Supir Taksi Idaman di Malaysia..

Hari kedua di Malaysia, hari extend kami, grup terbagi dua. Satu ke Genting, satu ke Colmar. Colmar?

Yup! Colmar Tropicale.

Tempatnya di Pahang.
Di klik aja di nama di atas and you go straight to its website. 😀

Ke Colmar ini bisa naik shuttle bus dari Berjaya Hotel (di Berjaya Times Square), harga PP 55ringgit. Sayangnya, saya yang salah, ga prepare dulu. Pas dibilang “Or you can come straight to our office and obtain the ticket there.” di email, saya ho-oh ho-oh aja dan memutuskan langsung go show. Saya juga lupa bilang ke Jovita, Caesar, dan Rudy, kalau sudah di-warn untuk datang sejam sebelumnya sementara sikembar (Caesar dan Rudy maksudnya, kenapa kembar? Krn Caesar sebenarnya dipanggilnya Yudy, cuma karena saya suka salah nyebut ke Rudy, jadi sekarang dipanggil Caesar aja. Hehehe. Bingung ga? :D) bangunnya telat. Jadi kami mepet banget sampai di Berjaya Hotel itu nearly 10min before the bus go daaaaaaaaaaaaaannn BUS SUDAH PENUH!! Okesip!! :((

Sempet lama tu ngendon di lantai 8, di depan officenya sambil nelpon call center Colmar di Berjaya Hotel (namanya Diana, and she’s of a BIG BIG help!! Baik dan sabar banget!!). Pilihannya kemudian adalah naik teksi. Mata uda melotot sambil muter aja mikir berapa duit ke sana kalau naik teksi. Huhuhu. Diana dapat harga 300ringgit PP. Huaaaaaaaa.. Atutedih… :((

Kami akhirnya ke bawah, mau coba cari taksi sendiri dan nawar, siapa tau bisa dapat lebih murah dari 300ringgit. Padanannya adalah, kalau kami naik shuttle bus, per orang 55ringgit kan jadinya berempat 220ringgit. Nah pengennya ga jauh-jauh dari itu lah. Hehehe. *pedit* *bodo* :p

Pas depan lobi, nanya security di mana bisa ambil taksi, pas banget ada taksi lagi nurunin penumpang. Kata securitynya, boleh kalau mau naik dari situ, deal sama supir taksinya di lobi. Ah, baiknyaaaaaa.. And Lord, I never knew it was such an amazing day.

Perkenalkan…

Supir taksi kami: Pak Azmal. Orang Indonesia. Tapi dari tahun 70-an sudah tinggal dan bekerja di Malaysia. Bahasanya Indonesia Medan. Jadi melayu-melayu gitu. Istri dan anak-anaknya ikut tinggal di Malaysia. Anaknya bahkan dapat beasiswa dari kerajaan Malaysia karena pintar!! Ia pulang ke Indonesia dua tahun sekali. Orangnya ramah, sopan, dan yang terpenting, jujur. Oh, not to mention, he’s caring.

Dan dengan bangga saya umumkan, kami berempat, naik taksi, Pak Azmal nungguin, PP = 220ringgit saja!! SAMA ma naik shuttle bus. Hahaha. Pas di jalan, sambil ngobrol, baru sadar. 220ringgit itu 660ribu rupiah loh. Weeheeeee, kapan lagi naik taksi 660ribu ha? Hahaha. Tapi ya karena bandingannya shuttle bus, jadi ini udah harga yang kece marice banget!! Pak Azmal juga bawa mobilnya enak. Nyaman. Mobilnya juga masih bagus. Senang lah.

Keuntungannya jalan sama Pak Azmal, karena hujan dan keasikan ngobrol dan foto-foto santai, kami ketinggalan shuttle untuk ke Japanese Village di dalam komplek Colmar. Jalan kaki ya uda pasti gempor!! Jadi tut tit tat tit tut, “Halo, Pak Azmaaaaalll.. Kite nak ke Japanese Village ni. Sudah ketinggalan shuttle. Tolong Pak Azmal kemari dengan kereta ya. Di tempat drop tadi.” satu menit kemudian Pak Azmal datang dan kami cuss ke Japanese Village lagi naik taksi. Hahaha. Jadi santai lah, ga keburu-buru waktu. Bisa nikmatin waktu ngobrol berempat, ketawa ketiwi, luncat-luncat, foto-fotoan, joget-jogetan, jorog-jorogan.

Di perjalanan pulang, kami semua tidur saking capeknya (heeeey, Japanese Village itu naik ke atasnya lumayaaaan!! Ngiterinnya apa lagi!! :p), dan Pak Azmal tetap nyetir dengan baik, aman, dan nyaman. Berhenti sebentar di Hotel Istana karena kami mau ambil barang-barang dan anter kami ke Tune Hotel untuk menginap di malam kedua. He’s such a darling.

Esoknya, saya nelpon Pak Azmal lagi, minta dijemput jam setengah dua (kata Pak Azmal, “Setengah dua itu pukul satu setengah ya?” Hihihi), pesawat kami akan take off jam 16.40. Kami mau makan pagi dan jalan-jalan di Bukit Bintang dulu. Dan saya terharu, sekitar setengah jam dari saya menelpon Pak Azmal, beliau nelpon saya lagi, memastikan pukul satu setengah jemput di Tune Hotel dan kemudian menanyakan..

“Sudah makan pagi belum?”
“Sudah, Pak. Ni kami semua sedang makan pagi bersama-sama.”
“Oh, makan pagi di hotel?”
“Enggak Pak, kami ke Bukit Bintang ni. Makan pagi di sini.”
“Oh ya oke.. Saya nak tanya itu saja. Bagus kalau sudah makan pagi.”

Aaaaaaa, perhatian banget!!! Syenang!!

Terserah deh pikiran orang ‘ya itu dia nanya gitu karena mau nawarin kalau belom makan pagi, dia jemput, bayar taksi lagi…’, terseraaaaah. Tapi menurut saya, dia menelpon untuk memastikan kami sudah makan pagi saja, itu sudah pelayanan yang luar biasa.

Pak Azmal datang tepat jam setengah dua, datang dengan dua taksi lagi sesuai pesanan. Semua drivernya orang Indonesia. Saya ga sempat nanya sama teman di taksi lain, bagaimana driver di taksi mereka, tapi semua jujur pakai argo. That would be enough. 🙂 Oh, karena dibagi 3 taksi, Caesar ikut taksi di belakang, jadi di taksinya Pak Azmal cuma saya, Jovita, dan Rudy aja. Pak Azmal perhatian banget pake nanya, “Gondrong (Caesar maksudnya) mana?”. Hahaha. Pas mau berangkat, Pak Azmal memastikan seluruh rombongan (kami bersembilan btw) sudah naik taksi dulu. Beberapa kali saat di jalan, saya lihat Pak Azmal cek ke rear mirror untuk ngecek keberadaan dua taksi di belakangnya. Kami tiba dengan selamat sampai di bandara, dengan kebapakan, Pak Azmal ngasih tau “Masuk sini, lalu nanti ke kiri ya..” as if kami anak-anaknya yang masih kecil dan baru sekali menginjakkan kaki di bandara. Hihihi. Kebapakan banget!!

Senang lah. Sekarang punya supir taksi idaman kalau di KL. Jadi nanti kalau ke KL lagi, tinggal telpon Pak Azmal dan dijemput aja langsung dari bandara. Kemana-mana, sama Pak Azmal aja lah. Hehehe.

Senyum dulu ah.. 🙂

PS: Iya, saya salah, saya lupa banget banget untuk berfoto sama Pak Azmal. 😦 Nanti ya, kalau ke sana lagi, pasti foto bareng. Hehehe.

Advertisements