Partisi Gengsi..

Sepuluh bulan lalu saya lihat kamu. Berkenalan. Lalu diam.

Lalu pertanyaan singkat, ‘Sedang apa?’ mulai mewarnai malam saya ketika kamu mengambil langkah pertama untuk bertanya, empat atau lima bulan kemudian. Menginisiasi awal malam-malam yang panjang ketika kita berbagi cerita, tawa, pandangan, dan serangan canda. Kupu-kupu terbang pelan dengan anggun di dalam perut saya. Pelan. Dan terus pelan. Seakan tidak ingin kehilangan satu menit pun kerlingan mata dalam binar cahaya romansa. Mungkin kita menuju ke suatu tempat. Rasanya kabur. Tetapi juga nyata. 
Saya berpikir keras dan menebak. Rasa ini apa?
Ketika kita akhirnya menjadi pasangan, tanpa kata, saya masih bertanya kapan ini semua dimulai? Semua berjalan dengan sangat cepat. Mengenalmu seperti sudah bertahun-tahun lamanya. Kata orang, rasa mengenal sudah lama itu baik untuk sebuah hubungan. Entah. Saya hanya ingin menikmati setiap menit, setiap detik kamu ada dalam lingkup cinta saya, dalam jangkauan rengkuh tangan saya. Kamu sosok yang bisa menenangkan saya hanya dengan sebuah pelukan hangat dalam diam. Nyaman dan aman. Pelukan itu kah awal ini semua? 
Kupu-kupu mengepakkan sayapnya sedikit lebih cepat. Tetap berputar memenuhi udara di dalam perut saya. Sedikit tabir kamu mulai terkuak. Mengagetkan, tidak sesuai harapan, tetapi saya bertahan. Mungkin benar, ini cinta. Kamu tidak seperti yang sebelumnya. Atau yang sebelumnya sebelumnya. Ada sesuatu di dirimu yang membuat saya menghela napas panjang kesabaran dan berucap, “I rest my case..” dan menerimamu kembali, penuh sukacita.
Peluk nyaman yang dulu sering kita lakukan kini berharga sangat mahal. Sulit didapatkan. Untuk beberapa kali saya harus memohon untuknya. Sebuah rasa nyaman dan aman itu. Kenapa terasa benar namun juga salah? Kamu, yang selalu membayangi setiap langkah saya, membuat saya ingin mengetahui apapun yang berada di belakang saya, tetapi kemudian sakit saat menerima kosongnya. Kamu tak terjamah. Jika kamu berkata saya membangun dinding besar yang membatasi, maka pantulannya ada di dirimu. Dinding besar itu tak juga runtuh, tak juga sedikit memendek, tak juga sedikit merapuh. Tetap kokoh menghadang ketika saya menaikkan tangan, meraih udara. Hampa saja. 
Saya kemudian lebih sering diam. Berusaha keras menutup luka yang terus menerus terbuka. Menyembunyikannya dari pandangan mata setiap orang. Menggantinya dengan senyum tawa. Dan kebencian pada diri saya sendiri. Bahwa ternyata, rasa yang saya katakan ‘mungkin cinta’ ini telah menggerus keyakinan bahwa saya mungkin cukup baik untuk seseorang di luar sana. Tidak. Ternyata tidak. Saya tidak cukup baik. Setidaknya untuk kamu. Yang saya mau.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah rasa menyerah dari pasangan. Kenapa tidak berjuang bersama? Kenapa semudah itu melambaikan tangan dengan sebentuk bendera putih di genggaman? Apa saya tidak seberharga itu, tidak hanya untuk diperjuangkan, tapi juga untuk dipertahankan? Tembok itu semakin tinggi membatasi kita. Ketika kamu ingin melakukan apapun yang ingin kamu lakukan tanpa batasan apa-apa, dan saya tidak dapat melakukan apa yang ingin saya lakukan karena kamu meminta saya memikirkan kamu di samping saya. Tidak adil. Tapi begitu adanya. Ketika saya menahan laju kereta yang akan membawa saya, hanya untuk lebih lama berada di peron bersamamu; dan alih-alih memegang tangan saya untuk bersama menunggu kereta selanjutnya, kamu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dengan sepeda. Tidak adil. Tapi begitu adanya. Ketika saya mendorong ayunan yang kamu naiki agar berayun lebih tinggi dan cepat, dan kamu mengeluh lelah ketika saya duduk manis dengan senyum ceria menunggu kamu mengayunkan saya tinggi. Tidak adil. Tapi begitu adanya. 
Saya kehilangan setiap momen dan memori manis kita. Kamu tidak lagi sosok hangat, kamu momok yang diam-diam memegang tali kendali dan saya adalah balon merah yang berada di ujung tali itu. Kamu bisa tarik tali yang kamu pegang kapan saja dan saya berayun kembali. Kamu bisa menyibak tali, dan menjauhkan saya, lalu menariknya kembali, hanya untuk melihat bias merah dari saya, memegang saya pelan, dan kemudian menerbangkan saya kembali sampai batas tali menegang. Dan saya diam. Dan saya berpasrah. Dan saya tidak meronta atau meledakkan diri. Mungkin harus begini. Mungkin ini cinta. Atau mungkin saya bodoh. Saya tidak tahu juga. Jika ada yang berkata, batas cinta dan benci adalah tipis, mungkin perlu ditambahkan bahwa batas cinta dan bodoh adalah tak kasat mata.
Kita berada dalam pusaran tak berujung. Kamu sang pemegang tali kendali dan saya, balon merah yang terus mengambang diam. Kupu-kupu yang terbang di dalam perut saya semakin gencar mengepakkan sayapnya. Berkeliling tak tentu arah dan menabrak seluruh lapisan dalam magma. Lapisan itu rusak sedikit demi sedikit, tercabik sapu kepak sayap. Menghasilkan lubang besar kumuh yang entah bagaimana bisa kembali menutup. Di suatu saat, saya, balon merah yang terus diam mengambang, ingin berkata ‘Cukup!’ dan melepaskan diri. Terbang bebas meninggalkan tali yang kamu pegang terkulai lemah tanpa kendali apa-apa. Bahkan jika harus pecah terkena sengat matahari yang menusuk. Akan. Mungkin belum sekarang.
Jarak tak terelakkan, dalam gemuruh pertanyaan apa kenapa dan bagaimana yang sibuk berebut tempat dalam otak, saya kembali diam. Mengajukan pertanyaan mendasar ‘Apa saya bahagia?’ dan sepertinya buntu. Jawabnya belum ada.
Dalam deretan kayu-kayu memanjang tersusun rapi menjorok ke lautan yang luas, saya ingin bersandar. Dalam diam.
Dalam peluk hangat.
Dalam gerak napas yang teratur.
Kita berbatas. Balon ini terlalu kesat dan akan menjadi renta karena hentak tarik yang kamu lakukan. Dan mungkin kamu akan lelah terus memegang tali kendalinya. Entah kapan.
Kita berbatas. 
Tiga mili. 
Partisi gengsi.
🙂
Senyum dulu ah.. 🙂 
Advertisements