Kereta Ekonomi Indonesia..

Sebut saya kampring, norak, kampungan, kamseupay atau cantik sekalian; tapi memang perjalanan kemarin adalah kali pertama saya menjadi penumpang kereta ekonomi. ๐Ÿ˜€

Kali ini saya jalan-jalan naik kereta ekonomi menuju Purwokerto. Kereta ekonomi sekarang sudah berAC. Seingat saya, pernah dikasihtahu Angguni tentang beda antara kereta eksekutif, bisnis, dan ekonomi itu ada di tempat duduknya, tapi saya lupa persisnya bagaimana. Hihihi. Anyhoo, kemarin Jakarta-Purwokerto naik kereta ekonomi AC seharga 40ribu ini. Kesannya: ayastagamakjaaaan. Hihihihi. *gajelas*

Karena kereta ekonomi, saya naik dari Stasiun Senen. Kesan pertama masuk gerbongnya, mmmm, sempit ya lorongnya. Ada kali saya ngucap “Permisi, permisi, maaf maaf..” sambil naikkin ransel berkali-kali. Dan engga, itu bukan ransel saya yang kegedean, emang lorongnya yang sempit. ๐Ÿ˜€ Tapi menyenangkannya, semua orang permisif sekali. Nggak ada yang marah atau ngedumel gitu. Semuanya minggir sedikit dan kalau tetap kena ransel saya, saya minta maaf, mereka senyum-senyum aja. Senang lah.

Lalu kami sampailah di kursi yang kami pesan. Kak Umar lagi mengangkat barang-barangnya untuk dimasukkan ke rak atas, Kak Bany lagi lihat ke atas juga karena bingung mau menaruh ranselnya di mana secara udah penuh gitu. Saya? Saya udah naruh ransel di kursi dan bingung mau kemana lagi karena penuh sangat tu tempat. Ya bayangin aja, ga ada saya, Kak Umar, dan Kabany aja tu lorong udah sempit, eh sekarang kami bertigaan berdiri dengan tampang bingung, apa nggak makin sempit tu? *apa hubungannya variabel ‘tampang bingung’ di kalimat atas?

Akhirnya ransel saya dan Kabany didorong-dorong dengan paksa masuk ke bawah kursi karena rak atas sudah penuh. Masukkin tu ransel pun perlu perjuangan karena tiga lalaki yang sedianya duduk di depan kami harus berdiri dulu demi tu ransel bisa masuk. Kenapa begitu?? Karena ternyata tidak hanya lorongnya yang sempit melainkan jarak antara kursi juga sempit. Hihihi. Berbeda dengan kursi di kereta eksekutif yang sendiri-sendiri dan menghadap satu arah yang sama, kursi kereta ekonomi ini tiga kursi jadi satu (eh yang di selasar sebelah sih dua kursi jadi satu) dan berhadap-hadapan. Maka beginilah posisi di dalamnya. *abaikan muka keringetan saya*

Setelah ransel selesai dimasukkan dan saya lupa seluruh cemilan untuk perjalanan ada di dalam ransel belum dikeluarkan, duduklah kami dengan manis. Posisinya, saya dekat jendela (demi kemaslahatan pose galau), Kabany di tengah, dan Kak Umar di pinggir dekat lorong. Baru duduk sebentar, saya taro bantal dan …. tidur. Hihihi.

Bangun-bangun karena kepanasan dan sejak itu nggak bisa tidur lagi. Panas sangat di dalam itu. ACnya nggak begitu dingin walaupun derajatnya sudah 16 (ACnya AC split dong..) dan seluruh jendelanya ditutup rapat jadi ya maksimal. Maksimal pengapnya. :)) Saya berkali-kali harus melempar rambut saya ke kanan dan ke kiri demi tetap keliatan hits dan nggak lepek keringetan. Hihihi. Untungnya yang di depan kami pun anak-anak muda juga (eh, juga?? Loe masih muda gitu Lan??)ย yang akhirnya jadi kenalan dan ngelucu bersama. Jadi karena sibuk ketawa-ketawa jadi nggak terasa panasnya. Tapi boong! Hihihi. Akhirnya saya sama Mbak Nyanyu jalan ke apa itu yang sambungan antara gerbong gitu, lalu berdiri aja kayak orang bener di situ. Di situ nggak panas? Ya panas juga sih. Saya juga nggak tahu kenapa saya sama Mbak Nyanyu pakai lama di situ. Hihihi.

Karena kursi yang berhadapan itu, untuk saya yang kakinya pendek saja agak kurang nyaman karena lutut saya sampai menyentuh lutut mas-mas depan. Padahal kami bukan muhrim. Bagaimana ini, bagaimana? Saya berdosa. ๐Ÿ˜ฅ Dan sandaran punggungnya itu beneran tegak lurus 90derajat!! Nggak bisa dinaikturunin. Jadi tahan-tahanin deh tu berapa jam dengan punggung tegak lurus gitu. Capek nggak? Jujur, capeeek. Hihihi. Saya sama Kabany langsung niat, kalau ada jalan-jalan yang naik kereta ekonomi lagi, maka kami masing-masing akan beli tiga kursi untuk sendiri. Jadi bisa selonjoran. Hahaha.

Kalau penumpang yang depan kalian sering jalan-jalan atau ke luar untuk merokok, nah itu adalah waktu yang tepat deh. Waktu yang tepat untuk dapat keistimewaan seperti di bawah ini:

Saat pulang, kami ย naik kereta ekonomi juga tapi malam hari. Nah ternyata kalau malam, ACnya lumayan dingin. Sampai kaki saya kedinginan. Tapi kalau malam juga, banyak yang tidur di lorong jadi jalan-jalan agak susah. Plus, kalau naik kereta malam, ga bisa liat apa-apa di luar jendela. Karena apa? Karena gelap. :p

Selain jarak antar kursi berhadapan yang sempit dan sandaran punggung yang terlalu tegak, menurut saya sebenarnya masih bearable kok naik kereta ekonomi dan beli satu kursi ini. Apalagi kalau untuk jarak di bawah 5jam. Tapi kalau di atas 5jam, saya konsisten: mari beli tiga kursi saja. Hihihi.

Senyum dulu ah.. ๐Ÿ™‚

Advertisements