Kabut tebal di Gunung Prau..

Disclaimer: Karena banyak yang mengeluh nama Kareza diulang berkali-kali di post ini (mungkin mereka lelah) jadi saya edit ya, nama Kareza saya ganti jadi Ujang ya. Sip!

Perjalanan ini sudah direncanakan jauh bulan. Membuat saya kembang kempis tak sabar untuk mencapai tanggal 2 November, tanggal keberangkatan. Destinasi utama kami: Gunung Prau! Dari 1 November, perut saya mulas tanda stress. Rasanya sama ketika dulu mau nanjak Gunung Gede. Mulas karena stress takut nggak kuat mendaki. Nggak kuat tapi geregetan pengen coba dan ikut. :))) Begitulah. Gunung memang selalu membuat saya ketar ketir gewegetan. *kemudian nyanyi* Geregetaaan jadinya geregetaaan.. Apa yang harus kulakukaaaan.. ~ *pake bedak Maybelline*

Mencapai Gunung Prau di dataran tinggi Dieng harus melewati beberapa kota. Dari Jakarta, kami menuju ke Purwokerto dulu dengan kereta. Lalu dilanjut dengan naik mobil ke Dieng. Nah dari Dieng mendakilah ke Gunung Prau ituΒ melewati tanjakan, sekolahan, dan kuburan. Eh yang saya strip di sebelah itu memang benar kami melewati itu semua, cuma saya nggak mau nakut-nakutin kalian aja sih makanya saya strip.

Gunung Prau berdiri tegak 2565 meter di atas permukaan laut. Mendakinya, seyogyanya hanya butuh waktu 3jam. Tapi seperti biasa, saya hipster, jadi saya menghabiskan 4jam mendakinya *antara hipster sama keberatan bokong emang beda tipis sih Lan* dan menyeret Ujang dan Mbak Astrid bersama saya di grup paling belakang. Hihihi. Ada dua jalur yang bisa dipakai sebagai awal mendaki; jalur Dieng dan jalur Darawati. Jalur Dieng lebih landai dan jalur Darawati lebih ekstrem.

Kami mulai mendaki di malam hari, jam setengah8 berangkat. Perjalanan awal melewati kebun kentang warga dengan wangi semerbak pupuk kandang. Sudah pernah cium aroma pupuk kandang? Wanginya kayak campuran mpup kuda dan aroma terasi dari dapur! Yummy!! Suka!!

Setelah melewati sawah lalu lanjut dengan hutan dengan banyak bunga aster di sekelilingnya. Sayang saat itu sudah gelap sekali jadi nggak bisa menikmati bunga aster yang mekar menyeruak. Di sisi lain, mendaki malam juga enak karena nggak panas dan kalau menengadah bakalan terpukau maksimal! Langit penuh taburan bintang dan beberapa kali saya lihat bintang jatuh! Melesat cepat dengan binar cahaya yang membuat saya menganga. GILA!! Baru kali ini ada tempat romantis menggantikan Planetarium Jakarta. :’) *cemen abis gitu bandingannya* Katanya, kalau lihat bintang jatuh, make a wish and it shall be granted. Faktanya adalah, saat lihat bintang jatuh, saya nggak kepikir mau make wish apa-apa saking terpananya! Hahaha. Akhirnya cuma bisa minta perjalanan dilancarkan aja sampai kembali. And yes, it was granted. πŸ™‚

Ada empat titik tanjakan pas mendaki Prau ini. Selebihnya, jalanan terhitung landai. Di tanjakan satu, saya masih kece. Tanjakan kedua, kadang-kadang mulai pegangan sama Ujang. Tanjakan ketiga, napas udah tersengal. Tanjakan keempat, secara harafiah Ujang harus menarik saya karena saya udah memble. Hahaha. Dan tanjakan keempat itu kampret sangat memang karena tanah licin habis hujan, posisinya miring banget, dan jalurnya super sempit, pinggirnya jurang. HOKESIP! Mas-mas sweeper berkali-kali bilang “Fokus tengah ya. Fokus tengah. Jangan lihat kiri kanan. Fokus tengah.”. Tapi setelah melewati tanjakan keempat itu rasanya yolo-yolo banget! Kayak habis melahirkan gitu! Ya walaupun saya belum pernah melahirkan sih. -_____-

Kalau pas nggak kuat jalan gini saya selalu ingat kata-kata Thariq deh. Thariq, teman saya yang kemarin habis ikut maraton 42km (GILAK!) itu pernah bilang, “Saat fisik udah nggak kuat (lari), yang main tu pikiran aja, Bul. Pikiran harus sampe harus sampe, gitu. Karena kalau ngandalin fisik beneran nggak bisa deh.” Uwayoooo.. Harus sampe harus sampe!! *sugesti diri*

Suhu saat saya sampai di atas sekitar 5-6derajat dan kabut tebal sekali. Selesai makan malam dengan ayam bakar uenak, ngobrol-ngobrol sebentar lalu gelar sleeping bag dan tidur. πŸ˜€

Jam setengah5, ada yang ramai teriak di luar tenda ‘Sunrise sunrise!! Sunrise sunrise!!”, siap-siap lah tu saya untuk ke luar. Nggak sabar merasakan hangatnya sinar matahari. :p Di Jakarta malas banget kena sinar matahari, di gunung cari-cari sinar matahari. Hihihi. People are funny. Or it was just me? :p

Saya bangunin Ujang dan dia nyiapin tripod dan lensa-lensa kameranya sementara saya pakai sepatu. Kemudian pas kami sama-sama nyibak pintu tenda, kami liat-liatan dan ketawa ngakak!! Hahahaha. Ya gimana nggak ngakak kalau di luar tampilannya begini:

MANA MATAHARINYA??? MANA SUNRISENYA??? MANAAA???
Huahahahahaha.

Kabut tebal menggantung penuh, memotong jarak pandang. Matahari tidak sedikit pun nampak. Saya cekikikan sama Ujang lalu memutuskan masuk tenda lagi karena dingin. Ujang tetap keukeuh nyoba motret di luar. Beberapa saat kemudian terdengar suara ‘Yeaaaaah!!!’ tanda kabut bertolak menjauh. Harapan melihat matahari terbit pun muncul lagi. Tapi nggak berapa lama terdengar lagi teriakan ‘Yaaaaahh…’ tanda kabut datang lagi. Huahaha. Labil abis! :))

Saya bertahan di dalam tenda, selimutan sleeping bag, sampai kemudian dipanggil ke luar. Ke luarnya juga cuma di depan tenda, panas-panasin mantau dan bikin minum anget. Hihihi.

Sampai kami pulang, kabut masih menggantung. Pas turun, aster-aster yang mekar terlihat jelas. Cantik sekali. Penuh menghampar. Bikin pengen luncat!

Turun gunung biasanya hanya butuh waktu 2jam. Saya? Oh well, ya saya hanya ingin keseimbangan hidup aja jadi saya 4jam juga turunnya. Hihihi. Grup turun belakangan berisi saya, Uni Deedee, Mbak Astrid, Ujang dan beberapa mas pemandu. Jalan santai 4jam udah plus pindah jalur turun lewat Darawati. Itu handy talky (eh apa telepon satelit ya?) sampai bunyi berkali-kali menanyakan kami di mana karena kok belum sampai-sampai. Hihihi. Sepertiga jalan turun, air minum habis donk. Nggak ada sungai atau aliran air apapun yang bisa kami minum airnya walaupun saya mendengar jelas suara air terjun. Jadi kami makan cemilan yang masih ada di ransel saya dan di tengah jalan nemu buah-buahan kecil nan lucu. Hihihi. Makan deh.

Turun lewat Darawati memang lebih cepat tapi juga lebih ekstrem. Kalau turunan, turunannya tajam sekali. Kalau tanjakan (cuma sedikit sih), tanjakannya juga lumayan ekstrem. Mbak Astrid sampai ngesot donk saking capek naik turunnya itu jalan. Hihihi. Tapi turun lewat jalur ini ada wownya. Pemandangannya itu wow bingit!! Walaupun beberapa kali tertutup kabut tapi tetap wow!

Sampai di bawah sudah jam makan siang dan kami tetap harus mendaki. Mendaki tangga dari lantai 1 ke lantai 2 karena makannya di lantai 2. Hihihi. Istirahat sebentar trus balik ke penginapan deh.

Saya berhasil lagi oh may Gawt!! Berhasil mendaki dan turun dengan selamat!! Alhamdulillah. :’)

Pas turun itu saya baru sadar sesuatu. Mendaki gunung itu lucu ya. Pas naik, saya nggak menikmati banget deh. Adanya capek dan capek aja tapi terus mendorong diri sendiri untuk bisa nyampe ke puncak. Pas turun ngomong sendiri capek capek dan ga mau naik gunung lagi. Tapi pas sampe bawah, baru beberapa menit udah mikir mau naik gunung lagi. Huahahaha.

Jadi apakah akan ada cerita naik gunung lagi? Oh yasuda pastiii. Hihihi. Udah beli sepatu trekkingnya pun. Wikikik. Eh btw, sepatu trekking saya baru pakai sekali (ke Prau ini) kayaknya mau saya jual karena sebenarnya kegedean. Ini size 39, saya biasanya size 37/38 dan pas banget ada mas-mas yang mendapatkan sepatu sesuai size saya. Ihiy. Hihihi. Kalau ada yang mau beli ini, kasitauin ya. πŸ˜€

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements