Masa lalu manis di Cikini..

Jakarta punya kota tua, tapi mau merasakan nikmatnya kota tua tanpa harus ke kota tua? *nah bingung kan?!* Ya pokoknya, ke Cikini aja! -____-“

Di Cikini memang tidak banyak bangunan peninggalan jaman purbakala kolonial yang bagus jadi latar foto, tapi kalau kalian jalan-jalan di Cikini, rasakan auranya, aura jadulnya tuh dapet lho! Kalian pakai aja dress ala noni-noni Belanda, topi lebar, dan sarung tangan brokat. Niscaya. Niscaya dikatain titisan atau orang gila. Hahaha. PLAK!

Beberapa kali, Cikini masuk jadi obrolan di grup Nescafe Journey, obrolannya tentang sejarah Jakarta? Oh ya engga lah, anak NesJour mah mana ada yang suka ngomongin sejarah (well, kecuali Rey yang kemudian pasti dicuekin juga sama yang lain..*peace*), kami ngomongin Cikini tentu saja dilihat dari……..kulinernya! Hahahaha. *gojeng2perut* Memang ada beberapa makanan enak di Cikini, tapi biar lebih elaborate (oh I love that word!!) isi post saya kali ini, jadi mari dibahas beberapa tempat (termasuk tempat makan) di Cikini yang jelangjrett kucru kucru.. 🙂

1. PLANETARIUM
     Huruf kapital semua tuh, ga santai saya! Hahaha. Beberapa yang kenal saya luar dalam depan belakang mungkin sudah tahu kalau saya terkhilakhila sama tempat ini. The most romantic place in Jakarta where we can see stars and constellations shining brightly on pitch dark sky! Yeah, walaupun palsu, tapi saya sih beli-beli aja. :)))

2. Metropole XXI
     Dulunya namanya Megaria. Ini adalah gedung tua yang kemudian direstorasi jadi bioskop. Ga tanggung-tanggung, ada enam teater di Metropole ini. Empat di gedung utama dan dua di paviliunnya. Suka banget nonton di sini. Kualitasnya pertunjukkannya bagus (suara dari teater sebelah ga masuk gitu ya ga kayak Blitz Megaplex CP – HIH!), parkirnya luas (makin luas karena sekarang ada parkir tambahan di samping gedung sebelah), harganya masuk akal banget (Senin-Kamis 30rb, Jumat 35rb, Sabtu-Minggu/Libur 40rb), dan baik bapak satpam, bapak parkir, dan penjual-penjual di sini semuanya ramah. 🙂

Di Metropole ini juga ada resto yang jual beberapa makanan terkenal antara lain Pempek Megaria dan Ayam Bakar Megaria. Pempeknya lembut dan empuk-empuk yuppie. Harganya juga asoy murahnya. Pempek kecil tiga ribuan lah. 🙂

Ayam bakarnya, waktu saya masih SMA itu rasanya enyak banget. Nah beberapa bulan lalu saya coba makan lagi di sini tapi kok….rasanya beda. Ndak seenak dulu. Huhuhu. Kembalikan ayam bakar Megariaku!! Kembalikan!!

3. Menteng Huis
     Ini agak ngemol dikit sih, tapi dikit doank. Menteng Huis adalah mall kecil di pojokan jalan. Entah kok namanya Menteng ya bukan Cikini. Apakah karena bangunan ini masuk daerah Menteng dan bukan Cikini? Ketik 1 jika YA, ketika 2 jika TIDAK. Di dalam Menteng Huis ini ada beberapa cafe dan resto (ada Hema aja donk) dan kalau ke sini, tidak lain tidak bukan, saya langsung menuju lantai atas – D’Cost! Buahahaha. Tetep balikbaliknya ke D’Cost. :)))

4. Vietopia dan blablabla
     Kenapa saya bilang blablabla, karena di deretan Vietopia ini ada resto lainnya tapi saya nggak hapal apa saja. Yang sering saya sambangi hanya Vietopia ini. Hehehe. Adanya di seberang kanan Menteng Huis, ngesot juga nyampe. Ini bangunannya tua, lantai bawah dijadikan restoran (dan blablabla) dan lantai atas entah untuk apa (GLEK!). Di deretan Vietopia ini juga ada studio tatonya Durga. Hehehe. Hai Durgaaaa.. 😀

5. Ampera
     Adanya di pojokan. Hmmm, gimana menjelaskannya ya. Tepatnya di seberang sekolah Percik (Perguruan Cikini). Kalau kalian lihat ada banyak mobil parkir, nah itu lah dia Ampera ini. Hehehe. Tanya aja sama orang di sekitar situ, pasti pada tahu, kalau nggak tahu, gampar-gamparin aja! Ada di Cikini kok ga tau Ampera, HIH!! Ini adalah Ampera versi wartegan, bukan kayak Ampera resto. Lebih kayak tempat makan masakan Padang gitu sih. Tapi makanannya enak-enak dan harganya juga ga bikin kantong kaget. Cuss lah.

6. Stasiun Cikini
     Bukan bukan, fokus bukan di keretanya tapi apa yang ada di bawah Statsiun Cikini ini. Ada banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang rotan dan boks-boks untuk bawaan mahar. Jadi yang mau nikah (atau yang mau nikahin saya…uhuk!) cuss atuh cari boks bawaan mahar ke sini. Saya maunya boks yang reusable ya. Jadi jangan beliin yang lucu tapi ga bisa dipakai lagi. Oh, saya suka yang bahannya kulit atau malah sekalian yang pakai kertas kado warna warni gitu. Pesan aja, bisa custom kok. *hloh ini apa sih?!*

Di stasiun Cikini juga jangan lupa makan Siomay Cikini. Ada di dekat tangga tengah. Tempatnya di pojokan. Seporsi tujuh ribu saja. Siomaynya empuk nan kece, nambah bumbu gratis (hlah). Ahihihi.

7. Pasar Cikini
     Ini tempat untuk yang mau cari emas. Banyak sekali toko emas di sini. Dari emas perhiasan sampai emas batangan, ada di sini. Tempatnya tepat di seberang Statsiun Cikini. Koprol lima kali nyampe! Kalau males koprol, boleh minta gendong sama mamang parkir. Eh, saya baru sadar, pas banget ya, abis beli boks mahar di Stasiun Cikini, langsung beli mahar sekalian di Pasar Cikini seberangnya! Ih pas banget! Dipermudah sekali kan sama Cikini kalau mau nikah tuh! Ihihiw. :p

Nah, kayaknya segitu dulu cerita saya tentang Cikini. Ntar kalau ada yang saya ingat lagi, saya tambahin di sini ya. Garisbawahi, bold, italic ‘kalau ingat’. Ahihihi. Yang mau nikahin saya, tunggu apa lagi?? Apa lagi?? *tarik kerah Mas Ryan Gosling* (eh, bayangin ga kalau Ryan Gosling ke Cikini? Kiyut ya.. Hihihi)

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements