Kemping [Beneran] di Pulau Perak..

Post ini ditujukan untuk kalian yang menuduh saya hanya bisa Kemping Manja saja. Padahal kan….yaaa kalau bisa Kemping Manja kenapa harus Kemping Beneran? Hahaha. *plak*

Kali ini, saya dan teman-teman Kemping Cukstaw niat sekali mencoba kemping beneran di Pulau Perak. Kami benar-benar membawa tenda dari Jakarta, membangun tenda sendiri, masak makanan sendiri, mandi nimba air sendiri dari sumur, ganti baju sendiri, dan tidur pun sendiri. Kasian emang, jomblo ngenes kalau kata Mbak Astrid. Hihihi.

Ini perjalanan metal banget kayaknya untuk saya karena saya melupakan dua hal yang amat sangat penting! Sleeping bag dan ….. kamera! Huhuhuhu. Entahlah kok saya bisa lupa gitu. Mungkin banyak pikiran. Sebagai artis ibukota dan penyanyi dangdut Pantura, saya ni memang sibuk sekali orangnya.

Pulau Perak adalah satu dari tiga ratusan pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Untuk mencapai Pulau Perak, harus naik kapal dari Muara Angke ke Pulau Harapan dulu. Dari situ lanjut naik kapal lagi ke Pulau Peraknya. Tapi kemarin kami salah naik kapal (hahahaha); kualat kayaknya sama Kak Umar yang hampir kami tinggal, tahu-tahu kapal yang kami naiki (dan sudah berjalan) adalah kapal menuju Pulau Kelapa. Hyeuk! :))))) Pulau Kelapa sih satu pulau sama Pulau Harapan (beda ujung saja), jadi kami hanya harus jalan kaki melintasi Pulau Kelapa untuk ke dermaga Pulau Harapan, tapi lumayan juga itu jalannya. Lebih lumayan lagi karena banyak dari kami yang ingin peepee sedangkan di Pulau Kelapa itu SAMA SEKALI nggak tersedia air di tiap toilet umumnya. :((

Perjalanan dari Pulau Harapan ke Pulau Perak memakan waktu 45menit – 1jam dengan melewati beberapa pulau lainnya. Sampai di Pulau Perak, hamparan pasir putih yang halus menyambut. Ingin langsung guling-gulingan tapi nggak bisa karena apa? Karena ini Kemping Beneran! Bangun tenda dulu! *ihiks..gegoleran di pasir* Oya, Pulau Perak ini termasuk pulau tak berpenghuni. Penghuninya hanya ada sekitar satu sampai tiga keluarga yang menjaga keseluruhan 3hektar pulau tersebut. Keluarga-keluarga ini juga buka warung kecil yang jual mi instan, pisang goreng, teh, dan kopi di dekat dermaga pulau.

Dengan arahan dari anak pecinta alam beneran yaitu Mas Rio, kami membentuk tiga grup secara spontan. Selama kami membangun tenda, dua krucil Isya dan Kekek main pasir di pinggir pantai. Dunia memang tidak adil!

Tenda selesai dibangun, hidung sudah selesai kembang kempis bangga, kami langsung ganti baju renang untuk melaut. Ganti baju di tenda sungguh bukan pilihan karena panas sekali di dalam. Tenda kami nggak berAC *yakaleee*, jadi kami ganti baju di tengah hutan dengan suara auman singa terdengar jelas dan banyak monyet kecil berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya. TET!! Tapi boong! Hihihi. Ganti bajunya beneran di tengah hutan. Ada bilik kecil seadanya untuk tempat ganti baju dan di luar bilik itu ada sumur. Sayangnya, keadaannya jorok banget di situ jadi seperti peribahasa: peepee segan, mandi pun tak mau. Hiks.

Melautnya gimana? Okelah itu, walaupun nggak se-oke waktu kami ke Pulau Panggang tapi airnya sama sih. Sama-sama asin. Hihihi. Kami melaut sampai petang. Balik-balik ganti baju saja, nggak mandi, karena sungguh tak sanggup saya mandi di bilik derita tengah hutan itu. 😦 Lalu ikan pun dibakar oleh bapak penjaga pulau. Mbak Astrid, Kak Umar, Ciciw, dan KKTT menyiapkan sambal dabu-dabu. Saya, Uni Deedee, Mbak Nyanyu menyiapkan tangan untuk ngudek-ngudek itu dabu-dabu dengan ikan dan cumi-cumi. Yang lainnya ngapain? Mereka diam menunggu angsuran makanan yang sudah siap diLHEP. Hahaha.

Abis makan, kami gelar sleeping bag di dermaga. Dan karena saya dengan pintarnya lupa bawa sleeping bag, maka saya gelarin sleeping bagnya Kareza. Biar bisa numpang! Hihihi. Ngobrol ngalor ngidul semalaman sampe mabok dan semua tiba-tiba diam. Malam sudah larut sekali, Mbak Nyanyu nanya sekarang jam berapa? Saya lihat jam tangan saya dan terperangah; baru jam 8 malam aja dooooong!! Yatalam.. Waktu berjalan lambat ya. Hahahaha.

Malam itu purnama dan baru kali itu saya merasakan terangnya cahaya bulan saat purnama. Kalau di Jakarta, purnama nggak gitu ngaruh karena cahaya bulan kalah sama cahaya lampu. Tapi saat di Pulau Perak, jam12malam, bulan purnama, semua terang seperti baru jam 5sore! Amazed banget! Puji Tuhan. :’)

Esoknya, beberapa dari kami keliling pulau, beberapa lainnya main di pinggir pantai sambil ngobrol saja. Jam10an kami kembali ke Jakarta. Tidur nyenyak di Jakarta, tahu-tahu sudah sampai Tomang saja. Hahaha.

Akhir pekan yang keceeee.. Kulit makin item tapi hati makin cerah!!
Siapa bilang saya nggak bisa kemping beneran ha?? Siapa bilang?? Maju sini yang berani bilang!!
Hihihi..

Senyum dulu ah.. 🙂

PS 1: Saya lupa cerita satu hal yang sangat huwaw juga dari kemping (beneran) kali ini. Waktu kami hampir mencapai Pulau Perak dari Pulau Harapan, kami dapat teman yang mengintili: beberapa ekor lumba-lumba berlumpatan di samping kapal lalu melewati bawah kapal kami dan melompat lagi di sisi satunya. Kami yang masih terpana nggak ada yang mengeluarkan kamera untuk membidik gitu. Semuanya melongo. Hahaha. << Cerita ini dipersembahkan oleh Mbak Dini yang protes saya nggak nyeritain tentang lumba-lumba.

PS 2: Pagi di hari kami mau pulang, hujan turun. Beberapa dari kami langsung melipir ke tenda, beberapa lainnya nari-nari nggak pakai baju di pinggir pantai. Saya nyungsrep di satu tenda sama Kak Lejid dan mengingat hari itu adalah hari Minggu, maka kami mengisi waktu selama di tenda dengan melakukan hal-hal baik yaitu ……. nyanyi lagu gereja!! Hahahahaha. Saat hujan mereda, kami buka pintu tenda sedikit dan mengajak teman-teman lain untuk masuk dan mengagungkan nama Tuhan. Dari ajakan kami yang penuh semangat itu, tidak satu pun anak Kemping Cukstaw mau masuk. -______-/maafkan mereka ya Tuhan/ << Cerita ini dipersembahkan oleh Kak Lejid yang mengingatkan kalau saya lupa cerita tentang pembukaan kebaktian kami.. :')

Advertisements