Seratus Tujuh Puluh Dua…

“Gue tadi nunggu loe pergi, gue ngitung Lan.. Kita tu udah ketemu seratus tujuh puluh dua kali!” kata Winsky semalam. Seratus tujuh puluh dua kali. Itu kalau sempurna tidak ada yang tidak masuk. Kalau tidak ada yang lembur (lirik Anggun), tidak ada yang tidak masuk tanpa alasan jelas (lirik Winsky), dan – kata Winsky – tidak ada yang tidak masuk karena traveling (iya, saya.. :D). Seratus tujuh puluh dua kali pertemuan. Tiga semester. Dan semalam kami sampai di ujung jalan. Ketika kami akhirnya merasakan, what it felt like to have the last day of one phase of your life coming to an end.

“Loe ada yang ga lulus kek Lan satu, jadi kan masih bakal ketemu lagi.”, kata Winsky lagi minggu lalu ketika kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam bertiga, bercerita, tertawa, mengenang masa dulu pertama bertemu. Becandaan yang langsung disambut tawa tulus penuh modus Anggun. Becandaan yang menepuk saya keras ketika saya benar-benar lupa nama sebuah teori yang seharusnya saya jawab untuk pertanyaan kedua saya UAS kemarin. Dan di mata kuliah yang sama, saya tidak ikut kuis pertama sehingga nilai kuis saya yang hanya satu-satunya harus dibagi dua. Ya, mungkin saya akan mengulang mata kuliah ini. Itu berarti tambahan empat belas kali kesempatan lagi bertemu dengan mereka. Your joke may be granted. And I kinda don’t mind. 😀

This is such an emotional rollercoaster for the three of us. Yup.. Three..
Satu kelas.
Satu angkatan.
Tiga orang….saja.

We’ve been thru a lot together. Stress menghadapi setiap tugas. Pusing menghadapi dosen. Kehidupan pribadi. Pemahaman hidup. Kegalauan. Keskipan. Percobaan ini itu. Semua pernah kami jalani bersama. Lucu berpikir bahwa dari kesempatan seratus tujuh puluh dua kali pertemuan, kami belum pernah sama sekali nonton bareng atau pergi bersama. Satu-satunya hal yang pernah kami lakukan bersama di luar kelas hanya………..makan. :))))) Food therapy. Dari makan di resto vegetarian, resto seafood, resto ayam di lantai GF, lantai 3A, skydining, sampai ikutin mau Anggun jalan kaki untuk mengejar abang nasi goreng depan Atma yang akhirnya gagal dan beralih jalan kaki kembali dan makan di bedeng belakang Plaza Semanggi, semua sambil tertawa. Kami merayakan ulangtahun bersama lengkap dengan hadiah dan kue setiap tahunnya. Kami berbicara tentang hidup dan percintaan. Kami berbicara tentang teknologi. Kami berbicara tentang agama. Tentang mantan. Tentang psikologi. Tentang semuanya kecuali tentang perkuliahan. Mau jadi apa kami ini?



I’m glad I met them. I’m glad I have them.
Last night was awesome. Kalau mas-mas dan mbak-mbak d’cost nggak beresin meja dan kursi, mungkin kami masih akan bertahan di sana ngobrolin ini itu hingga malam habis. :))

Anggun is our jolly bebe. Perempuan cantik yang bening, imut, dan selalu kehilangan tiga detik awal dalam hidupnya untuk keep up sama obrolan. Miss Skip. Suka nggak nyambung tapi ketidaknyambungannya yang selalu bikin kami tertawa. Sibuk sama iphonenya terus walaupun dosen sudah melirik tajam ke arahnya. 1.5tahun kuliah bareng dan 1.5tahun juga betah menjomblo dengan kecenderungan berat untuk move on dari yang sebelumnya. Menjawab dengan pasti bahwa 22 dikurang 4 adalah 6. Pakaian seksi dan setting muka dan rambut sensual. Kalau Anggun pakai baju tertutup, sudah bisa dipastikan malamnya akan hujan lebat. Mudah dibohongi dan selalu senyum melongo kalau sadar dia dibohongi. Jadi bintang dalam drama tuduhan perselingkuhan (dan tetap melongo saat tau dia adalah sang tertuduh). She’s our light!

Winsky untuk saya adalah adik kecil yang dewasa. Techno freak. Selalu siap sedia memberikan pendapat saat saya dan Anggun butuh saran dalam membeli gadget. Saran diberikan lengkap dengan spesifikasi masing-masing gadget tersebut. :))) Sempat dicurigai sebagai koko-koko Mangga Dua atau punya toko HP di Cempaka Mas saking fasihnya. Mister Always Late. Sudah telat pun dengan senang hati tetap ke toilet dulu untuk dandan. :)) Selalu gagal dalam men-drive dosen. Yang ada, dia yang dikecutin dosen duluan. :)) A good listener. Selalu kasih senyum penuh arti dalam diam saat dia sedang mendengar kami bercerita. He’s our Charlie. 😀

Terima kasih ya Winsky dan Anggun..
Thank you for being such dear friends.
Thank you for your presence during my hard times.
Thank you for always listening when I need to spill something.
Thank you for not judging me anyhow.
Thank you for telling me when I’m wrong.
Thank you for the time.
Thank you for the laugh.
Thank you.

I know it will not be the end of our story.
I just want to use the moment to say thank you.
Terima kasih..

Love you both…. Cup cup muaw muaw.. Uwuwuwuwu.. *mau muntah ga?*

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements