Siap Punya Partner Bule?

Terinspirasi tawa (bernada ‘kok sama?’) dari post Mbak Fe bertajuk ‘Masih Mau Jadi Bini Bule?’ di sini, semalam saya memutuskan untuk akan juga berbagi tawa di post ‘Siap Punya Partner Bule?’ ini.

Partner saya sekarang, Costa, lelaki berdarah Italia. Saya sendiri, Bulan, perempuan berdarah merah marun nan lucu dan imut dari latar belakang kedaerahan yang susah dimengerti. Ibu Yogya, Bapak Temanggung, lahir Jakarta, jadi saya orang mana?

Anyhoo, waktu akhirnya memutuskan menerima Costa, beberapa hal di bawah ini kejadian di kami dan saya pikir, ini lucu, jadi saya bagi di sini..

1. Pas saya dan Costa lagi antri mau beli tiket nonton di sebuah bioskop, seorang laki-laki di belakang saya, berusia sekitar tiga puluhan, berbicara dengan temannya dalam bahasa Jawa (yang tentu saja saya mengerti). Dari mulai berbicara tentang film apa yang akan mereka tonton, harga tiketnya, sampai kemudian ‘Nek depanku iki, regone piro yo?’ (kalau yang depan saya ini, harganya berapa ya?), saya cuma senyum dan geleng-geleng kepala lalu menengok santai ke masnya dan berkata dalam bahasa Kromo Inggil dengan suara kalem ‘Kulo mboten dipunsade, Mas..’ (saya tidak dijual, Mas).

Masnya kayak kaget karena saya bisa bahasa Jawa (alus pula). Dia langsung bingung dan karena saya masih menatap dia terus, dia akhirnya melipir minggir. Nggak jadi nonton. Hihihi. *maaf ya bioskop, saya bikin satu calon pelangganmu kabur* :p

————————————————————————————————————

Setelah kejadian itu, saya cerita ke Costa kalau di Jakarta ini, beberapa orang akan memandang saya dengan pandangan berbeda karena saya bersama bule. 
Suatu keadaan/pandangan yang menurut dia ‘stupid’. 
Hehehe.

————————————————————————————————————

2. Saya dan Costa makan malam di Bandar Djakarta Ancol. Ketika makanan sudah terhidang dan kami siap menyantap, ada seorang laki-laki India/Arab yang mau cuci tangan. Tempat cuci tangan itu harus melewati pondokan tempat kami duduk dan sepanjang dia jalan melewati kami sampai di depan tempat cuci tangan, matanya nggak lepas dari menatap saya. Ada apa ya?

Saya lihat dia balik, tanpa senyum, tanpa emosi, cuma saya liatin aja.
Costa kemudian noticing saya melihat itu laki terus dan bilang ‘Start eating, B. Stop staring.’ dan ganti dia yang melihat itu laki-laki dengan tatapan lurus menusuk! HAHAHAHAHA.

Itu laki-laki menunduk pas dilihat Costa dan sepanjang jalan balik ke kursinya nunduk terus. :p Ih cemen!

3. Waktu Costa mau ke Jakarta (iya, demi saya… makanya saya luluh.. hihihi), dia minta saya pesankan penginapan. Dan karena saya dari lama penasaran sama hostel bernama Six Degrees yang ada di bilangan Cikini, maka saya pesankan ia kamar di sana. Sebulan setelah Costa datang, dua teman saya dari Jerman juga akan datang dan mereka juga minta saya cariin tempat menginap. Kalau ternyata hostel ini sebagus fotonya kan saya menghemat tenaga untuk cari penginapan lain. Jadi sekalian gitu. 😛

Pas hari kesekian kami jalan-jalan, saya mengantar Costa balik ke hostel dan saya ingin sekali buang air kecil. Saya minta Costa tanya ke resepsionis apa saya boleh menumpang peepee di sana. Dijawab boleh. Maka saya masuk.

Ketika selesai, masih menunggu Costa selesai membereskan barang-barang, saya iseng nanya ke seorang mbak yang ada di balik meja penerima tamu.

Saya: Mbak, di sini ada kamar private?
Mbak (muka jutek, nggak melihat ke arah saya pun): Ada!
Saya: Berapa ya itu harga per malamnya? Teman saya kemungkinan bulan depan mau menginap sini juga.
Mbak: Langsung aja liat di website. Di sana ada. Suruh langsung liat aja temannya. Nggak bisa liat di sini!

BUSET!!
JUTEK AMAT MBAK!!

Saya terhenyak.
Agak emosi.

Tapi saya tahan.

Lalu saya ngeloyor ke luar abis dia jutekkin, masuk mobil dan kesal. Costa datang, melihat perubahan mimik muka saya, bertanya ada apa, dan saya nggak berani cerita. Takut dia masuk dan ngamuk sama tu mbak-mbak. Huahahahaha. See mbak, you were saved by an angel!! And the angel was me, of course.

Hihihi.

Kelar sudah, dua teman saya yang dari Jerman nggak saya pesankan kamar di sana. Mbak itu sudah menutup jalur rejekinya. Silakan.

Ain’t my problem.

————————————————————————————————————

Jadi, begitulah nasib punya partner bule dan tinggal di Jakarta.

Sakit hati?
Enggak juga. Saya masih santai (kecuali sama mbak-mbak hostel itu).

Kalian gimana, siap punya partner bule? :p
Hihihi..

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements