Pola Pikir Miskin – Kaya

Pas ikut cruise kemarin, di hari terakhir, ada perkumpulan orang Indonesia gitu. Selesai dari pertemuan, pas jalan balik, saya dan mama ngobrol sama sorang lalaki. Wajahnya somehow familiar untuk saya. 
“Mas dari mana?”
“Depok. Mbak?”
“Jakarta. Wah, Depok! (saya pikir, mungkin ini sebab wajahnya familiar..duileee, kayak semua orang Depok loe kenal Lan) Jangan-jangan kerja di UI nih!”
“Dulu! Sekarang sih enggak..” (senyum-senyum minta dikepoin)
“Lho, kenapa?” (dan saya kepancing kepo)
“Yah!! Duitnya dikit!!”
*saya ketawa ajah*
Beberapa jam kemudian, mama tiba-tiba komen soal si mas-mas ini. Telat banget ya. Hihihi. Mungkin mama mikirin dulu apa yang mas ini bilang. Kata mama, mama kasian sama orang itu. Hidupnya diisi dengan pola pikir materialistis.
Iya ya..
Saya jadi ingat..

Beberapa bulan lalu, saya baca buku karangan Ahmad Gozali; kalau nggak salah judulnya ‘Habiskan Saja Uangmu!’. Judulnya provokatif banget! Siapa yang nggak mau ngabisin uangnya coba? Coba!! Jawab coba!! Jawab!! *gebrakmeja*

Isi buku itu sebenarnya sederhana, tapi ada satu poin bagus yang bisa saya ambil tentang Pola Pikir Miskin dan Kaya. Dan karena saya anaknya baik hati banget, jadi saya bagi di sini ya..
“Mana cukup uang segitu.”
“Gaji gue cuma 8juta, bayar kos bayar gas bayar listrik bayar PAM, ke salon, belanja, abis!”
“Ditawarin kerja di perusahaan A, tapi masih pikir-pikir, gajinya cuma 4juta!”
“Kalau gue lembur, bisa dapat 4.5juta. Kalau engga, ya gaji pokok cuma 2.5juta! Mana cukup?”
Itu Pola Pikir Miskin..
“Sebulan dapet 4.5juta. Dicukup-cukupin bisa lah.. :D”
“Alhamdulillah rejeki ada aja. Semua cukup.”
“Gaji sekarang kalau dihitung-hitung sih kurang, tapi ada aja tambahan rejeki. Puji Tuhan.”
“Gaji pokoknya kecil, tapi bisa lembur. Cukup banget deh jadinya.”
Itu Pola Pikir Kaya..
Lihat nggak bedanya?
Intinya, kalau kita mencukupkan diri kita, kita akan cukup. Kalau kita selalu merasa kurang, maka kita akan kekurangan terus.
Bukan keadaannya, tapi pola pikirnya.
Jadi, si mas-mas dari Depok itu, kalau pola pikirnya terus begitu ya uangnya nggak akan cukup, dia akan terus merasa kurang. Itu kenapa mama kasian sama dia. Hehehe. *pukpukmasnya*
Lalu, materi nggak penting Lan?
LOH SIAPA BILAAAANGG??
Materi tu penting!!
Kalau nggak, saya nggak bisa dapet sepatu idaman yang bikin saya orgasme hanya dengan membuka bungkusannya saja.
Kalau nggak, saya nggak bisa beli kalung dan baju lucu di Bali.
Kalau nggak, saya nggak bisa bayar tiket ke Singapore.
Kalau nggak, saya nggak bisa bayar kosan.
Kalau nggak, saya nggak bisa nyicil apartemen.
Kalau nggak, saya nggak bisa pamer barusan ini.
Ihihihi.. *peace*
Materi itu penting, tapi bukan yang terpenting. 
There’s more to life than what meets the eye.
Materi itu penting, tapi jangan biarin orang mendefinisikan kalian dari materi. 
Because once it’s gone, so are you.
Tah kitu.. *keren nggak saya? :D*
So, it’s all in your mind..
Berpola pikir kaya ya kalian akan cukup.
Berpola pikir miskin ya kalian akan wassalam. Seberapa pun banyaknya materi yang kalian punya.
Kayak kata Mbak Anggun, it’s all in your mind in youuurr miiiind… *tangan goyang ala-ala*

Salam kece!!

Senyum dulu ah.. 🙂
Advertisements