? Kenapa kayaknya salah banget gitu tinggal sendiri?? Wassrrroooonggg??? Wassrrroooongg??? *hojeng2 bahu pak dosen dan bapak2 serta ibu2 lain yang nanya muluk* :)))
Senyum dulu ah.. 🙂
Advertisements