Sungai Gangga dan Kemahaannya..

Beberapa orang menanyakan ke saya kenapa saya suka India. Saya jawab, India itu sweet salty in a mysterious way; dan saya suka perpaduan ini. Di India, saya bisa tersenyum bersama tiga pengemis anak-anak yang fokus belajar mengucapkan 1-10 dalam Bahasa Inggris dengan saya. Di India, saya bisa melihat keindahan orang menepuk santai badan sapi dan menaruh tangan yang sama di dahinya seraya berdoa dengan takzim. Di India, saya bisa tertawa keras setiap kali mendengar suara klakson yang bersahutan – dan yakinlah hal ini jamak adanya. πŸ˜€ Dan di India saya bisa belajar untuk terus mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi dalam hidup saya.

Sungai Gangga adalah salah satu tempat terbaik yang meninggalkan kesan mendalam dalam memori saya.

Saya berkunjung ke Varanasi, kota di pinggir sungai Gangga, dengan menumpang kereta malam dari Kolkatta. Kota yang memiliki nama lain Benares dan Kashi ini ramai tidak hanya dengan penduduknya, namun mengingat posisi dan predikatnya sebagai salah satu dari tujuh Kota Suci, juga ramai oleh para pelancong spiritual. Pilihan untuk ke Varanasi saat itu adalah untuk bisa melihat sendiri Sungai Gangga yang tersohor.

Ketika pagi menjelang, kereta yang saya tumpangi berada di jembatan di atas sebuah bentangan sungai yang lebar. Seketika itu juga seluruh penumpang di sekeliling saya melihat ke arah sungai, menangkupkan tangannya, mengambil udara dari arah sungai, dan menaruhnya di dahi lalu berdoa. Saya terperangah. Inikah Gangga?

‘Is this the Ganges?’ tanya saya pada penumpang di depan saya setelah ia selesai berdoa dengan khusyuk.
‘Yes. It is.’ jawabnya dengan senyum penuh kebanggaan. Dan saya melihat penumpang lain tersenyum pada saya dengan kilat mata penuh bahagia.

Inilah Sungai Gangga.

Airnya berwarna coklat, pinggirnya penuh bangunan yang saling berdekatan. Banyak orang terlihat menceburkan diri dalam sungai ini, sapi juga. Tidak hanya itu, banyak pekerja yang mencuci baju dan sprei di pinggir Sungai Gangga. Ada juga anak kecil yang tengah menyikat gigi dengan air sungai ini.

Yang sudah jadi rahasia umum adalah keberadaan isi lain di Gangga. Sungai Gangga tidak hanya dipenuhi manusia di pinggirnya, tetapi juga di dasarnya. Sebegitu sucinya sungai ini maka ia menjadi pilihan tempat berlabuh terakhir banyak umat Hindu di India. Jika orang meninggal karena hal yang umum maka mayat bisa dibakar di ghat-ghat yang tersedia di pinggir Sungai Gangga lalu abu dimasukkan ke sungai. Namun untuk orang yang meninggal karena penyakit tertentu yang menular, maka ia tidak bisa dibakar melainkan batu digantungkan di kakinya dan ia dimasukkan ke dalam sungai. Itulah mengapa banyak yang mengatakan Sungai Gangga dipenuhi mayat. Kalau sungai sedang surut (atau ikatan batu terlepas dari kaki), mayat-mayat ini bisa terlihat atau naik ke permukaan.

Tapi bukan banyaknya mayat di Sungai Gangga ini yang menjadi pesonanya. Saya melihat pesona Gangga adalah tentang betapa seluruh lautan manusia yang berbondong-bondong datang untuk membasuh tubuhnya dengan air sungai ini memiliki keyakinan besar bahwa air ini suci, mengesampingkan segala hal yang berada di dalamnya atau yang sudah berpotensi mencemarinya. Air sungai ini suci. Titik. Tidak perlu ada bantahan mengenainya.

Keyakinan mereka yang datang dari tempat yang jauh untuk berdoa dan mencecap air Sungai Gangga adalah sebuah kemahaan. Harga mati. Mereka masih memiliki keyakinan ini, sesuatu yang berat diterima banyak pemikiran-pemikiran rasional di masa sekarang. Tidak perlu didebat karena keyakinan ini bersifat personal.

Saya menghormati keyakinan mereka maka saya menghormati Sungai Gangga.
Sebuah keindahan akan sebuah keyakinan.
Hanya mereka yang mengerti. Hanya mereka yang bisa.
Karena ini keyakinannya.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements