Ngaben..

Kalian tahu Ngaben dong, cemanceman?
Upacara kremasi di Bali yang huwaw sungguh terkenal sekali itu!
Seperti Mbak Angel Lelga di masa sekarang ini lah terkenalnya.
*eh ini ada apa kok Ngaben disamain sama Angel??*

Anyhoo, saat saya kabur ke Bali kemarin, saya ditawari ikut serta upacara Ngaben di Gianyar, di acara keluarganya Bli Ananta. Ingin sekali melihat secara langsung prosesi Ngaben ini, maka saya sebagai teman yang sangat baik tentu saja langsung minta dijemput sama bli. Huahahaha. *peace* (Btw, ke Gianyar ini, saya dijemput bli, dibayarin makan, dikasih kamar, diajak jalan, dan diantar balik bandara lagi.. Hihihi.. I know, saya beruntung banget ya.. *uyek-uyek bli*)

Setelah mengikuti prosesi ini, komentar saya cuma satu: Yampon ini prosesinya lama bingit!! Seharian lebih!! Hihihihi.

Malam sebelum acara, saya, bli, dan papanya bli datang ke rumah keluarga di mana jenazah disemayamkan. Di situ semua lek-lekan. Jenazah yang disemayamkan di rumah tidak akan ditinggal sendiri, jadi selama jenazah disemayamkan, selama itu pula keluarga dan tetangga bahu membahu begadang. Begadangnya rame-rame! Ada sepuluh orang lebih. Mulai dari yang ngobrol-ngobrol sampai main kartu, sampai ngezombie bengong-bengong, semua ada. Hihihi.

Jam setengah sepuluh malam saya sudah mulai mengantuk jadi ijin pulang duluan dan tidur.

Esoknya, saya memulai hari dengan membentuk alis biar ciamik pakai kebaya dan kain. Tadinya mau pakai kaos dan kain saja karena nggak bawa kebaya, eh mamanya Bli Ananta pinjamin saya kebaya biar nggak terlalu berbeda dengan orang lain katanya. Hehehe. *pakai dengan sukacita* *singset-singsetin badan* *padahal ga usah singsetin juga kebayanya agak kebesaran* 😀

Jam 11 kami mulai jalan ke tempat acara. Jam 12.15 siang baru dimulai prosesi memindahkan jenazah dari bangunan panggung di tengah rumah ke usung-usungan. Lalu dimulailah kirabnya. Usung-usungan ditandu lebih dari 30 orang menuju lapangan di makam. Saya dengan semangat jalan kaki sampai kira-kira beberapa saat baru menyadari, ebuset, ini jalannya akan jauh ya? Nggak ada yang mau boncengin akuh naik motor apaaa?? Huaaaaa.. Mana pakai kain dan kebaya pula di bawah teriknya sinar matahari Gianyar. Lengkap!! Lengkap lepeknya. Huahahaha. Sudah begitu, kacamata hitam saya ketinggalan di mobilnya bli, jadi mata saya meperipit terus nahan silau. Kece lah. :)) Untung papanya Bli Ananta baik banget nemenin saya di perjalanan sambil cerita-cerita ini itu jadi bahagia-bahagia saja lumpat-lumpat. Hihihi.

Sampai di lapangan, jenazah dipindahkan dari usung-usungan ke usungan lain berbentuk binatang. Bentuk binatangnya apa tergantung dari klan-nya. Keluarga Bli Ananta dari klan Pasak, bentuk binatangnya macan. Rawr!! Usung-usungan bentuk binatang ini yang nanti akan dibakar. Sayang ya. Iya. Hihihihi.

Setelah jenazah dipindahkan, didoakan, lalu dibakar (ini kenapa saya kayak ngomongin cara masak memasak?!). Selesai dibakar, mulai dipisahkan antara tulang dan abu. Tulang lalu dihancurkan, dimasukkan ke dalam kelapa, dan didoakan kembali.

Yang terakhir, kelapa diusung lagi (oke, kali ini diusungnya melewati dua perempatan saja..phew..) kemudian dengan mobil, dibawa ke pantai. Sampai di pantai, ada doa lagi baru kemudian dilarung.

Sounds practical?
Yep!
Was it practical?
Nope!

Hihihi.

Itu kami sampai di pantai saja sudah sore dong. Maghrib gitu lah selesainya melarung. Jadi acara berlangsung mulai jam11an sampai kira-kira jam7malam. Saya sempat kena heatstroke pula. Jadi cuma duduk sambil bengong-bengong bego gitu merindukan empuknya kasur di kamar Bli Ananta di rumah. Hahaha.

Setelah melarung lalu acara selesai?
BELOOOOOM!!!
Masih ada acara di rumah. Hahahahazzzzzzzz.. *ketiduran*

Untung papanya Bli Ananta punya ide cemerlang! Kami tidak akan ikut acara di rumah lagi dan kami ke arah yang berbeda yaitu menuju …… restoran!! Huahahaha.. *peyukpeyuk papanya bli* *makan malam dengan lahap*

Rangkaian acara Ngaben itu memang panjang dan tentu melelahkan. Tapi nggak ada yang mengeluh selama mengikuti acara, itu yang saya kagumi. Mana kebaya perempuan Bali itu kan ketat badan (kebaya HOT kalau kata Bli Ananta) jadi bayangin pakai kebaya ketat bahan brokat yang nggak menyerap keringat seharian! Fiuh! Belum jalan kakinya. Belum duduk tegak (saya dari mulai duduk anggun sampai duduk bersila dong, belum aja duduk mekangkang..hihihi). Belum berdiri. Belum (agak) kehujanan. Belum kepanasan. Belum kelaperan. Tapi kalau kelaperan jadi bingung. Kalau makan nanti ndut, perutnya belipet, ga oke pakai kebaya ketat badan kalau perutnya belipet. Tapi kalau nggak makan, laper. Piye? Itu dilematis banget kan. Persoalan dunia pertama! 😥 Tapi sekali lagi, nggak ada yang mengeluh. 🙂

Satu yang saya lihat juga, ikatan kekeluargaan di Bali itu kuat sekali. Keluarga datang dari mana-mana. Ya bayangin saja, bli yang tinggal di Jakarta saja sampai pulang ke Gianyar demi ikut serta di acara ini. Dan semua yang datang mengikuti dengan cerah ceria dan senang. Itu juga yang awalnya bikin saya bingung. Ini kan acara yang dalam bayangan akan penuh haru ya, tapi kok nggak kelihatan haru birunya. Kata Bli Ananta, ‘In Bali, death is celebrated as big and as happy as baby born.’

It was festive!
It was (somehow) joyful.
Sebahagia ketika larung selesai, saya mendengar seorang anak kecil (cucunya kakek yang meninggal) melambaikan tangannya ke arah pantai sambil berujar ceria, “Dadah Pekak (kakek), dadaaaah!! Dadaaaah!!”
Aha! Another perspective in dealing with lost.. 🙂

Senyum dulu ah.. 🙂
– Bulan –
– yang akhirnya merasakan pakai kebaya dan kain di pantai –
Hihihi.. :p

Advertisements